Pembukaan Jalur Skyland Ditunda, Ini Penyebabnya 

Karolus Daot • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 08:33 WIB
Anggota Komisi IV DPR Papua Alberth Merauje  meninjau pekerjaan gorong gorong di jalur Skyland, Senin (7/9/2026) (CEPOSONLINE.COM/KAREL)
Anggota Komisi IV DPR Papua Alberth Merauje  meninjau pekerjaan gorong gorong di jalur Skyland, Senin (7/9/2026) (CEPOSONLINE.COM/KAREL)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Pembukaan jalur lalu lintas di kawasan Skyland, Kota Jayapura ditunda. Jalur yang sebelumnya direncanakan dapat difungsikan pada Senin (7/9/2026), belum dapat dibuka. Pasalnya,  pekerjaan pemasangan box culvert atau gorong-gorong belum rampung.

Supervisi Engineer Konsultan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Papua, Marinus Manda, menjelaskan, proses penurunan box culvert mengalami kendala karena berat setiap box mencapai lebih dari enam ton.

 Untuk menurunkannya, pihaknya harus menggunakan dua unit ekskavator.

"Karena tidak bisa menggunakan satu ekskavator, jadi kita pakai dua untuk saling membantu menurunkan box. Bebannya lebih dari enam ton per biji," jelas Marinus, saat ditemui anggota Komisi IV DPRP Alberth Merauje di lokasi proyek, Senin (7/9/2026)
 
Ia mengatakan, pemasangan 10 unit box culvert baru selesai hingga Minggu malam. Selanjutnya, pekerjaan akan dilanjutkan dengan penimbunan dan pemadatan secara bertahap sebelum jalur dapat difungsikan kembali.

Menurutnya, pembukaan jalan tidak bisa dilakukan terburu-buru karena hasil pemadatan harus diuji terlebih dahulu untuk memastikan kondisi tanah benar-benar memenuhi standar.

"Besok mungkin belum bisa dibuka. Kita selesaikan finishing, kemudian lusa baru mungkin bisa dibuka. Kita usahakan Rabu (9/9/2026)," katanya.

Marinus menegaskan, pihaknya menargetkan jalur dapat segera difungsikan meski pekerjaan penyelesaian seperti pengaspalan dan pembuatan sayap box culvert masih akan dilanjutkan setelahnya.

 "Yang penting jalan fungsional dulu. Setelah itu tinggal diselesaikan," ujarnya.

Selain pemasangan box culvert, BPJN Papua juga menyiapkan sistem pengendalian material dan sedimen untuk mencegah batu maupun pasir terbawa aliran air hingga kembali menutup badan jalan.

Marinus menyebutkan, pekerjaan tersebut akan dilengkapi pengendali batu di bagian atas serta bak kontrol sedimen yang nantinya dapat dibersihkan secara berkala oleh petugas.

 "Kita tidak mengganggu dasar kali karena berbahaya. Kita hanya membuat penahan dan pengendali material supaya batu dan pasir tidak sampai turun ke jalan," pungkasnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
Ceposonline.com kota jayapura skyline