CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Di balik lantangnya suara orator yang bergema silih berganti, di lingkaran Abepura, Selasa (2/9/2025) sejak pagi hingga siang ini. Ada tuntutan lain yang tak terdengar, namun tergores jelas di atas kain dan kertas.
Bukan melalui pengeras suara, melainkan lewat tinta yang digoreskan pada spanduk dan flyer yang terbentang rapi.
Bahasa diam yang tak bersuara, tapi penuh luka dan makna ini lahir dari keresahan, harapan, dan doa yang diangggap terbungkam.
Kiasan-kiasan tersebut tertulis,
“Apa arti Merah Putih jika hanya menjadi tirai yang menutupi luka dan darah.”
“Hanya orang gila yang menganggap negara ini baik-baik saja #Lawan.”
“Kekerasan berulang di Papua.”
“Kasus kekerasan di Papua tak pernah berakhir.”
Ada pula coretan keresahan lain,
“Papua darurat militer, dan kekerasan menangani masa aksi di Sorong.
#SavePapua #RIPDemokrasi.”
“Dua mahasiswa disiksa dan ditahan Polisi di Yahukimo.”
“Mama saya takut, ada banyak polisi di rumah.”
“Bebaskan tahanan politik NRFPB
#SaveDemokrasi.”
“Papua sedang tidak baik-baik saja.”
“Bebaskan empat Tapol West Papua.”
“Warning! RIP Demokrasi, RIP Hukum
#SavePapua.”
“Bubarkan Parpol Otus Papua.”
Semua tulisan ini bukan sekadar kiasan. Ini adalah potret batin yang diuntai dengan keberanian, meski dibalut rasa takut.
Di tengah lingkaran aksi, suara teriakan bercampur dengan bahasa diam dari spanduk yang tergoyah oleh tiupannya angin siang ini.
Arus lalu lintas di sekitar Abepura saat ini masih tetap lancar, meski toko-toko di sekitar menutup pintu.
Aparat berseragam lengkap berdiri tegak, mengawal jalannya aksi agar tetap berada dalam bingkai kamtibmas.
Di balik semua itu, tersirat satu pesan yang tak bisa dipadamkan #Papua sedang tidak baik-baik saja (*)
Editor : Agung Trihandono