CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Di sela kesibukannya usai menerima penghargaan dari Media Seven Indonesia di Bali, Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Jayapura, Nerlince Wamuar, memanfaatkan waktu untuk belajar langsung mengenai manajemen peternakan babi dari salah satu peternak sukses yang saat ini mengelola sekitar 4.000 ekor babi di Pulau Dewata.
Dalam kunjungan tersebut, ia memperoleh berbagai pengetahuan mulai dari sistem pemeliharaan, pemberian pakan, pengelolaan kandang, hingga pengolahan daging yang memenuhi standar pemasaran.
August juga membagikan pengalamannya dalam membangun usaha peternakan hingga mampu memasok puluhan ton daging babi setiap bulan ke salah satu jaringan supermarket besar di Jakarta.
"Saat ini kami memasok puluhan ton daging babi setiap bulan ke salah satu supermarket besar di Jakarta. Kuncinya ada pada manajemen pemeliharaan, kualitas pakan, dan pengolahan hasil ternak," ujar August saat berbincang dengan Nerlince di Bali, Minggu (19/7/2027).
Kunjungan tersebut semakin memantapkan tekad Nerlince untuk menghadirkan pelatihan peternakan babi bagi masyarakat Kota Jayapura.
Menurutnya, program tersebut bukan sekadar menjalankan agenda TP PKK, tetapi juga menjadi upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Nerlince mengaku memahami potensi usaha tersebut karena dirinya juga telah menggeluti peternakan babi dengan jumlah sekitar 125 ekor.
Ia berharap semakin banyak keluarga di Kota Jayapura maupun Papua yang menjadikan peternakan babi sebagai sumber pendapatan.
"Kalau bisa memelihara dalam jumlah besar tentu sangat baik, bahkan bisa memasok kebutuhan di wilayah Papua atau ke luar daerah. Tetapi kalau belum, setidaknya peternakan babi dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga," katanya.
Sebagai tindak lanjut, Nerlince berencana mengundang August Siswadi ke Kota Jayapura untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat termasuk pedagang daging babi yang ada di pasar mengenai teknik beternak babi yang baik dan berorientasi bisnis.
Menurutnya, Papua memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor peternakan babi karena didukung ketersediaan lahan, sumber pakan lokal, serta tingginya konsumsi daging babi di daerah tersebut.
"Kita memiliki lahan dan sumber pakan. Beternak babi juga bukan pekerjaan yang berat. Saya berharap setiap keluarga di Papua minimal memiliki ternak babi sebagai aset ekonomi," ujarnya.
Ia menilai, tingginya permintaan daging babi di Papua seharusnya menjadi peluang yang dimanfaatkan masyarakat lokal, bukan justru membuat mereka hanya menjadi konsumen.
Nerlince mencontohkan kondisi di Bali yang memiliki banyak rumah makan berbahan dasar babi dengan pasokan dari peternak lokal. Menurutnya, model serupa dapat dikembangkan di Papua sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal.
"Selama ini masyarakat piara babi secara tradisional, babi dibiarkan tanpa kandang. Kalaupun di kandang pakannya hanya sisa makanan, namun ternyata menurut pak August Siswadi itu pola yang salah. Jadi kita harus bikin pelatihan agar peternakan kita bisa berkembang," ujarnya.
Nerlince berharap Pemerintah Kota Jayapura dapat mendukung rencana pelatihan tersebut agar semakin banyak masyarakat yang mampu membangun usaha peternakan secara mandiri.
"Semoga program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi warisan ekonomi yang bermanfaat bagi generasi mendatang," pungkasnya. (*)
Editor : Agung Trihandono