Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Rupiah Hari Ini Ditutup Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Diprediksi Pekan Depan Akan Terus Melemah 

Weny Firmansyah • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:58 WIB
Rupiah Melemah Tajam, Tembus Level Rp17.500 per Dolar AS
Rupiah Melemah Tajam, Tembus Level Rp17.500 per Dolar AS

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan, Selasa (26/5/2026).


Dilansir dari Inews.id Rupiah turun 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.795 per dolar AS.


Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menuturkan, sentimen eksternal yang mempengaruhi datang dari laporan pada Senin malam menyebutkan Amerika Serikat (AS) telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. 


Militer AS mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan untuk "membela diri," dan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.


“Tanggapan Teheran terhadap permusuhan baru ini belum segera jelas. Namun, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.


Aksi militer baru ini sebagian besar mengimbangi sejumlah laporan sebelumnya yang menyatakan bahwa AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.


Harga minyak turun tajam pada hari Senin setelah laporan-laporan ini, meskipun kurangnya kejelasan di lapangan membatasi penurunan harga minyak mentah.


Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, dan mengklaim bahwa republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.


Iran sebagian besar membantah rencana untuk melepaskan uraniumnya, meskipun laporan menunjukkan negara tersebut terbuka untuk negosiasi lebih lanjut mengenai aktivitas nuklirnya.


Dari sentimen domestik, krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak didepan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi, dan berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).


Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional. 


Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri nonsubsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan.


Sebagai informasi, penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang menyebabkan sekitar 350 pekerja terkena PHK. Kondisi tersebut dipengaruhi tekanan biaya impor dan melemahnya pasar ekspor.


Selain sektor elektronik, tekanan juga terjadi di industri otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor mulai menekan permintaan pasar. 


Potensi PHK di sektor formal industri tersebut dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. 


Adapun Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026 dan dimungkinkan PHK besar akan berlanjut dibulan berikutnya.


Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.790-Rp17.850 per dolar AS (*)

Editor : Weny Firmansyah
#dolar #Ceposonline.com #rupiah