CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Populasi sejumlah satwa liar di Papua Selatan, termasuk kangguru Papua (Macropus agilis), disebut mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada jumlah satwa di alam, tetapi juga memicu perubahan perilaku akibat tekanan terhadap habitat dan aktivitas manusia.
Perubahan perilaku itu membuat satwa yang sebelumnya relatif mudah ditemukan kini cenderung lebih sulit dijumpai karena memilih menjauh dan mencari lokasi yang dianggap lebih aman.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Merauke Y. Agung Widya mengatakan, belum ada Satwa endemik yang di Paoua Selatan yang punya, namun jumlahnya yang mengalami penurunan.
“Kalau dikatakan satwa endemik, sebenarnya kita di sini belum ada yang sampai punah. Ini lebih kepada populasinya yang semakin berkurang. Kemudian perilaku satwa juga berubah karena tekanan dan sebagainya,” kata Y. Agung Widya, ditemui di Kantornya, Jumat (18/9/2026).
Ia mencontohkan kangguru Papua (Macropus agilis). Dari sisi populasi, jumlah satwa tersebut diperkirakan mengalami penurunan. Tekanan berupa perburuan dan perubahan habitat membuat perilakunya ikut berubah.
Kangguru yang sebelumnya banyak beraktivitas di kawasan savana kini cenderung memilih kawasan peralihan atau ekoton, yakni wilayah pertemuan antara dua tipe ekosistem. Ketika mendeteksi keberadaan manusia, satwa tersebut akan segera berpindah menuju lokasi yang dianggap lebih aman.
“Kalau ada orang, dia cepat pindah ke lokasi yang aman. Dampaknya, satwa semakin mengalami perubahan perilaku,” ujarnya.
Ia mengatakan, perubahan kondisi habitat juga diduga memengaruhi karakteristik fisik satwa. Kangguru yang mampu beradaptasi dengan lingkungan akan menyesuaikan diri dengan kondisi habitatnya.
Namun, untuk memastikan perubahan ukuran tubuh maupun kondisi populasi secara ilmiah, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pengamatan menggunakan metode transek yang pernah dilakukan di sejumlah kawasan, kangguru masih dapat ditemukan dengan kepadatan sekitar satu individu per hektare pada habitat tertentu.
Meski demikian, angka tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk memperkirakan jumlah populasi kangguru di seluruh kawasan Taman Nasional Wasur. Penghitungan populasi harus mempertimbangkan tipe ekosistem dan habitat yang sesuai bagi satwa tersebut.
“Taman Nasional Wasur kan banyak tipe ekosistemnya. Kita melihat habitatnya itu apa. Jadi tidak bisa dipukul rata dengan luasan kawasan Taman Nasional Wasur,” katanya.
Ia menambahkan, hingga kini pihaknya masih memerlukan kajian yang lebih menyeluruh mengenai populasi kangguru di kawasan konservasi. Keterbatasan anggaran juga membuat kegiatan inventarisasi satwa dilakukan berdasarkan skala prioritas.
Selain kangguru, Papua juga memiliki sejumlah satwa khas lainnya, salah satunya ekidna atau landak Papua. Satwa tersebut terdiri dari ekidna moncong pendek dan moncong panjang.
Ekidna juga relatif sulit ditemukan karena merupakan satwa nokturnal atau lebih banyak beraktivitas pada malam hari. Karena itu, inventarisasi secara langsung di lapangan membutuhkan metode dan waktu pengamatan yang tepat.
“Kalau selama inventarisasi susah sekali, karena dia hewan malam. Tahun ini kami bersama BRIN juga ada rencana melakukan inventarisasi ekidna atau landak Papua,” jelasnya.
Sementara untuk kelompok burung, cenderawasih menjadi salah satu satwa yang mendapatkan perhatian melalui kegiatan inventarisasi. Data mengenai populasi dan persebarannya telah dikumpulkan dari kegiatan inventarisasi yang dilakukan sebelumnya.
Inventarisasi juga dilakukan terhadap beberapa jenis satwa lainnya, seperti mambruk dan kakatua putih merah di sejumlah wilayah Papua.
Kegiatan tersebut bertujuan mendapatkan gambaran mengenai kondisi populasi satwa di alam sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah konservasi.
Selain satwa khas Papua, ia menjelaskan bahwa rusa yang banyak ditemukan di Merauke bukan merupakan satwa endemik Papua.
Rusa tersebut merupakan satwa eksotik atau berasal dari luar Papua. Jenis yang dikenal di wilayah ini adalah Cervus timorensis.
Keberadaan rusa di Merauke berkaitan dengan sejarah introduksi satwa tersebut. Rusa yang berkembang di Merauke diperkirakan berasal dari NTT.
Karena tidak memiliki banyak predator alami di habitat barunya, populasinya sempat berkembang cukup cepat.
“Rusa itu eksotik spesies. Memang satwa dilindungi, tetapi hewan yang berasal dari luar, bukan asli Merauke,” katanya.
Meski populasinya juga menghadapi tekanan akibat perburuan dan semakin terbatasnya habitat, keberadaan rusa masih dapat ditemukan di sejumlah kawasan.
Ia menyebut beberapa kawasan konservasi masih menjadi tempat ditemukannya berbagai satwa liar. Karena itu, keberadaan kawasan konservasi dinilai penting untuk menjaga habitat dan populasi satwa di Papua Selatan.
“Habitatnya semakin sempit sekarang. Masih ada di kawasan-kawasan konservasi, seperti di Kimaam dan wilayah konservasi lainnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Weny Firmansyah