CEPOSONLINE.COM,WAMENA - Aviasi penerbangan Trigana Air Service Wamena memastikan kabut asap yang disebabkan karena pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Wamena, kian berdampak pada keterlambatan penerbangan yang biasanya dibuka pukul 08.00 Wit, kini harus dimulai pukul 11.00 Wit. Rabu (26/8/2026)
Manager Trigana Air Service Wamena Michael Biduri mengaku, jika kabut asap yang terjadi di Wamena ini mengakibatkan jarak pandang dari pilot pendek dan tak bisa melihat sesuai mekanisme penerbangan minimal 5 KM kedepan, hal ini memicu aktifitas penerbangan baik penumpang maupun cargo harus diundur.
"Sudah hampir seminggu kita mengalami keterlambatan penerbangan karena kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), dan untuk aturan penerbangan itu semua ikut laporan cuaca dari BMKG,"ungkapnya di Wamena.
BMKG mengeluarkan laporan itu berdasarkan jarak pandang, artinya jarak pandang terjauh yang digunakan pesawat penumpang itu minimal 5 KM. Lebih dari 5 KM itu barulah pesawat bisa masuk ke Wamena, ketinggian awal juga minimal harus 1000 Ft keatas.
"Standar-standar ini yang digunakan oleh dunia penerbangan khususnya di Wamena, standar ini tak seenaknya saja dikeluarkan oleh BMKGtapi itu sudah menjadi standar penerbangan internasional, agar pada saat mendarat pesawat tetap dalam keadaan aman,"kata Michael
Secara terpisah Forecaster BMKG Stasiun Wamena Ahmad Armanda mengatakan dari BMKG Wamena telah mengeluarkan peringatan kepada aviasi penerbangan yang ada di Wamena dan dalam kurun seminggu ini memang sudah terganggu akibat kabut asap,
"Penerbangan yang biasanya dibuka pukul 08.00 Wit, kini harus memulai dipukul 11.00 Wit hal ini disebabkan karena kabut asap dari karhutla, dan kami juga sudah koordinasi ke maskapai penerbangan,"ujarnya
Pembakaran hutan dan lahan yang masih dilakukan sebagian masyarakat ini diyakini untuk memanggil hujan, namun secara ilmiah tidak ada efek atau hubungannya, sehingga warga juga diimbau untuk menghindari pembakaran lahan kering.
"Kita imbau warga tak membakar lahan karena saat ini musim kemarau yang memiliki curah hujan yang sangat sedikit, tentunya ini akan membuat lahan atau hutan yang terbakar itu sulit dipadamkan," tutup Armanda. (*)
Editor : Lucky Ireeuw