Viral! Tanya Jawab Ulama Indonesia Shamsi Ali dengan Pendemo Pro Separatis Papua di New York

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 04:53 WIB
Tangkapan layar video ketika Imam Shamsi Ali mendekati demonstran pendukung Papua Merdeka di New York (Istimewa)
Tangkapan layar video ketika Imam Shamsi Ali mendekati demonstran pendukung Papua Merdeka di New York (Istimewa)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Seorang ulama Indonesia yang menjadi Imam sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali mendadak viral.

 

Lewat media sosialnya, Shamsi Ali mengunggah videonya saat bertemu dengan demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap separatisme Papua. Hal itu terjadi setelah dirinya selesai menyampaikan khutbah di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Pertemuan tersebut berlangsung di jalan ketika Shamsi Ali melintas dan melihat aksi demonstrasi.


Dalam video yang dibagikannya, Minggu (27/9/2026), tampak demonstran membawa atribut Papua, termasuk bendera Bintang Kejora. Sejumlah poster yang berisi kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto juga terlihat dalam aksi tersebut. 

 

Shamsi Ali kemudian berdialog dengan salah seorang demonstran. Ia mempertanyakan alasan kelompok bersenjata di Papua menembak warga sipil yang menurutnya tidak memiliki kesalahan.


Kemarin setelah khutbah di PBB saya melewati seorang pandemo Papua (anti Indonesia)," tulis Shamsi Ali dalam unggahan di Instagram, Minggu (27/9/2026).


Dalam keterangannya, Shamsi Ali juga menyinggung kasus penembakan terhadap seorang warga sipil di Papua. Dia mempertanyakan dasar tudingan bahwa warga Indonesia yang berada di Papua bekerja sama dengan TNI.

 

"Kesal juga baru-baru ini seorang warga tak berdosa ditembak mati di Papua. Alasannya semua warga Indonesia melakukan fungsi multi kerjasama dengan TNI. Saya tanya bukti. Jawabannya tonton YouTube," lanjut ulama tersebut menirukan jawaban demonstran tersebut.


Shamsi Ali kemudian menyampaikan kecamannya terhadap aksi kekerasan terhadap warga sipil. "Mereka kejam dan lebih jahat dari binatang!," imbuhnya.


Dalam dialog langsung tersebut, Shamsi Ali mendesak sang demonstran untuk menunjukkan bukti konkret yang melandasi tuduhan massal bahwa seluruh warga sipil Indonesia di Papua menjalankan fungsi intelijen atau kerja sama militer dengan TNI. Namun, sang pendemo tidak mampu menyajikan bukti ilmiah maupun dokumen valid di lapangan.


Kasus yang disinggung Shamsi Ali diduga berkaitan dengan tewasnya Aris Sanda, seorang sopir lajuran atau travel, di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada 15 September lalu. Korban yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan, dilaporkan ditembak setelah kendaraan yang dibawanya dihentikan oleh kelompok bersenjata. (*)

Editor : AdminDua
WEST PAPUA PBB amerika serikat