CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Memiliki penghasilan Rp3 juta per bulan, kerap dianggap membuat seseorang sulit menabung, apalagi menyisihkan uang untuk berlibur. Namun, kondisi tersebut tidak selalu demikian.
Dengan pengaturan keuangan yang tepat, penghasilan terbatas tetap dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, membayar kewajiban, hingga menyisihkan dana untuk menikmati waktu bersama keluarga.
Dilansir dari radarbogor.jawapos.com, Wakil Rektor III Institut Teknologi dan Bisnis Visi Nusantara (ITB Vinus) Bogor, Rizki Riyanto mengatakan, persoalan keuangan tidak semata-mata ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan.
Menurutnya, pola pikir, prioritas, serta kedisiplinan dalam mengatur pengeluaran juga memiliki peran penting.
Ia menyontohkan, seseorang dengan penghasilan Rp10 juta belum tentu memiliki tabungan jika seluruh pendapatannya habis sebelum akhir bulan.
Sebaliknya, jelas dia, orang dengan gaji Rp3 juta tetap dapat menyisihkan uang apabila mampu mengatur pengeluaran secara disiplin.
“Yang menjadi persoalan bukan hanya berapa besar penghasilan yang diterima, tetapi bagaimana kita mengatur dan menentukan prioritas dari penghasilan tersebut,” ujar Rizki kepada Radar Bogor, Selasa 22 September 2026.
1. Atur Gaji dengan Sistem Persentase
Salah satu cara yang dapat diterapkan, membagi pendapatan berdasarkan persentase. Untuk penghasilan Rp3 juta, misalnya, sebagian besar dapat dialokasikan terlebih dahulu untuk kebutuhan utama.
Rizki menyarankan, pembagian anggaran dengan pola 50 persen untuk kebutuhan pokok, 20 persen untuk tabungan atau investasi, 20 persen untuk cicilan maupun kewajiban, dan 10 persen untuk hiburan, termasuk dana liburan.
Dengan pembagian tersebut, jelas Rizki, pemilik penghasilan dapat mengetahui sejak awal ke mana uang akan digunakan. Cara ini juga membantu mengurangi risiko uang habis untuk pengeluaran yang tidak direncanakan.
Kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, transportasi dan tagihan bulanan sebaiknya menjadi prioritas. Setelah itu, dana untuk tabungan dan kewajiban perlu dipisahkan agar tidak tercampur dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
2. Tabungan Jangan Menunggu Sisa Gaji
Kesalahan yang sering terjadi adalah menabung menggunakan uang yang tersisa setelah seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi. Padahal, cara tersebut membuat tabungan sering kali tidak terbentuk.
Rizki menyarankan, agar tabungan langsung dipisahkan ketika gaji diterima. Dengan demikian, uang tersebut tidak ikut terpakai untuk kebutuhan lain. “Tabungan sebaiknya diperlakukan seperti kewajiban yang harus dibayarkan kepada diri sendiri.
Begitu menerima gaji, langsung sisihkan sesuai target yang sudah ditentukan,” katanya. Selain tabungan, masyarakat juga perlu memperhatikan beban cicilan. Untuk penghasilan Rp3 juta, cicilan idealnya tidak terlalu membebani arus kas bulanan.
Semakin besar porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar utang, semakin sempit ruang untuk memenuhi kebutuhan lain dan menabung.
3. Pangkas Pengeluaran Tanpa Menurunkan Kualitas Hidup
Menghemat bukan berarti harus menghilangkan seluruh aktivitas yang menyenangkan. Kuncinya, membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Contohnya, memilih makan di warung dengan harga terjangkau dibandingkan terlalu sering makan di tempat yang mahal. Penghematan juga dapat dilakukan dengan memasak sendiri, membawa bekal atau minuman dari rumah, serta memilih transportasi yang lebih ekonomis jika memungkinkan. Kebiasaan kecil tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun, jika dilakukan secara konsisten, pengeluaran yang berhasil ditekan dapat dialihkan untuk tabungan maupun kebutuhan lain. Belanja juga sebaiknya dilakukan dengan daftar kebutuhan yang sudah dibuat sebelumnya.
Cara ini, dapat membantu seseorang menghindari pembelian impulsif ketika berada di pasar, minimarket atau pusat perbelanjaan. Promo, diskon dan cashback pun dapat dimanfaatkan selama digunakan untuk kebutuhan yang memang sudah direncanakan.
Jangan sampai potongan harga justru membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
4. Tetap Bisa Menyisihkan Uang untuk Liburan
Bagi sebagian orang, liburan sering dianggap sebagai kebutuhan yang harus ditunda ketika penghasilan masih terbatas.
Padahal, kegiatan rekreasi tetap dapat dilakukan dengan menyesuaikan tujuan dan anggaran. Salah satu caranya adalah membuat pos khusus untuk liburan. Dari gaji Rp3 juta, misalnya, seseorang dapat menyisihkan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu setiap bulan sesuai kemampuan.
Jika dilakukan secara konsisten selama satu tahun, dana tersebut dapat terkumpul menjadi Rp1,2 juta hingga Rp2,4 juta. Jumlah itu dapat digunakan untuk perjalanan sederhana, terutama jika destinasi yang dipilih berada di sekitar tempat tinggal.
“Tidak perlu memaksakan diri pergi ke destinasi mahal. Yang penting tujuan liburan disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan direncanakan sejak awal,” tutur Rizki.
5. Liburan Hemat Bukan Berarti Mengurangi Kebahagiaan
Dengan dana terbatas, pilihan liburan dapat diarahkan ke tempat-tempat yang lebih terjangkau.
Wisata lokal, taman kota, pantai terdekat, kegiatan bersama keluarga, hingga perjalanan singkat di dalam kota dapat menjadi pilihan. Perencanaan juga menjadi bagian penting.
Mencari tiket, penginapan atau paket wisata sejak jauh-jauh hari dapat membuka peluang mendapatkan harga yang lebih rendah.
Menurut Rizki, menikmati waktu bersama keluarga atau orang-orang terdekat tidak selalu membutuhkan biaya besar. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan masa kini dan persiapan finansial untuk masa depan.
Pada akhirnya, penghasilan Rp3 juta bukan berarti seseorang harus mengorbankan seluruh kebutuhan rekreasi.
Dengan membuat anggaran, memisahkan tabungan sejak awal, mengendalikan cicilan dan mengurangi pengeluaran yang tidak penting, sebagian pendapatan tetap dapat dialokasikan untuk liburan. Prinsip utamanya adalah tidak menunggu memiliki gaji besar untuk mulai mengelola keuangan.
Kebiasaan menyisihkan uang dan membuat perencanaan sejak sekarang dapat menjadi langkah awal membangun kondisi finansial yang lebih tertata. (*)
Editor : Weny Firmansyah