Waspada! Penyakit Jantung Sering Muncul Tanpa Gejala, Begini Cara Untuk Mengatasinya

Agung Trihandono • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 11:32 WIB
Ilustrasi serangan penyakit jantung. (Ceposonline.com/ ANTARA/Pexels)
Ilustrasi serangan penyakit jantung. (Ceposonline.com/ ANTARA/Pexels)

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA – Seiring perubahan pola hidup dan pola komsumsi makanan, saat ini mulai banyak warga yang teserang penyakit jantung. Penyakit ini kini tidak hanya menyerang usia lanjut saja, tapi juga pada usia produktif. 

Ironisnya, penyakit jantung ini sering muncul tanpa gejala tertentu, bahkan pada orang yang merasa sehat belum tentu bebas dari risiko penyempitan pembuluh darah jantung.

Karena terlambat menyadari, penderita penyakit jantung ini sering tidak tertolong. Terutama disebabkan karena kurang paham dalam penanganan awal ketika penyakit ini muncul. 

Seperti dilansir Antara, Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah lulusan Universitas Padjajaran Dr. dr. Vito A. Damay, SpJP(K), Mkes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC mengingatkan pentingnya mengenali faktor risiko dan menjaga pola hidup, termasuk berolahraga, mengatur pola makan, mencukupi waktu tidur, serta berhenti merokok.

"Kalau kita mengubah pola hidup, tidur lebih teratur, menurunkan berat badan dengan komposisi yang baik, dengan latihan, olahraga, atur makan, kekakuan pembuluh darah mungkin bisa berubah," katanya di Jakarta, Rabu.

Dokter yang juga anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) tersebut mengatakan penyempitan pembuluh darah pada tahap tertentu dapat berlangsung tanpa gejala.

Ia mencontohkan, sekitar 30–40 persen penyempitan pembuluh darah belum tentu menimbulkan keluhan, sementara kondisi tersebut tetap berpotensi berkembang menjadi serangan jantung.

Menurut dia, tidak munculnya keluhan juga dapat terjadi karena seseorang jarang melakukan aktivitas fisik. Ketika seseorang lebih banyak duduk dan tidak berolahraga, kondisi pembuluh darah yang mulai menyempit belum tentu memunculkan gejala yang dapat dirasakan.

"Jadi karena tidak tahu, merasa tidak ada keluhan. Yang kedua, tidak pernah bergerak, atau sering terlalu lama duduk" katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga kesehatan jantung tidak cukup hanya dengan mengandalkan obat. Dari pengalamannya menangani pasien, ia menyebut sekitar 90 persen pasiennya tidak berolahraga.

Ia menambahkan bahwa olahraga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan, bersama dengan pengaturan pola makan.

Selain aktivitas fisik dan pola makan, dokter tersebut menyoroti tidur yang menurutnya kerap dianggap remeh. Ia memasukkan tidur bersama pola makan, aktivitas fisik dan stres sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan.

"Kemudian, tidur. Tidur kurang adalah faktor risiko (penyakit jantung). Tidur ini paling orang abaikan," katanya.

Ia juga mengingatkan mengenai kebiasaan merokok. Menurut dia, berhenti merokok merupakan salah satu perubahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko, meskipun sebagian orang merasa abai ketika terus diingatkan untuk berhenti. (*)

Editor : Agung Trihandono
kesehatan Ceposonline.com jantung