Siapa Shamsi Ali, Imam Besar New York yang Beradu Argumen dengan Pendukung Separatis Papua di Amerik

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 09:28 WIB
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali saat melakukan kegiatan di AS (Foto: Istimewa)
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali saat melakukan kegiatan di AS (Foto: Istimewa)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Nama ulama asal Indonesia yang kini menjabat sebagai Imam sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali, mendadak viral di media sosial.

Dengan ponselnya dia merekam dan berdialog dengan sekelompok demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap separatisme Papua.

Momen tersebut terjadi spontan ketika Shamsi Ali melintas di jalanan kota New York usai dirinya selesai menyampaikan khutbah di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada Minggu 27 September 2026.

Dalam video yang dibagikan melalui akun media sosial pribadinya, tampak para pengunjuk rasa membawa berbagai atribut khas Papua.

Termasuk bendera Bintang Kejora, serta sejumlah poster berisi kritik tajam terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Tanpa ragu, Shamsi Ali menghampiri dan langsung berdialog dengan salah seorang koordinator aksi demonstrasi tersebut.

Ia melontarkan pertanyaan kritis mengenai alasan kelompok bersenjata di Papua tega menembak mati warga sipil tak berdosa yang sama sekali tidak bersalah.

Mendengar jawaban argumen para demonstran yang dinilainya tidak berdasar, ulama kharismatik itu lantas melontarkan kecaman keras terhadap tindakan kekerasan yang merenggut nyawa manusia tak bersalah.

"Mereka kejam dan lebih jahat dari binatang!" tegas Shamsi Ali mengecam aksi brutal tersebut.

Lalu, siapa sebenarnya Shamsi Ali ? dikutip dari wikipedia Ustadz H. Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D. biasa dipanggil Syamsi Ali atau dieja Shamsi Ali dalam bahasa Inggris adalah imam di Islamic Center of New York dan direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan. 

Syamsi Ali aktif dalam kegiatan dakwah Islam dan komunikasi antaragama di Amerika Serikat. 

Namanya kian meroket di Amerika Serikat ketika terjadi tragedi 9/11 atau penyerangan menara kembar gedung pencakar langit World Trade Centre (WTC). 

Ia sampai dipanggil Presiden ke-43 Amerika Serikat George Walker Bush ke Gedung Putih guna membicarakan perkembangan Islam. Ketika itu ia menjadi salah satu tokoh muslim yang juga imam besar masjid New York

“Peristiwa ini tepatnya terjadi setelah insiden 11 September (aksi terorisme di gedung WTC). Pemerintah Amerika saat itu merasa perlu untuk memanggil tokoh-tokoh lokal yang dianggap paham tentang Islam untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas,” ujar dia dalam sebuah webinar bertajuk Jihad Vs Terror, Sabtu, 3 April 2020.

Hebatnya lagi, Shamsi tidak kali itu saja dimintai pendapat oleh Presiden AS, tetapi tiga kali.

“Dari sekian pertemuan dan pembicaraan, dapat saya tangkap bahwa sebelum aksi 11 September pemerintah AS tidak memasukan Islam sebagai bagian dari kebijakan strategis mereka,” tuturnya.

WNI keturunan Bugis ini dikenal luas oleh publik AS sebagai salah satu tokoh sentral yang membantu menyebarkan pemahaman Islam secara positif. Upaya yang dia lakukan dianggap banyak membantu otoritas setempat untuk memerangi Islamophobia yang kala itu banyak merebak pasca-peristiwa 11 September.

“Walaupun bahasa Inggris saya masih terbata-bata dengan aksen Makassar, tetapi saya berjuang untuk memberikan pemahaman Islam yang benar. Apalagi Islam di Indonesia dikenal sebagai Islam yang moderat dan ini membantu sekali,” jelasnya.

Shamsi Ali lahir di Bulukumba Sulawesi Selatan, pada lahir 5 Oktober 1967. Ia menyelesaikan SD di Desa Lembanna, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan, oleh orang tuanya ia dimasukkan ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Makassar. 

Setelah tamat dari pesantren 1987, Syamsi Ali mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya hingga akhir 1988. Ia mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan.

Jenjang S1 dalam bidang Tafsir diselesaikan tahun 1992 dan dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan jenjang S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahun 1994. Selama studi S2 di Pakistan, Syamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada The Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi pada awal tahun 1995.

Pada musim haji tahun 1996, Syamsi Ali mendapat amanah untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah di Arab Saudi. Dari sanalah bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB, yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, Amerika Serikat. Tawaran ini kemudian diterima Syamsi Ali dan ia pindah ke New York pada awal tahun 1997. (*)

Editor : Weny Firmansyah
new york Ceposonline.com