CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Di Mimika, Papua Tengah, ternyata masih banyak warga masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Bagaimana tidak, di tengah Kota Timika yang penuh dengan drama kesenjangan sosial, masih ada masyarakat di beberapa wilayah lainnya di dalam kota yang melarat.
Jika di wilayah kota kebanyakan orang setiap harinya bersaing berangkat pagi pulang sore ataupun malam untuk mengejar upah di akhir bulan, sejumlah wilayah lainnya di kota Timika justru tidak bernasib mujur.
Salah satunya adalah warga masyarakat di Distrik Kwamki Narama. Tentunya, kondisi ini sangatlah memprihatinkan.
Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Distrik Kwamki Narama, Yulius Hagabal kepada wartawan, Kamis (24/7/2025).
Yulius Hagabal menyebut 80 persen warganya masuk dalam kategori miskin esktrem dan masih mengandalkan bantuan dari pemerintah.
Seperti diketahui, mayoritas masyarakat yang mendiami wilayah ini adalah Orang Asli Papua (OAP).
Sedangkan, warga non OAP di wilayah ini bisa dihitung dengan jari.
Dijelaskan, kebanyakan masyarakat OAP di Distrik Kwamki Narama tidak memiliki pekerjaan sehingga tidak ada penghasilan yang dapat menunjang perekonomian mereka.
Buntut kondisi ini, bantuan pemerintah masih menjadi andalan masyarakat, baik bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Mereka sangat menunggu (bantuan pemerintah,red). Saya bisa menggolongkan mereka masuk ke dalam kemiskinan ekstrem itu,” ujar Yulius.
Yulius bilang, dari ribuan masyarakat di Kwamki Narama, yang memiliki pekerjaan hanya sekitar lima puluhan orang.
Dari angka tersebut, hanya sekitar 10 orang yang bekerja di pemerintahan maupun perusahaan swasta yang berada di Kabupaten Mimika.
Sisanya tidak memiliki pekerjaan lantaran banyak yang berstatus janda, duda hingga lanjut usia (lansia). Bahkan, ada juga warga yang dalam kondisi tidak layak bekerja.
Kata Yulius, salah satu contoh kasus yang dapat menggambarkan kondisi kehidupan masyarakat di wilayah itu adalah dalam satu rumah bisa ditinggali lebih dari 1 atau 2 kepala keluarga.
Bahkan, Yulius menyebut jika saat ini rumah yang ditinggalinya sudah menampung sekitar 15 kepala keluarga.
Upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Distrik Kwamki Narama adalah dengan memberikan bantuan beras.
“Itulah yang saya sebut masyarakat 80 persen ekonomi paling lemah,” ujar Yulius.
Atas kondisi ini, Yulius meminta agar pemerintah dapat mencarikan solusi untuk mengatasi keterbatasan ekonomi masyarakat di sana.
Editor : Gratianus Silas