Terbanyak Mappi dan Merauke
CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 25.838 hektare.
Data tersebut berdasarkan hasil perhitungan dan pemantauan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia terhadap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Papua Selatan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan Provinsi Papua Selatan Jujuk Rianto mengatakan, data luasan karhutla tersebut diperoleh pihaknya dari Kementerian Kehutanan RI melalui https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/.
“Data yang kami dapatkan dari Kementerian Kehutanan RI bahwa hutan dan lahan yang terbakar dari Januari-Juli seluas 25.838 hektare,” kata Jujuk Rianto kepada media ini, Rabu (12/8/2026).
Jujuk menjelaskan, sebagian kebakaran hutan dan lahan tersebut terpantau melalui satelit. Dari pemantauan tersebut, karhutla terjadi di sejumlah wilayah di Papua Selatan, di antaranya Kabupaten Mappi dan Kabupaten Merauke.
Menurutnya, data luasan karhutla tersebut merupakan hasil perhitungan Kementerian Kehutanan berdasarkan pemantauan yang dilakukan selama periode Januari hingga Juli 2026.
Ia menambahkan, pemantauan terhadap titik-titik panas dan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Papua Selatan terus dilakukan. Hal ini penting untuk mengetahui perkembangan karhutla sekaligus menjadi dasar dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Papua Selatan telah menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian karhutla melalui penguatan sinergi antarinstansi, peningkatan kesadaran masyarakat serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Jujuk sebelumnya mengatakan, keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha dan masyarakat.
Papua Selatan memiliki kawasan hutan, lahan gambut dan ekosistem yang penting untuk dijaga. Karena itu, pencegahan dan pengendalian karhutla menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.
Dengan luas karhutla yang mencapai lebih dari 25 ribu hektare hingga Juli 2026, pemantauan dan langkah pencegahan dinilai menjadi penting, terutama pada wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas melalui pemantauan satelit. (*)