Balita Ikut Menanggung Dampak Karhutla, 62 Ribu Kasus ISPA Tercatat

Elfira Halifa • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 04:23 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 277.075 kasus.

 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

 

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 12 Oktober 2026 itu mencakup 63 kabupaten/kota di enam provinsi. Bahkan, pada tanggal yang sama, tercatat 4.486 kasus ISPA baru di wilayah terdampak karhutla.

 

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 73.392 kasus.

 

"Disusul Sumatera Selatan sebanyak 72.335 kasus dan Kalimantan Barat sebanyak 52.201 kasus," ujarnya dilansir dari Jawa Pos, Rabu (14/10/2026).

 

Selain tiga provinsi tersebut, Riau mencatat 31.285 kasus ISPA, Kalimantan Tengah 24.101 kasus, dan Kalimantan Timur 23.761 kasus.

 

Berdasarkan kelompok usia, penderita ISPA berusia di atas lima tahun mendominasi laporan di enam provinsi tersebut. Namun, jumlah kasus pada balita juga cukup besar, mencapai lebih dari 62 ribu kasus.

 

Di Kalimantan Selatan, misalnya, tercatat 56.404 kasus ISPA pada kelompok usia di atas lima tahun dan 16.988 kasus pada anak di bawah lima tahun.

 

Sumatera Selatan mencatat 55.766 kasus pada kelompok usia di atas lima tahun dan 16.569 kasus pada balita. Sementara itu, di Kalimantan Barat terdapat 41.276 kasus pada kelompok usia di atas lima tahun dan 10.925 kasus pada anak di bawah lima tahun.

 

Angka tersebut menunjukkan bahwa laporan gangguan pernapasan di wilayah terdampak karhutla juga mencakup kelompok usia anak yang memerlukan perhatian khusus.

 

Selain ISPA, Kemenkes juga mencatat sejumlah penyakit lain di wilayah terdampak karhutla. Penyakit tersebut meliputi pneumonia, diare akut, penyakit kulit, sakit mata, influenza-like illness (ILI), heat stroke, hingga keracunan pangan.

 

Untuk pneumonia, Kalimantan Selatan mencatat 1.229 kasus, tertinggi di antara wilayah yang ditampilkan dalam data. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 678 kasus dan Riau sebanyak 406 kasus.

 

Sementara itu, kasus diare akut terbanyak tercatat di Kalimantan Barat dengan 3.894 kasus, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 1.415 kasus.

 

Untuk penyakit kulit berupa gatal-gatal dan kudis, Riau melaporkan 667 kasus, sedangkan Sumatera Selatan mencatat 224 kasus.

 

Beragamnya penyakit yang dilaporkan memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan di wilayah terdampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Sejumlah penyakit lain juga tercatat dengan jumlah yang berbeda-beda di setiap provinsi. (*)

Editor : AdminDua
masker karhutla