Armada Terbatas, Satpol PP Papua Selatan Kewalahan Tangani Karhutla

Yulius Sulo • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 14:39 WIB
Asap Karhutla di Merauke 
(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Asap Karhutla di Merauke  (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua Selatan menghadapi keterbatasan armada dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di wilayah tersebut. 

Dengan hanya mengandalkan satu armada, petugas harus bekerja ekstra untuk memenuhi laporan kebakaran yang hampir terjadi setiap hari.

Kepala Satpol PP Provinsi Papua Selatan, Elias Refra, mengatakan pihaknya tetap berupaya memberikan pelayanan meskipun menghadapi keterbatasan sarana, personel, hingga kesulitan mendapatkan air di lokasi kebakaran.

“Armada kami hanya satu. Selama ini pelayanan tetap berjalan. Hampir setiap hari ada dua sampai tiga kejadian kebakaran dan kami harus turun untuk memberikan pelayanan,” kata Elias Refra menjawab pertanyaan media ini, Senin (12/10/226)
.
Ia menjelaskan, keterbatasan armada membuat Satpol PP provinsi tidak dapat menjangkau seluruh lokasi kebakaran, terutama wilayah yang berada jauh dari pusat kota. 

Untuk penanganan di tingkat kabupaten, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten setempat.

Menurutnya, sejumlah laporan kebakaran juga datang dari wilayah lain, termasuk permintaan bantuan dari kawasan Boven Digoel dan Eligobel. Untuk memastikan penanganan tetap berjalan, Satpol PP Papua Selatan berkoordinasi dengan petugas dari tingkat provinsi maupun pusat.

Elias Refra mencontohkan, petugas yang melakukan penanganan kebakaran di kawasan Wapeko pada akhir pekan lalu terpaksa kembali ke kota setelah bekerja hingga sore hari. Selain kelelahan, belum tersedia tempat khusus bagi petugas untuk beristirahat dan bermalam di sekitar lokasi penanganan.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah provinsi dapat menyediakan tempat khusus bagi petugas agar mereka bisa beristirahat sekaligus tetap bersiaga di lapangan, terutama pada malam hari.

“Kami berharap ke depan ada tempat khusus bagi anggota untuk beristirahat. Kalau malam mereka bisa bermalam di sana sehingga dapat melakukan penjagaan dan penanganan secara maksimal,” katanya.

Terkait semakin meluasnya kebakaran, mantan Kasatpol PP Kabupaten Merauke ini menegaskan kondisi tersebut bukan semata-mata menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menangani karhutla. 

Luasnya wilayah terdampak dan besarnya kebakaran menjadi tantangan tersendiri, terlebih aktivitas kebakaran juga terjadi di kawasan hutan.

Ia menyebut Papua Selatan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) yang tinggi. Kondisi tersebut diperparah oleh kebakaran berskala besar yang menimbulkan asap dan berdampak pada kualitas udara di sejumlah daerah.

Menurutnya, asap kebakaran bahkan dilaporkan telah menyebar hingga ke wilayah lain, termasuk Jayapura. Pergerakan asap sangat dipengaruhi arah angin sehingga dampaknya dapat menjangkau daerah di luar Papua Selatan, bahkan berpotensi menuju Maluku dan wilayah lainnya.

Mengenai kemungkinan penetapan status darurat, Elias Refra mengatakan hal itu perlu dibahas dan dikoordinasikan secara jelas, terutama karena berkaitan dengan kebutuhan anggaran serta penanganan lintas kabupaten.

“Kami akan menyampaikan kepada Gubernur Papua Selatan. Kalau memang memungkinkan, mudah-mudahan bisa dilakukan penetapan status darurat,” ujarnya.

Ia berharap koordinasi antarpemerintah daerah dan instansi terkait terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat berjalan lebih efektif. Ketersediaan armada, dukungan personel, air, serta fasilitas pendukung bagi petugas menjadi kebutuhan penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
Dia juga mengajak masyarakat untuk berdoa agar hujan segera turun sehingga kebakaran dapat mereda dan dampak asap tidak semakin meluas.

“Kita semua berharap hujan segera turun agar kebakaran cepat berakhir dan masyarakat tidak semakin menderita akibat asap,” tutupnya.(*)

Editor : Agung Trihandono
Merauke Ceposonline.com karhutla