Dari 115 Butir Telur Paruh Bengkok, 35 Berhasil Menetas

Yulius Sulo • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 09:56 WIB
Irsan
(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Irsan (CEPOSONLINE.COM/SULO) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Modus penyelundupan satwa liar jenis paruh bengkok dari Papua mulai berubah. Jika sebelumnya satwa dibawa dalam kondisi hidup, kini pelaku menggunakan telur yang dikumpulkan dari alam untuk diselundupkan keluar Papua.

Kepala Karantina Papua Selatan, Irsan, mengungkapkan, petugas sebelumnya berhasil menggagalkan pengiriman sebanyak 115 butir telur paruh bengkok yang dibawa oleh seorang penumpang dengan tujuan Surabaya.

“Kalau dulu mereka membawa hewan hidup, sekarang penyelundupannya melalui telur. Ini modus baru yang menjadi kewaspadaan kita,” kata Irsan menjawab pertanyaan media ini, di Merauke, Rabu (7/10/2026). 

Menurutnya, perubahan modus tersebut menjadi perhatian petugas karena paruh bengkok merupakan satwa yang tidak diperbolehkan untuk dibawa keluar dari wilayah Papua.

Dikatakan, dari 115 butir telur yang berhasil diamankan, sebanyak 35 butir telah berhasil menetas. Seluruh anakan yang telah menetas tersebut hingga kini masih hidup dan mendapatkan perawatan dari petugas.

“Yang sudah menetas itu hidup. Jadi kami juga berusaha menjaga atau merawat yang sudah menetas ini dan nanti pada saatnya akan kami lepasliarkan,” jelasnya.

Sementara itu, telur yang belum menetas masih dalam pengawasan petugas. Pasalnya, masih terdapat sejumlah telur yang dinilai memiliki kemungkinan untuk berkembang dan menetas.

Petugas akan terus melakukan pemantauan hingga telur tersebut benar-benar tidak dapat menetas. Apabila ditemukan telur yang busuk, mati atau tidak berkembang, kondisi tersebut akan dicatat dan dibuatkan berita acara.

“Masih ada beberapa yang memang masih ada kemungkinan untuk berkembang. Jadi kita tunggu sampai menetas sampai benar-benar telur itu memang benar-benar tidak bisa menetas,” ujarnya.

Irsan menjelaskan, telur-telur tersebut bukan berasal dari kegiatan peternakan. Berdasarkan informasi yang diterima, telur dikumpulkan masyarakat dari alam, kemudian dikumpulkan oleh pengepul sebelum selanjutnya dibawa keluar Papua.

Masa pengeraman telur paruh bengkok diperkirakan berlangsung sekitar 35 hingga 40 hari. Karena itu, petugas masih memberikan waktu untuk melihat perkembangan telur yang tersisa.

Dalam penanganan lebih lanjut, Irsan mengaku akan terus berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) untuk menentukan langkah terhadap telur yang belum menetas maupun anakan yang telah berhasil diselamatkan.

“Jadi kami dengan KSDA bekerja sama untuk melaksanakan tindak lanjut, apa yang ke depan akan kita lakukan bersama,” katanya.

Sementara itu, sebanyak 35 anakan paruh bengkok yang telah berhasil menetas saat ini ditempatkan di Kagor untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan.

Irsan mengatakan, anakan tersebut nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya setelah dinilai siap dan setelah ada koordinasi dengan pihak terkait.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mencegah perdagangan dan penyelundupan satwa liar dari Papua, sekaligus menjaga keberlangsungan satwa endemik Papua di habitat alaminya. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
telur Merauke Ceposonline.com