Wamenpar Ungkap Cara Baru Bikin Wisatawan Betah di Papua Lewat Festival Danau Sentani

Priyadi Cepos Online • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 12:08 WIB
Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati menaiki perahu dan menikmati tarian Isosolo di atas Danau Sentani dalam rangkaian FDS XV di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Kamis (3/9/2026).(CEPOSONLINE.COM/PRIYADI)
Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati menaiki perahu dan menikmati tarian Isosolo di atas Danau Sentani dalam rangkaian FDS XV di Kawasan Wisata Pantai Khalkote, Kamis (3/9/2026).(CEPOSONLINE.COM/PRIYADI)

CEPOSONLINE.COM,SENTANI- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mendorong penyelenggaraan festival seni dan budaya di daerah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Setiap event diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial yang nyata bagi masyarakat setempat.

 

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Enik Ermawati, dalam rangkaian Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 di Kawasan Wisata Pantai Khalkote Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Kamis (3/9/2026). 

 

Menurutnya, festival budaya harus menjadi ruang yang inklusif dengan menempatkan masyarakat dan pelaku seni lokal sebagai pelaku utama.

 

Dengan keterlibatan tersebut, manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para pelaku dan penjaga budaya lokal.

 

FDS XV tahun ini kembali masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN). Kemenpar telah mengkurasi 125 event unggulan dari ribuan kegiatan pariwisata yang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia.

 

Pada pelaksanaan KEN sebelumnya, 110 event terkurasi disebut mampu menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp17 triliun. Dari angka tersebut, dampak ekonomi langsung yang dirasakan masyarakat mencapai sekitar Rp5 triliun hingga Rp6 triliun. 

 

Tahun ini, Kemenpar menargetkan lebih 13,75 juta kunjungan wisatawan dengan potensi perputaran ekonomi mencapai Rp21,57 triliun.

 

Kemenpar mendorong pengembangan konsep experience-based tourism atau pariwisata berbasis pengalaman. Wisatawan tidak hanya melihat budaya Papua, tetapi dapat berinteraksi dan ikut merasakan prosesnya.

 

Contohnya, wisatawan dapat mengikuti kegiatan pembuatan noken, belajar mengolah makanan tradisional, atau mencoba memasak papeda secara langsung.

 

Konsep tersebut dinilai dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay) sekaligus meningkatkan belanja wisata di daerah. Pengembangan festival juga dinilai perlu dikolaborasikan dengan event pariwisata di daerah lain di Papua sehingga wisatawan memiliki lebih banyak pilihan destinasi.

 

Sementara itu, Gubernur Papua Matius Fakhiri menegaskan bahwa pelestarian adat dan kebudayaan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Budaya, kata dia, tidak boleh hanya berhenti sebagai pertunjukan di atas panggung, tetapi harus mampu membuka ruang ekonomi bagi masyarakat.

 

"Budaya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kegiatan seperti festival kuliner tradisional, pengembangan pangan lokal, pameran kerajinan, hingga keterlibatan UMKM harus terus didorong sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat," tegasnya.

 

Sementara Bupati Jayapura, Yunus Wonda mengatakan FDS XV berlangsung pada 3-5 September 2026 dengan berbagai pertunjukan seni, budaya dan hiburan.

 

"Kita tidak hanya membuat acara saat ada event atau festival saja. Event akan terus berjalan, dan pertumbuhan ekonomi di daerah ini harus terus tumbuh," tutupnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
Kabupaten Jayapura festival danau sentani