Tren Lari Terus Meningkat, Kesehatan Tulang dan Sendi Perlu Jadi Perhatian

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:23 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSINLINE.COM, JAYAPURA – Meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari mendorong perhatian terhadap kesiapan fisik pelari, termasuk kesehatan tulang dan sendi.

 

 

Melansir dari JawaPos.com, peningkatan jarak dan intensitas latihan tanpa persiapan yang memadai dapat meningkatkan risiko cedera, sehingga pengaturan beban latihan, pemulihan, dan pemenuhan nutrisi menjadi bagian penting dari aktivitas olahraga.

 

 

Data yang dikutip dari penyelenggara menunjukkan jumlah peserta BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) meningkat dari sekitar 15.000 pelari pada 2024 menjadi 31.000 pelari pada 2025.

 

 

 

Pada penyelenggaraan 13–14 Juni 2026, jumlah peserta dilaporkan melampaui 45.000 orang, termasuk 1.012 pelari internasional dari 52 negara.

 

 

Tren serupa terlihat pada myBCA Jakarta Running Festival (JRF).

 

 

Jumlah pesertanya 

dilaporkan meningkat dari 27.300 orang pada 2025 menjadi lebih dari 37.000 orang pada 2026. Pada BTN Jakim 2026, kategori half marathon sejauh 21 kilometer disebut menjadi kategori yang paling diminati.

 

 

Seiring bertambahnya peserta yang mengikuti lomba jarak jauh, kesiapan tubuh menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Pelari tidak hanya perlu meningkatkan daya tahan kardiovaskular, tetapi juga menyesuaikan beban latihan dengan kemampuan tubuh dan memberikan waktu pemulihan yang cukup.

 

 

“Banyak orang yang mulai menggandrungi olahraga endurance seperti lari maraton, namun seringkali mereka tidak membekali diri dengan asupan nutrisi yang memadai," ujar Medical Expert PT Pyridam Farma Tbk, dr. Carlinda Nekawaty dalam keterangan tertulisnya. 

 

 

Menurut dr. Carlina, pemenuhan nutrisi merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan oleh orang yang rutin berolahraga. Namun, keluhan pada sendi juga perlu ditangani dengan tepat, terutama jika nyeri berulang atau mengganggu pergerakan.

 

 

"Jika nyeri sendi terutama sendi lutut mulai terjadi dan dipaksakan terus-menerus tanpa penanganan, hal ini akan meningkatkan risiko komplikasi cedera yang mengancam mobilitas. Sangat penting bagi pelari untuk memahami apa yang dibutuhkan tubuh guna mengatasi potensi kerusakan sendi tersebut, mulai dari vitamin, mineral, hingga nutrisi pelumas sendi secara holistik,” ujar dr. Carlinda.

 

 

Meski demikian, penggunaan suplemen perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu dan tidak menggantikan pola makan seimbang, program latihan bertahap, istirahat yang cukup, maupun pemeriksaan medis ketika muncul keluhan. (*)

Editor : AdminDua
kesehatan OLAHRAGA