CEPOSONLINE.COM, MERAUKE - Di dalam sebuah inkubator, sejumlah anakan burung paruh bengkok terbaring dengan tubuh mungilnya.
Sebagian sudah mulai ditumbuhi bulu, sementara yang lainnya masih tampak lemah dan membutuhkan perawatan intensif. Setiap beberapa jam, anakan burung tersebut harus mendapatkan asupan makanan yang disuapkan secara langsung agar dapat bertahan hidup.
Di balik pemandangan itu, ada upaya penyelamatan satwa liar yang dilakukan Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Selatan.
Sebanyak 115 butir telur burung paruh bengkok yang diamankan dan ditetaskan menjadi bagian dari upaya menyelamatkan satwa yang dilindungi tersebut.
Namun, proses penetasan tidak berjalan mudah. Dari 115 butir telur yang ditangani, hanya 35 butir yang berhasil menetas. Dari jumlah tersebut, 15 anakan kemudian mati, sedangkan 20 ekor lainnya masih bertahan hidup dan terus mendapatkan perawatan.
Risky, Paramedik Karantina Hewan Pemula pada Balai Karantina Papua Selatan, menjelaskan bahwa salah satu kendala yang dihadapi dalam proses penetasan adalah kondisi telur yang terlalu lama berada di luar sebelum dimasukkan ke dalam mesin penetas.
Menurut dia, beberapa telur bahkan sudah berada di luar selama sekitar tiga hingga empat hari sebelum mendapatkan penanganan menggunakan mesin tetas. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak telur gagal menetas.
“Telur-telur ini sudah beberapa hari berada di luar sebelum dimasukkan ke mesin tetas. Ada yang sekitar tiga sampai empat hari, sehingga banyak yang tidak berhasil menetas,” jelas Risky.
Pengalaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas karantina dalam menangani telur burung yang membutuhkan perlakuan khusus. Tidak semua telur mampu bertahan hingga proses penetasan selesai, meskipun telah ditempatkan di dalam mesin penetas.
Berdasarkan catatan penanganan, dari salah satu kelompok telur yang ditahan pada tanggal 20, sebanyak 30 butir telur ditangani. Dari jumlah tersebut, 18 butir berhasil menetas, sedangkan 12 butir lainnya tidak menetas. Dari anakan yang berhasil menetas, enam ekor kemudian mati.
Sementara itu, dari kelompok telur yang ditahan pada tanggal 23, sebanyak 17 butir berhasil menetas. Namun, sembilan anakan mati dan hanya delapan ekor yang bertahan hidup.
Secara keseluruhan, dari 115 butir telur yang ditangani, sebanyak 35 anakan berhasil menetas. Setelah mengalami kematian sebanyak 15 ekor, kini tersisa 20 anakan yang masih hidup.
Dari 20 anakan tersebut, sebanyak 18 ekor merupakan burung cenderawasih jambul kuning dan dua ekor lainnya adalah nuri bayan.
Di balik angka 115 telur yang ditangani, 35 anakan yang berhasil menetas, dan 20 ekor yang masih bertahan hidup, terdapat pekerjaan panjang yang membutuhkan ketelitian, waktu, dan kesabaran.
Kini, nasib 20 anakan burung tersebut masih bergantung pada perawatan intensif yang diberikan petugas. Setiap jadwal pemberian pakan menjadi bagian dari upaya mempertahankan kehidupan mereka, sembari menunggu tahapan penanganan dan tindak lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Upaya ini sekaligus memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa liar bukan sekadar memastikan telur menetas, tetapi juga memastikan kehidupan yang berhasil diselamatkan itu memiliki kesempatan untuk terus tumbuh dan berkembang.(*)
Editor : Elfira Halifa