Tujuh Titik Api Terdeteksi di Taman Nasional Wasur

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 05:16 WIB
Acha Anis Sokoy. (CEPOSONLINE.COM/SULO)
Acha Anis Sokoy. (CEPOSONLINE.COM/SULO)  

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Sebanyak tujuh titik api terdeteksi berada di dalam kawasan Taman Nasional Wasur (TNW), Kabupaten Merauke, Papua Selatan, berdasarkan pemantauan satelit dalam 24 jam terakhir.

 

Kepala Balai Taman Nasional Wasur (BTNW) Acha Anis Sokoy mengatakan, pemantauan titik panas dilakukan secara rutin melalui sejumlah satelit yang memberikan pembaruan data setiap beberapa jam.

 

“Kalau kemarin sempat satelit menginformasikan hotspot atau titik panas nihil. Nihil, tetapi hanya dalam waktu sekitar enam jam. Setelah itu muncul lagi. Tadi malam sekitar pukul 19.00 WIT muncul tujuh titik api yang ada dalam kawasan Taman Nasional Wasur,” kata Acha Anis Sokoy ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/9/2026).

 

Dijelaskan, titik api tersebut tersebar di sejumlah lokasi. Dua titik berada di wilayah Kampung Kondo dan Tamerau, Distrik Naukenjerai. Kemudian tiga titik terpantau di sekitar Kampung Tomer dan Onggaya, yang juga berada di wilayah pesisir.

 

Sementara dua titik lainnya berada di sekitar pinggiran Trans Papua sebelum Kampung Yanggandur, tepatnya di sekitar kilometer 55. Dari hasil pemantauan, salah satu titik telah masuk kategori fire spot atau titik api.

 

Menyikapi kondisi tersebut, BTNW langsung mengerahkan petugas ke sejumlah lokasi untuk melakukan pengendalian dan pemadaman agar api tidak meluas.

 

“Kepala seksi kami panggil untuk bergerak ke sana membawa tim untuk melakukan upaya pengendalian, pemadaman di kilometer 55 dan satu titik itu ada di wilayah setelah Sam Leber, di Sota. Hari ini akan bergerak ke lapangan,” katanya.

 

Menurutnya, kebakaran di kawasan TNW menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas manusia. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika memasuki musim kemarau, saat vegetasi berupa rumput dan semak di kawasan savana mengering.

 

Ia menjelaskan, penggunaan api masih menjadi bagian dari aktivitas masyarakat, termasuk untuk mencari ikan maupun kebutuhan sehari-hari. Namun, api yang ditinggalkan dan kemudian tertiup angin dapat memicu kebakaran, terlebih dalam kondisi kawasan yang kering.

 

“Kita tidak bisa membatasi aktivitas manusia, terutama untuk di tanah Papua, api menjadi bagian dari budaya, kemudian api juga untuk sumber kehidupan. Masyarakat kadang mencari ikan, membakar ikan, kemudian api dibiarkan dan tertiup angin,” jelasnya.

 

Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terhadap ekosistem TNW. Kebakaran yang meluas dapat membakar vegetasi savana, semak dan kawasan rawa yang mengering, serta mengganggu habitat berbagai jenis fauna dan biota yang berada di dalam kawasan konservasi.

 

Dampak terhadap satwa tidak hanya berupa kematian langsung akibat api, tetapi juga hilangnya atau berubahnya habitat dan sumber pakan. Satwa yang mampu bergerak dapat berpindah mencari kawasan yang lebih aman, sementara satwa yang pergerakannya terbatas berisiko terdampak langsung oleh api.

 

Selain itu, kebakaran berulang dapat mengubah struktur vegetasi dan kondisi habitat apabila terjadi pada kawasan yang sama secara terus-menerus. Karena itu, pengendalian api sedini mungkin menjadi penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas dan berdampak terhadap kawasan konservasi.

 

Dalam penanganan kebakaran di TNW, petugas juga menghadapi kendala ketersediaan air. Kondisi ekosistem TNW yang didominasi savana dan rawa menyebabkan ketersediaan air sangat bergantung pada musim.

 

Saat musim hujan, sejumlah kawasan dapat berubah menjadi rawa, danau kecil maupun kolam. Namun ketika memasuki musim kemarau, kawasan tersebut mengering dan menjadi hamparan terbuka sehingga sumber air untuk pemadaman menjadi terbatas.

 

“Air itu kalau musim hujan menjadi rawa atau danau kecil, kolam. Begitu musim kemarau menjadi lapang semuanya dan air tidak ada,” ujarnya.

 

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BTNW mengandalkan dua unit kendaraan tangki untuk menyuplai air ke lokasi kebakaran. Selain itu, petugas juga menggunakan jet shooter, yakni perangkat seperti ransel yang berisi air untuk membantu proses pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan. 

 

Taman Nasional Wasur sendiri memiliki luas 431.426 hektar yang terdiri dari hutan, savana dan rawa yang membentang luas di bagian Timur dan paling Selatan Kabupaten Merauke. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
Merauke PAPUA SELATAN karhutla