Hujan Ringan Mulai Turun, Hotspot Karhutla di Papsel Turun Signifikan

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 10:21 WIB
Rivandy Andu Risty. (CEPOSONLINE.COM/SULO)
Rivandy Andu Risty. (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di Provinsi Papua Selatan mengalami penurunan signifikan. 

Berdasarkan rekapitulasi pemantauan terbaru, tercatat sebanyak 1.039 titik panas, turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 2.766 titik.

Meski mengalami penurunan, Kabupaten Merauke masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 816 titik. Sementara itu, Kabupaten Mappi berada di urutan kedua dengan 128 titik, disusul Kabupaten Boven Digoel sebanyak 95 titik.

Penurunan ini terjadi di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Papua Selatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih berpotensi terjadi, terutama di wilayah yang belum mendapatkan hujan.

Prakirawan BMKG Merauke, Rivandy Andu Risty, mengatakan penurunan jumlah hotspot dalam pemantauan terbaru cukup signifikan jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.

“Untuk hari ini, total rekapitulasi hotspot berada di angka 1.039 titik. Jika dibandingkan dengan kemarin yang mencapai 2.766 titik, penurunannya sangat signifikan,” ungkap Rivandy saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan BMKG, hujan dengan intensitas lokal hingga ringan mulai terjadi di wilayah utara Provinsi Papua Selatan, khususnya Kabupaten Asmat dan Boven Digoel. 

Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan jumlah hotspot.

“Berdasarkan pantauan kami, kemarin di wilayah utara Provinsi Papua Selatan, seperti Asmat dan Boven Digoel, memang sudah terjadi hujan lokal maupun ringan. Berdasarkan kondisi tersebut, kemungkinan itu yang menyebabkan jumlah titik panas mengalami penurunan,” jelasnya.

Sementara itu, untuk Kabupaten Mappi, kondisi cuaca masih terpantau berawan dan belum menunjukkan adanya hujan berdasarkan pemantauan. 

Berbeda dengan wilayah utara yang mulai mendapatkan hujan, Kabupaten Merauke masih harus menghadapi kondisi kering. Masyarakat pun diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Karhutla selama curah hujan belum merata.

Musim Hujan Diprakirakan Bergerak dari Utara ke Selatan

Rivandy menjelaskan, awal musim hujan di wilayah Papua Selatan diprakirakan berlangsung secara bertahap, mulai dari wilayah utara hingga ke bagian selatan.

Untuk wilayah Merauke, awal musim hujan diprakirakan baru tiba pada periode dasarian ketiga Desember. Dasarian merupakan pembagian waktu selama sepuluh hari dalam satu bulan.

“Awal musim hujan di wilayah kita diprakirakan mulai dari utara, kemudian bergerak ke bagian selatan. Untuk Merauke, perkiraannya sekitar dasarian ketiga atau sekitar tanggal 22 Desember,” terangnya.

Dengan prakiraan tersebut, masyarakat Merauke masih perlu bersiap menghadapi kemungkinan berlanjutnya kondisi kering dalam beberapa waktu ke depan. Apalagi, hujan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah belum berarti seluruh kawasan Papua Selatan telah memasuki musim hujan.

Ia juga mengingatkan bahwa awal musim hujan tidak sama dengan puncak musim hujan. Karena itu, masyarakat tidak boleh langsung beranggapan bahwa risiko kebakaran lahan akan hilang sepenuhnya begitu hujan mulai turun.

Fenomena El Nino Perlu Diwaspadai

Selain menjelaskan perkembangan hotspot dan prakiraan awal musim hujan, Rivandy mengingatkan bahwa kondisi iklim yang dipengaruhi fenomena El Nino perlu menjadi perhatian masyarakat.

Menurut dia, musim hujan kali ini berpotensi memiliki karakteristik yang berbeda dari kondisi normal. Hujan tidak serta-merta turun dengan intensitas tinggi dan merata di seluruh wilayah.

“Perlu diketahui, pada musim hujan kali ini kita masih berada dalam fase El Nino. Kondisi ini membuat karakteristik musim hujannya bisa seperti musim hujan yang masih dipengaruhi kemarau, sehingga diprakirakan tidak langsung terjadi hujan yang sangat lebat,” katanya.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap mengantisipasi berbagai potensi bencana hidrometeorologi ketika hujan mulai turun. 

Persiapan perlu dilakukan sejak dini, terutama dengan memastikan saluran air berfungsi baik dan tidak tersumbat sampah.

“Ketika menghadapi musim hujan, masyarakat tetap perlu memperhatikan saluran air, sampah, dan hal-hal lainnya untuk menghindari bencana hidrometeorologi,” tambahnya.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca dari kemarau menuju musim hujan juga membutuhkan kesiapsiagaan. Di satu sisi, hujan diharapkan dapat membantu mengurangi risiko karhutla, tetapi di sisi lain, masyarakat juga harus mengantisipasi kemungkinan genangan maupun bencana lain akibat hujan.

Merauke Masih Perlu Waspada Karhutla

Tingginya jumlah hotspot di Kabupaten Merauke menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan masih diperlukan. 

Dari total 1.039 titik panas yang tercatat di Papua Selatan, sebanyak 816 titik berada di Merauke atau menjadi jumlah tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya dalam rekapitulasi tersebut.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, terutama ketika kondisi cuaca masih kering dan hujan belum turun secara merata.

Penurunan jumlah hotspot juga perlu dicermati berdasarkan perkembangan cuaca dan hasil pemantauan berikutnya. Berkurangnya titik panas dalam satu hari tidak serta-merta berarti seluruh potensi karhutla telah berakhir.

BMKG mengharapkan masyarakat tetap mengikuti informasi cuaca dan perkembangan musim, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi lingkungan. (*)

Editor : Elfira Halifa
karhutla BMKG