Baru Terbentuk, Sunrise Band Langsung Tembus Papua Reggae Festival XI

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:06 WIB
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mempersembahkan sebuah lagu saat grand launching Sunrise Band di Cafe Honai, Nabire, Sabtu (10/10/2026).(CEPOSONLINE.COM/PROTOKOLER KABUPATEN INTAN JAYA).
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mempersembahkan sebuah lagu saat grand launching Sunrise Band di Cafe Honai, Nabire, Sabtu (10/10/2026).(CEPOSONLINE.COM/PROTOKOLER KABUPATEN INTAN JAYA).

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Anak-anak muda suku Moni dari Kabupaten Intan Jaya bersiap menunjukkan kemampuan mereka di panggung musik yang lebih luas melalui Sunrise Band. Kelompok musik yang baru terbentuk ini akan tampil dalam Papua Reggae Festival (PRF) XI di Nabire pada 16-17 Oktober 2026, membawa semangat berkarya sekaligus memperkenalkan potensi generasi muda Intan Jaya melalui musik reggae.

Bagi Sunrise Band, keikutsertaan dalam festival ini bukan sekadar kesempatan untuk tampil di hadapan penonton. Lebih dari itu, panggung tersebut menjadi ruang bagi anak-anak muda Intan Jaya untuk mengembangkan bakat, membangun kepercayaan diri, dan menunjukkan bahwa mereka juga memiliki potensi di bidang seni.

Langkah awal ini mendapat dukungan dari Bupati Intan Jaya, Aner Maisini. Saat diwawancarai di Cafe Honai, Sabtu (10/10/2026), dalam kegiatan peluncuran Sunrise Band menuju Papua Reggae Festival, Aner menyampaikan dukungannya terhadap keterlibatan anak-anak muda Intan Jaya dalam festival tersebut.

“Sebagai Bupati Intan Jaya, saya sangat mendukung karena Papua Reggae Festival ini menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk tampil dalam dunia musik, menyanyi, dan mengembangkan kemampuan mereka,” ujar Aner.

Menurutnya, membawa nama daerah tidak harus selalu melalui pembangunan fisik. Anak-anak muda juga dapat mengharumkan nama kabupaten melalui bakat, keterampilan, dan kreativitas yang mereka miliki.

“Jadi, membawa nama kabupaten itu tidak harus dari pembangunan saja. Melalui skill, kelebihan, dan keterampilan yang dimiliki orang Intan Jaya, mereka juga bisa membawa nama daerahnya,” katanya.

Aner mengapresiasi para vokalis dan pemain musik Sunrise Band yang telah mempersiapkan diri untuk tampil dalam festival tersebut. Salah satu personel band itu adalah anaknya sendiri, Dalton.

Bagi Aner, keterlibatan Dalton dalam dunia musik menjadi kebanggaan tersendiri sebagai seorang ayah. Namun, ia berharap pengalaman tersebut juga dapat memberikan semangat kepada anak-anak muda Intan Jaya lainnya untuk berani mengembangkan bakat dan menekuni bidang yang mereka minati.

Ia menilai musik bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan, mengembangkan kreativitas, dan membangun kepercayaan diri.

“Saya bersyukur karena ini menjadi motivasi bagi anak-anak Moni yang lain. Kita tidak harus hanya mengandalkan satu bidang saja. Musik juga bisa membantu membentuk kecerdasan, baik IQ, SQ, maupun EQ. Karena itu, menurut saya, musik ini penting,” tuturnya.

Aner juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Papua Tengah atas dukungan terhadap kegiatan yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya. 

“Saya harap  seluruh kepala daerah turut mendukung kegiatan serupa agar semakin banyak anak muda di Papua Tengah memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan menunjukkan potensi mereka,” ujarnya.

Di balik persiapan menuju festival, terbentuknya Sunrise Band menjadi langkah tersendiri bagi anak-anak muda suku Moni di Intan Jaya. Mereka memiliki ketertarikan yang sama terhadap musik reggae, tetapi menyatukan minat tersebut ke dalam satu kelompok musik bukanlah perkara mudah.

Manager Sunrise Band, Johan Kudiai.(CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMDA INTAN JAYA).
Manager Sunrise Band, Johan Kudiai.(CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMDA INTAN JAYA).

Manager Sunrise Band, Johan Kudiai, menjelaskan bahwa musik reggae sudah dikenal dan digemari oleh banyak kalangan. Namun, pembentukan kelompok musik yang menghimpun anak-anak muda Moni dari Intan Jaya baru dilakukan kali ini.

Menurut Johan, informasi dan promosi mengenai Papua Reggae Festival turut mendorong mereka untuk menyatukan para personel dan mulai mempersiapkan diri sebagai sebuah band.

“Pada prinsipnya, musik reggae ini bukan hal baru. Hanya saja, pembentukan tim khusus teman-teman dari kalangan suku Moni yang mendiami wilayah Intan Jaya baru dilakukan kali ini,” jelasnya.

Sebagai kelompok yang baru terbentuk, Sunrise Band masih menghadapi sejumlah keterbatasan, terutama dalam kesiapan personel dan pembagian peran saat bermusik.

Johan mengakui beberapa personel memiliki kesibukan lain, termasuk aktivitas bermusik dan pelayanan di gereja. Kondisi tersebut membuat mereka harus menyesuaikan diri agar seluruh anggota dapat mempersiapkan penampilan bersama.

Ia tidak menampik bahwa sejumlah kekurangan masih terlihat dalam penampilan awal Sunrise Band. Meski demikian, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar sebelum mereka tampil dalam Papua Reggae Festival.

“Ini panggung pertama kami. Kami mengakui masih ada kekurangan, terutama dari sisi personel dan persiapan. Namun, kami berharap pada hari pelaksanaan nanti, Sunrise Band bisa memberikan penampilan terbaik dan tampil semaksimal mungkin,” ujarnya.

Berharap Lahir Musisi Muda dari Intan Jaya

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini bersama Istri dan Dandim Intan Jaya saat menghadiri Launching sunrise band di Cafe Honai Nabire. (CEPOSONLINE.COM/PROTOKOLER INTAN JAYA)
Bupati Intan Jaya, Aner Maisini bersama Istri dan Dandim Intan Jaya saat menghadiri Launching sunrise band di Cafe Honai Nabire. (CEPOSONLINE.COM/PROTOKOLER INTAN JAYA)

Bagi Johan, perjalanan Sunrise Band tidak berhenti pada keikutsertaan dalam festival. Ia berharap kelompok musik tersebut dapat menjadi pemantik bagi anak-anak muda Intan Jaya lainnya untuk berani mengembangkan bakat dan membentuk kelompok musik baru.

“Saya harap semakin banyak anak muda Intan Jaya yang tertarik dan belajar di dunia music,” ungkapnya. 

Ia meyakini kesempatan tampil dapat menumbuhkan semangat bagi anak-anak muda untuk belajar, berlatih, dan menunjukkan kemampuan mereka. 

Karena itu, pengalaman Sunrise Band di Papua Reggae Festival diharapkan membuka jalan bagi tumbuhnya kelompok-kelompok musik baru dari Intan Jaya,” tutur Kudiai.

Johan juga melihat musik sebagai ruang yang dapat mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama, membangun persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan di antara generasi muda.

Ia berharap penampilan perdana Sunrise Band menjadi pengalaman berharga bagi seluruh personel. Berbagai kekurangan selama persiapan maupun penampilan awal akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan mereka ke depan.

“Kami berharap ketika teman-teman melihat Sunrise Band tampil, mereka juga termotivasi untuk membentuk kelompok musik. Kekurangan dalam penampilan pertama ini akan menjadi bahan evaluasi agar ke depan mereka bisa berkembang lebih baik,” katanya.

Dukungan pemerintah daerah dan kesempatan tampil dalam Papua Reggae Festival menjadi langkah awal bagi Sunrise Band untuk melangkah lebih jauh. 

“Dari kelompok musik yang baru terbentuk, mereka membawa harapan agar anak-anak muda Moni semakin percaya diri berkarya, mempererat persaudaraan, dan memperkenalkan Intan Jaya melalui musik,” pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
INTAN JAYA Aner Maisini