CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap penurunan stunting tidak bisa dinilai dalam waktu singkat. Evaluasi perlu dilakukan secara berkala dengan melihat perkembangan angka stunting, termasuk di daerah dengan prevalensi stunting tinggi.
Dilansir dari JawaPos.com, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan mengatakan efektivitas intervensi gizi terhadap stunting perlu dilihat setidaknya melalui evaluasi angka stunting setiap tahun.
"Ya nanti kita harus melihat dong, paling tidak ya setiap tahun dinilai angka stunting kita kan? Apakah menurun apa tidak. Tapi kan memang penurunannya itu kan tidak bisa gampang dinilai seperti itu. Harus secara nasional tentunya," kata Aman kepada JawaPos.com usai acara Media Briefing di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (22/9/2026).
Menurut dia, evaluasi juga perlu dilakukan secara lebih spesifik di daerah yang memiliki persoalan stunting cukup tinggi. Dengan begitu, dampak intervensi dapat dilihat berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.
"Misalnya daerah yang paling banyak stunting kita lihat berapa persen di situ," ujar Aman yang juga sebagai Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global itu.
Aman menjelaskan, intervensi yang menyasar ibu hamil membutuhkan waktu untuk dapat dinilai dampaknya terhadap pertumbuhan anak. Masa kehamilan hingga kelahiran menjadi salah satu periode yang perlu diperhatikan.
"Paling tidak memang harusnya itu kan kehamilan itu kan 9 bulan kan, ya minimal 1 tahun kita menilai setelah itu, minimal paling tidak," jelasnya.
Penilaian kemudian tidak berhenti setelah anak lahir. Jika dikaitkan dengan panjang badan saat lahir, pertumbuhan anak perlu terus dipantau hingga usia balita.
"Nah setelah itu kan kita ikutin lagi dia kan sampai umur 5 tahun kan," lanjut Aman.
Lebih lanjut, Aman menilai jika tujuan MBG untuk membantu pemenuhan makanan bergizi tetap memiliki manfaat, terutama bagi kelompok yang membutuhkan. Namun, dia mengingatkan agar program tersebut tidak secara otomatis dikaitkan dengan penurunan stunting pada anak sekolah.
Pasalnya, pengukuran dampak terhadap stunting tetap membutuhkan indikator dan waktu pemantauan yang sesuai. "Filosofinya bagus ya. Iya. Tapi kalau menurunkan stunting, tunggu dulu, tunggu dulu," ujar Aman.
Pertumbuhan Anak Punya Spektrum yang Lebih Luas
Stunting dan masalah nutrisi selama ini menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai pertumbuhan anak di Indonesia, sehingga perhatian terhadap pertumbuhan anak kerap berfokus pada pemenuhan dan perbaikan gizi. Namun, gangguan pertumbuhan pada anak memiliki spektrum yang lebih luas.
Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin menjelaskan, perawakan pendek misalnya. Itu tidak hanya dapat disebabkan oleh faktor nutrisi, tetapi juga dapat berkaitan dengan Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hypothyroidism.
Selain itu, juga terdapat faktor genetik seperti Turner Syndrome maupun kondisi medis kronis lainnya. Pada sebagian anak dengan perawakan pendek, penyebab spesifik juga tidak dapat diidentifikasi meskipun telah dilakukan evaluasi menyeluruh. Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).
Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, gangguan pertumbuhan juga dapat memengaruhi aspek psikososial anak. Karena itu, pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini perlu untuk didorong.
"Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," ungkapnya. (*)
Editor : Weny Firmansyah