CEPOSONLINE.COM, SENTANI - Masyarakat Suku Akit di Pulau Rupat, Kepulauan Riau, kini memiliki Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Kehadiran Alkitab Bahasa Suku Akit ini menjadi tonggak penting pelayanan gereja sekaligus buah dari perjalanan panjang penerjemahan yang melibatkan penerjemah lokal, gereja, jemaat, dan Yayasan Bahtraku.
Peluncuran Alkitab tersebut berlangsung dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-165 Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Medan, Sumatera Utara, Rabu (7/10). Dalam kesempatan itu, Pimpinan Yayasan Bahtraku mendapat kehormatan untuk meluncurkan Alkitab Bahasa Suku Akit sebelum diserahkan kepada Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Victor Tinambunan.
Direktur Nasional Yayasan Bahtraku, Pdt. Christov Manuhutu, menyampaikan rasa syukur atas selesainya proses penerjemahan Alkitab yang telah melalui perjalanan panjang, diwarnai doa, pengabdian, dan berbagai tantangan.
Ia menegaskan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran Pdt. Rinto, putra asli Suku Akit dari Pulau Rupat, yang menjadi penerjemah utama hingga proses penerjemahan selesai.
“Kami bersyukur, motor utamanya ada di tengah-tengah kita, seorang putra asli Suku Akit dari Pulau Rupat yang telah menerjemahkan hingga selesai, yakni Pdt. Rinto,” ungkapnya dalam rilis yang diterima Rabu (14/10/2026).
Menurut Christov, hadirnya Alkitab Bahasa Suku Akit bukan semata-mata hasil kerja satu orang atau satu lembaga. Proses tersebut merupakan buah kolaborasi antara penerjemah lokal, para pendeta, majelis, jemaat HKBP, serta Yayasan Bahtraku yang mendampingi perjalanan penerjemahan.
“Bapak, ibu, dan seluruh tim kami bukanlah yang menerjemahkan dan menyelesaikan, tetapi ini adalah karya dari pendeta HKBP, majelis, dan jemaat HKBP yang bersama-sama menyelesaikannya. Bahtraku mendampingi seluruh prosesnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyelesaian Alkitab tersebut merupakan jawaban atas penantian panjang dalam pelayanan. Perjalanan yang diwarnai berbagai kesulitan dan doa selama bertahun-tahun itu akhirnya membawa sukacita bagi semua pihak yang terlibat.
Bagi masyarakat Suku Akit, kehadiran Alkitab dalam bahasa sendiri memiliki arti penting. Selain memudahkan masyarakat memahami pesan firman Tuhan dalam bahasa yang akrab digunakan sehari-hari, penerjemahan ini juga menjadi bagian dari penghargaan terhadap identitas dan bahasa lokal.
Peluncuran tersebut sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan putra daerah dalam pelayanan penerjemahan Kitab Suci. Pdt. Rinto menjadi bukti bahwa masyarakat lokal memiliki peran strategis dalam menjaga bahasa mereka sekaligus berkontribusi dalam pelayanan gereja.(*)
Editor : Lucky Ireeuw