CRPOSONLINE.COM,SERUI – Perjalanan panjang, tiga kali berganti topik penelitian hingga menghadapi tekanan selama proses bimbingan akhirnya terbayar.
Novi Parinding, siswi SMP Sekolah Kristen Kasih Bangsa (SKKB) Kepulauan Yapen, berhasil meraih medali emas dalam World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026, kompetisi karya ilmiah internasional yang tahun ini diselenggarakan di Malaysia.
Kompetisi inovasi tingkat dunia itu berlangsung pada 20–23 September 2026 di SEGi University, Kota Damansara, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.
Diikuti 517 peserta dari 11 negara, yang datang membawa berbagai karya penelitian dan inovasi.
Di tengah persaingan itu, Novi bersama tim berhasil membawa penelitian berbasis potensi lokal Kepulauan Yapen hingga meraih medali emas.
Tim pertama, yang berlaga di kategori Environmental Science, terdiri atas Novira F. Parinding, Gabriella P.J. Kaiwai, Gilbert N.H. Numberi, dan Alfa George Dawir.
Tim kedua, yang tampil di kategori Innovative Social Science, terdiri atas Deserluta L. Ayomi, Helena B. Birahy, Rex H.L. Wemaf, dan Hugo S. Numberi.
Bagi Novi, mewakili teman-temannya, mengaku medali tersebut menjadi pencapaian yang sangat berarti karena merupakan medali pertamanya dalam kompetisi internasional.
Di balik keberhasilan itu, ia mengaku harus melewati proses penelitian yang tidak mudah.
“I’m so happy, happy. This is my first medal. Ini tidak mudah karena banyak rintangan yang saya hadapi. Hampir setiap hari ketika pulang saya menangis. Sempat beberapa kali ganti topik penelitian. Tapi akhirnya semua usaha tidak sia-sia dan menghasilkan yang terbaik,” ungkap Novi saat diwawancarai, Senin (28/9) usai disambut oleh Bupati Kepulauan Yapen, Benyamin Arisoi.
Menurut Novi, penelitian yang dilakukannya bersama tim bahkan sempat berganti hingga tiga kali. Ide awal berkaitan dengan daun merah, kemudian beralih pada pohon bakau.
Setelah melalui berbagai percobaan dan konsultasi dengan pembimbing di Surabaya, topik tersebut kembali berubah.
Pilihan akhirnya jatuh pada penelitian yang memanfaatkan rumput laut dan susu kedelai fermentasi, dengan orientasi pengembangan produk yang berkaitan dengan pencegahan risiko pencegahan kardiovaskular.
Proses menentukan bentuk produk pun tidak langsung selesai. Novi dan tim beberapa kali melakukan percobaan untuk menemukan produk yang dianggap paling sesuai.
“Kami meneliti rumput laut dan susu kedelai fermentasi, kemudian dibuat menjadi satu produk. Untuk produknya juga beberapa kali berubah. Sempat mau dibuat menjadi es krim, tetapi akhirnya kami membuatnya menjadi es loli,” jelasnya.
Pemilihan rumput laut memiliki hubungan kuat dengan potensi lokal Kepulauan Yapen.
Daerah tersebut memiliki hasil rumput laut, tetapi pemanfaatannya sebagai produk turunan masih relatif terbatas.
Selama ini, pengolahannya lebih banyak diarahkan menjadi produk pangan sederhana, salah satunya stik rumput laut.
Melalui penelitian tersebut, Novi dan tim mencoba menawarkan bentuk pemanfaatan yang berbeda dengan mengkombinasikan rumput laut dan susu kedelai fermentasi menjadi produk olahan.
Sebelum mengikuti kompetisi di Malaysia, Novi dan tim telah menjalani simulasi presentasi di Surabaya bersama profesor dan pembimbing.
Hasil evaluasi saat itu membuat mereka semakin yakin dengan penelitian yang dibawa ke WICE 2026.
“Waktu simulasi di Surabaya, penelitian kami dinilai baik. Itu membuat kami semakin percaya diri. Saat presentasi tidak ada guru yang mendampingi, tetapi kami tetap percaya diri. Setiap pertanyaan dari juri bisa kami jawab dengan lancar,” katanya.
Keberhasilan meraih emas membuat Novi berharap penelitian tersebut tidak berhenti setelah kompetisi. Ia ingin pemerintah daerah ikut memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi rumput laut di Kepulauan Yapen.
“Harapan saya pemerintah bisa mendukung lagi. Kemarin saat berangkat kami tidak didampingi dari pemerintah daerah. Dengan penelitian ini, pemerintah bisa melihat manfaat rumput laut dan memperhatikan hasil rumput laut di Yapen supaya benar-benar bisa dibudidayakan dan dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya.
Orang tua Novi Agus Parinding, mengatakan keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang yang membutuhkan dukungan, terutama ketika anak menghadapi tekanan selama penelitian dan persiapan kompetisi.
“Sebagai orang tua, yang pertama tentu kita harus memberikan dukungan penuh kepada anak-anak, mulai dari proses bimbingan sampai mereka berangkat. Terutama mental mereka harus kita dukung. Ketika pulang dalam kondisi tertekan, kita sebagai orang tua harus memberikan kekuatan,” ujarnya.
Menurutnya, capaian medali emas dalam kompetisi internasional seharusnya menjadi pintu untuk pengembangan penelitian berikutnya. Pemerintah daerah, sekolah, yayasan dan pihak terkait diharapkan dapat berkolaborasi agar hasil penelitian tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut.
“Saya pikir hasilnya sudah teruji dan sudah dilombakan dalam kompetisi internasional. Alangkah baiknya kalau hasil ini bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait, baik pemerintah maupun sekolah, kemudian dikembangkan melalui kolaborasi,” katanya.
Ia menambahkan, karya tersebut juga telah didaftarkan untuk memperoleh perlindungan Hak Cipta melalui pihak yayasan di Surabaya.
Keberhasilan Novi diharapkan dapat memotivasi pelajar lainnya untuk berani melakukan penelitian dengan mengangkat potensi yang tersedia di daerahnya sendiri.
“Ini bisa menjadi perangsang bagi siswa lainnya, bukan hanya di SMP Kasih Bangsa, tetapi juga sekolah-sekolah negeri dan sekolah lainnya di Papua,” tuturnya.
Medali emas yang dibawa pulang Novi akhirnya menyimpan cerita lebih panjang daripada tiga hari kompetisi di Malaysia. Ada penelitian yang tiga kali berganti, eksperimen berulang, tekanan selama bimbingan, hingga keberanian mempresentasikan karya tanpa pendamping guru di hadapan juri.
Dari Kepulauan Yapen, rumput laut yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai hasil budidaya dan bahan pangan sederhana kini ikut dibawa ke panggung kompetisi ilmiah internasional melalui karya seorang pelajar SMP di Malaysia. (*).
Editor : Agung Trihandono