CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kebotakan menjadi salah satu masalah rambut yang banyak dialami pria. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan usia, tetapi juga dipengaruhi faktor genetik dan hormonal.
Dokter Auda Rusdin, M.Biom., menyebut sekitar 70 persen pria di dunia berpotensi mengalami kebotakan rambut. Hal itu disampaikannya dalam podcast Room for Improvement di kanal YouTube Rory Asyari.
Menurut dr. Auda, faktor genetik dan hormonal menjadi penyebab yang paling banyak berperan dalam kebotakan pada pria.
“Yang sekarang-sekarang ini lebih banyak sih disebabin oleh genetik dan faktor hormonal terutama,” kata dr. Auda, dilansir dari RadarTuban, Minggu (27/9/2026).
Salah satu hormon yang berperan adalah dihidrotestosteron (DHT). Hormon tersebut dapat memengaruhi folikel rambut sehingga rambut secara bertahap menjadi lebih tipis hingga akhirnya mengalami kebotakan.
Meski faktor genetik tidak dapat dihilangkan, proses kebotakan masih dapat diperlambat dengan penanganan yang tepat.
Dokter dapat memberikan obat atau perawatan tertentu sesuai kondisi pasien untuk mengurangi pengaruh DHT terhadap folikel rambut.
Karena itu, kerontokan atau penipisan rambut sebaiknya tidak dibiarkan begitu saja. Pemeriksaan sejak awal dapat membantu mengetahui penyebab kerontokan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Selain faktor genetik dan hormonal, kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi kondisi rambut.
Penggunaan produk penata rambut terlalu lama tanpa dibersihkan, misalnya, dapat mempercepat kerusakan rambut. Produk tersebut sebaiknya dibersihkan sebelum tidur dan tidak digunakan sepanjang hari.
Pola hidup juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Diet berlebihan yang menyebabkan berat badan turun secara cepat dapat memicu kerontokan karena tubuh mengalami kekurangan nutrisi.
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol juga disebut dapat menjadi faktor yang mempercepat masalah kebotakan.
Menurut dr. Auda, penanganan kebotakan bergantung pada tingkat keparahan dan kondisi rambut pasien.
Jika rambut baru mengalami penipisan, dokter masih dapat memberikan obat atau melakukan perawatan tertentu. Namun, ketika bagian kepala sudah mengalami kebotakan hingga permukaannya licin, pilihan penanganannya menjadi lebih terbatas.
“Kalau masih penipisan biasanya kita akan melakukan treatment kayak dengan obat-obatan. Tapi kalau udah licin mau enggak mau kita harus transplant,” ujarnya.
Pada prosedur transplantasi rambut, rambut biasanya diambil dari bagian samping atau belakang kepala yang lebih resisten terhadap DHT.
Namun, jumlah rambut donor yang tersedia terbatas. Karena itu, dokter perlu menyesuaikan jumlah rambut yang diambil serta distribusinya dengan tingkat kebotakan pasien.
Kondisi tersebut membuat pemeriksaan sejak rambut mulai menipis menjadi penting. Penanganan lebih awal dapat membantu menentukan penyebab kerontokan sekaligus mencegah kondisi berkembang menjadi kebotakan yang lebih sulit ditangani.(*)
Editor : AdminDua