CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menemukan 360,7 ribu orang memiliki tanda dan gejala tuberkulosis (TBC). Temuan tersebut berasal dari 20,6 juta masyarakat yang telah menjalani skrining kesehatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26,8 ribu orang kemudian dinyatakan sebagai kasus TBC baru. Temuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat penemuan kasus TBC sekaligus memastikan masyarakat yang terdiagnosis segera mendapatkan pengobatan.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, skrining melalui program CKG menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperluas penemuan kasus TBC di masyarakat.
Skrining dilakukan melalui berbagai fasilitas, mulai dari puskesmas hingga sekolah dan pesantren. Menurut Dante, perluasan pemeriksaan penting dilakukan karena semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan.
Upaya tersebut juga sejalan dengan tren penurunan estimasi kasus TBC nasional. Pada 2024, estimasi kasus TBC mencapai sekitar 1,092 juta kasus. Angka tersebut turun menjadi sekitar 1,09 juta kasus pada 2025 dan diperkirakan kembali menurun menjadi sekitar 1,08 juta kasus pada 2026.
“Dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO, jadi tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000,” kata Dante dikutip dari Jawa Pos, Jumat (2/10/2026).
Dante menyebut perluasan skrining menjadi salah satu faktor yang mendukung penurunan estimasi tersebut. Pemerintah kini tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga memperkuat pencegahan dan pengobatan bagi masyarakat yang telah terdiagnosis.
Langkah lain yang ditempuh pemerintah adalah memperpendek durasi pengobatan TBC. Dante menjelaskan, pengobatan TBC sebelumnya dapat berlangsung antara sembilan hingga 20 bulan.
Sejak tahun 2024, pengobatan TBC resistan obat (TB RO) dengan regimen BPaL/M dapat diberikan selama enam bulan. Pemerintah juga tengah mengembangkan regimen pengobatan baru bersama TB Alliance yang ditargetkan dapat memangkas masa terapi menjadi satu bulan.
“Ini tadinya 6 sampai 9 bulan, itu terlalu banyak obat. Sekarang satu bulan saja. Ini satu bulan kita sedang melakukan terapi yang agresif untuk masyarakat,” jelasnya.
Menurut Dante, pengembangan regimen pengobatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan sekaligus mendorong masyarakat menjalani pengobatan hingga tuntas.
Selain memperkuat pengobatan, pemerintah juga mendorong pencegahan berbasis masyarakat melalui program Siaga TBC.
Hingga kini, sebanyak 9.759 desa dan kelurahan di 154 kabupaten/kota yang tersebar di 29 provinsi telah menyatakan komitmen untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan TBC secara mandiri.
Pemerintah pusat dan daerah juga melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan program penanggulangan TBC berjalan di lapangan. Evaluasi dilakukan setiap pekan dengan melibatkan pemerintah pusat dan daerah.
“Kemudian monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi,” pungkas Dante. (*)
Editor : AdminDua