CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Suasana berbeda terlihat dalam Camp Pembinaan Wanita Bijak yang digelar di Kabupaten Intan Jaya. Jika biasanya kegiatan pembinaan identik dengan penyampaian materi dan diskusi, kali ini para peserta dibuat larut diakhir sesi hari keempat (hari terakhir) dalam suasana haru saat para istri memberikan surat cinta yang ditulis khusus untuk pasangan masing-masing dan para suami membalasnya dengan setangkai bunga kepada istri mereka sebagai bukti cinta.
Momen sederhana itu menjadi salah satu sesi yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung walau itu dilaksanakan di sesi terakhir hari keempat tetapi Senyum bahagia, pelukan hangat, hingga air mata haru mewarnai ruangan ketika para pasangan saling mengungkapkan perasaan yang mungkin selama ini jarang disampaikan. Bagi sebagian peserta, itu menjadi kali pertama mereka menerima bunga dari pasangan atau mendengar langsung ungkapan syukur dan penghargaan dari orang yang mereka cintai.
Sesi tersebut diberi nama “Ikatan Baru”, sebuah sesi yang dirancang untuk membantu pasangan suami istri memperbarui komitmen dan menghangatkan kembali hubungan rumah tangga yang mungkin mulai merenggang karena berbagai tantangan kehidupan.
Sekretaris Wanita Bijak Nabire, Maria Eka Purnami Kana, mengatakan kegiatan itu lahir dari keinginan untuk menghadirkan kembali kehangatan dalam keluarga melalui cara-cara sederhana namun bermakna.
“Dalam sesi Ikatan Baru ini, Kami mengundang para suami dari istri-istri yang mengikuti camp pembinaan wanita Bijak dan kami mengajak para pasangan untuk kembali melihat dan menghargai satu sama lain. Mungkin ada hubungan yang selama ini terasa jauh, kurang mesra, atau kurang hangat karena berbagai persoalan hidup. Melalui sesi ini kami ingin mengingatkan bahwa hubungan suami istri perlu terus dirawat,” ujarnya dalam keterangan yang diterima media ini, Jumat, (19/6/2026).
Menurut Maria, bunga yang diberikan para suami bukan sekadar hadiah, melainkan simbol kasih sayang dan penghargaan kepada istri.
“Biasanya perempuan senang ketika diberi bunga. Meskipun hanya satu tangkai, tetapi itu menunjukkan bahwa mereka diperhatikan dan dicintai. Ada ibu-ibu yang mungkin sudah lama atau bahkan belum pernah menerima bunga dari suaminya. Karena itu ketika momen itu terjadi, banyak yang merasa sangat tersentuh,” katanya.
Tak kalah menyentuh adalah saat para istri menyerahkan surat cinta kepada suami mereka. Dalam surat tersebut, para peserta diminta menuliskan hal-hal yang selama ini mungkin sulit diungkapkan secara langsung.
“Pertama mereka menuliskan ucapan syukur karena Tuhan telah menghadirkan suami dalam hidup mereka. Lalu mereka menyampaikan penghargaan atas segala hal yang telah dilakukan pasangan. Karena sebenarnya laki-laki juga membutuhkan penghargaan dan pengakuan dari istrinya,” tutur Maria.
Tak sedikit pula peserta yang memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta maaf kepada pasangan mereka.
“Ada yang menuliskan permintaan maaf karena pernah menyakiti hati suami lewat kata-kata atau tindakan. Kemudian surat itu ditutup dengan ungkapan iman dan harapan agar mereka tetap berjalan bersama, membesarkan anak-anak bersama, dan terus menjadi keluarga yang kuat dalam Tuhan,” ujarnya.
Saat surat-surat itu dibacakan dan bunga diberikan, suasana ruangan berubah menjadi penuh emosi. Beberapa peserta tampak menitikkan air mata, sementara yang lain saling berpelukan dengan pasangan mereka.
“Air mata yang hadir saat itu bukan karena kesedihan, tetapi karena mereka merasa dihargai, dicintai, dan dipulihkan. Banyak pasangan yang kembali mengingat alasan mereka saling memilih dan menjalani kehidupan bersama,” kata Maria.
Selain sesi Ikatan Baru, para peserta juga mendapatkan materi tentang bagaimana perkataan dan sikap seseorang dapat memengaruhi kehidupan rumah tangga.
“Kami belajar bahwa rumah tangga bisa dibangun atau diruntuhkan oleh perkataan dan tingkah laku. Sebagai perempuan yang dipanggil menjadi penolong, kita harus menggunakan kata-kata yang membangun, bukan yang melukai. Karena hal-hal kecil sering kali menentukan suasana dalam keluarga,” jelasnya.
Maria mengakui bahwa budaya mengungkapkan kasih sayang secara terbuka masih jarang dilakukan oleh banyak pasangan di Papua. Karena itu, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru yang memberi kesan mendalam.
“Kita di Papua mungkin belum terbiasa menunjukkan sikap romantis secara terbuka. Padahal perempuan membutuhkan kasih sayang dan perhatian, sementara laki-laki juga membutuhkan penghargaan. Melalui sesi ini kami ingin keduanya saling memahami kebutuhan satu sama lain,” katanya.
Ia berharap apa yang diperoleh para peserta selama camp pembinaan tidak berhenti di lokasi kegiatan, tetapi terus dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami sederhana, yaitu ada hubungan-hubungan yang dipulihkan, ada suami dan istri yang kembali dekat, kembali ceria, dan kembali mesra. Kami ingin kegiatan ini menjadi pemantik agar kehangatan dalam rumah tangga terus terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Wanita Bijak Nabire, Victorina Samberubun, mengatakan bahwa tujuan utama Camp Pembinaan Wanita Bijak adalah memperkuat keluarga sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat dan kehidupan gereja.
“Target akhir dari pembinaan ini adalah supaya keluarga tetap utuh. Dari keluarga yang kuat akan lahir gereja yang kuat. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu, sehingga hubungan itu harus dijaga dan dipelihara dengan baik,” katanya.
Menurut Victorina, berbagai tantangan zaman saat ini membuat keluarga harus semakin kokoh dan saling menguatkan.
“Kami ingin pasangan suami istri semakin kuat, semakin saling menghargai, saling mendukung, dan tetap setia sampai maut memisahkan. Ketika keluarga kuat, maka anak-anak juga akan bertumbuh dengan baik dan gereja akan menjadi kuat,” ujarnya.
Dalam sesi lainnya, para peserta juga diajak merenungkan tentang warisan kehidupan yang akan mereka tinggalkan kepada generasi berikutnya. Victorina menekankan bahwa warisan terbaik bukanlah harta benda, melainkan teladan hidup.
“Hidup ini singkat. Karena itu kita harus meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi anak-anak kita. Warisan yang paling indah bukan tanah, emas, atau uang, tetapi teladan hidup yang baik. Ketika orang tua memberikan contoh yang benar, itulah warisan yang akan terus hidup sampai generasi berikutnya,” tuturnya.
Menutup kegiatan tersebut, Victorina berharap seluruh peserta pulang dengan semangat baru untuk membangun keluarga yang lebih harmonis dan penuh kasih.
“Bagi mama-mama yang masih memiliki pasangan, kami berharap mereka menjadi penolong yang menguatkan suami dan mendampingi anak-anak. Sedangkan bagi mama-mama janda, kami berharap mereka tetap menjadi teladan bagi perempuan-perempuan lain dan terus hidup dekat dengan Tuhan. Pada akhirnya, tujuan kami adalah melihat keluarga-keluarga yang kuat, saling mengasihi, dan tetap bertahan dalam setiap musim kehidupan,” pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw