Tato Tradisional Papua Pada Perempuan Perlu Dilestarikan Kepada Generasi Muda Saat ini
Tato merupakan salah satu budaya yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Oleh karena itu, tato sendiri memiliki nilai budaya yang tinggi, khususnya di Papua. Di Papua sendiri terdapat beberapa daerah yang memiliki tato perempuan dan memiliki nilai filosofi tersendiri. Apa saja daerah yang memiliki tato perempuan dan bagaimana nilai budayanya?
Laporan: Roberth Yewen
Budaya tato di pesisir utara Papua merupakan tradisi yang diperkenalkan oleh orang Austronesia dari Asia yang beremigrasi ke wilayah Papua pada masa prasejarah sekitar 3000 tahun yang silam. Arti tato sendiri adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit
Tato tradisional suku Sentani yang mendiami Kabupaten Jayapura yang biasa disebut enahu oleh penduduk setempat, saat ini mulai terlupakan. Pahalanya pengetahuan akan salah satu tradisi penduduk asli suku Sentani ini hanya terbatas pada orang yang sudah tua, sementara generasi muda sudah tidak ada lagi.
Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan, bahan pembuat enahu (tato) berupa arang hasil pembakaran kayu wam dicampur getah pohon suku. Kemudian duri sagu atau tulang ikan dicelupkan getah dan arang, lalu ditusukan pada dada, pipi, kelopak mata, betis, dan pinggul serta bagian belakang tubuh. Tato ini dibuat tiga bulan sebelum upacara perkawinan dilaksanakan.
Motif tato untuk perempuan Sentani yaitu gambar ikan sembilan, belut, dan burung cenderawasih. Fungsi tato tersebut adalah untuk mempercantik wajah pengantin wanita. Sedangkan lambang dari burung Cenderawasih maupun ikan adalah seorang wanita menjadi sumber kehidupan bagi anak-anak maupun masyarakatnya.
Sementara fungsi tato bagi pria adalah untuk membuat kegantengan pengantin pria. Tato untuk pengantin pria Sentani berbentuk buaya, ikan hiu gergaji, ular dan kasuari. Hewan-hewan ini melambangkan kejantanan dari seorang pria. Pengantin pria harus jantan dalam menghadapi tantangan hidup yang harus dihadapi dengan jiwa kejantanan sehingga mencapai kesuksesan yang besar.
"Desain tato disesuaikan dengan luas sempitnya bagian tubuh yang hendak ditato, misalnya, tato di hidung akan mengikuti bentuk hidung. Namun sayangnya tato tradisional Sentani hanya dikenal oleh generasi tua, generasi muda Sentani saat ini tidak mengenal tato tradisional," katanya kepada Cenderawasih Pos di Balai Arkeologi Papua di Kampung Waena Distrik Heram Kota Jayapura, Rabu (13/5) kemarin.
Lebih lanjut pria yang akrab disapa Soroto ini mengatakan, perhiasan tubuh yang lazim dikenakan, baik oleh laki-laki maupun perempuan Sentani adalah tato pada wajah dan beberapa bagian tubuh (tangan dan kaki) yang dibuat secara permanen. Tato adalah simbol kekuasaan, kecantikan, dan status sosial seseorang. Oleh karena itu, jenis dan bentuk tato tergantung pada status sosial (ondofolo, kotelo/kepala suku, dan yobu yoholom) dan jenis kelamin.
Tato ditorehkan secara tradisional, yaitu menggunakan duri sagu atau duri siapu (sejenis ubi yang berduri keras). Duri dicelupkan ke dalam arang kayu, kemudian ditusuk-tusukkan pada bagian badan yang hendak ditato. Laki-laki Sentani mempunyai tato yang lebih bercorak sederhana pada hidung dan dahi. Perempuan mempunyai tato yang lebih bercorak kompleks pada dahi, punggung, lengan, dan betis. Desain tato biasanya berbentuk pecahan ornamen, gambar binatang, dan lambang. Desain tato pun bergantung pada luas sempitnya bagian tubuh yang hendak ditato, misalnya, tato di hidung akan mengikuti bentuk hidung.
Tidak hanya tato tradisional dari suku Sentani, tetapi menurut Suroto ada juga tato dari suku Moi di Kota Sorong Provinsi Papua Barat. Saat ini hanya generasi tua suku Moi di Kota dan Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat yang masih menerapkan tato pada tubuhnya, sedangkan generasi mudanya sudah tidak menerapkan tato lagi, dan diperkirakan terancam punah.
Wilayah Kota dan Kabupaten Sorong dikenal dengan wilayah hukum adat Suku Moi atau lebih dikenal dengan suku Malamoi. Tato bagi suku Moi merupakan hiasan tubuh, dan bahan pembuat tato berupa arang halus (yak kibi) hasil pembakaran kayu dicampur getah pohon langsat (loum).
Suroto mengatakan, Motif tato ini berupa motif geometris atau garis-garis melingkar serta titik-titik berbentuk segitiga kerucut atau tridiagonal yang dibariskan. Sedangkan untuk desain tato disesuaikan dengan luas sempit bagian tubuh yang hendak ditato, misalnya tato di hidung akan mengikuti bentuk hidung.
Tidak hanya itu, ada juga pembuatan tato pada orang Waropen lebih banyak dilakukan oleh perempuan daripada laki-laki. Selama tahun-tahun pubertas para gadis Waropen membuat banyak tato di tubuh mereka.Tato tradisional ini tentu bermacam-macam jenis seperti lukisan tentang perahu, huruf, dan tulisan. Keduanya pada dada dan kaki serta pada lengan wajah. (*/wen)
Editor : Administrator