Menilik Perjuangan Seorang Penyandang Disabilitas di Dunia Perbengkelan di Jayapura 

Abdel Gamel Naser • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:54 WIB
Nawir ketika menambal ban dalam saat ditemui di bengkel mungilnya, di Hamadi, Selasa (22/9/2026) - Foto: Gamel Cepos
Nawir ketika menambal ban dalam saat ditemui di bengkel mungilnya, di Hamadi, Selasa (22/9/2026) - Foto: Gamel Cepos

Modal Nekat Buka Bengkel, Sedih Karena Berulang Kali Dibobol Maling  

Sebagai penyandang disabilitas ternyata tak membuat hidup berhenti begitu saja. Sikap pantang menyerah dan terus mencoba ditunjukkan seorang pemuda bernama Nawir. Meski hanya memiliki 1 kaki namun pantang baginya hidup meminta-minta. Ini dibuktikan dengan setiap hari bekerja di bengkel kecilnya di Lampu Merah Hamadi.

Laporan: Abdel Gamel Naser_Jayapura 

Terpampang jelas bendera merah putih di bagian depan kontainer berwarna gelap yang berjejer dengan tepian lembah. Kontainer mini ini setiap hari dijadikan tempat untuk mencari makan. Hidupnya pemuda ini bergantung dari bengkel. Posisinya hanya beberapa meter dari bak sampah yang setiap hari didatangi warga, persisnya di pertigaan Lampu Merah Pasar Sentral Hamadi. Bendera ini seperti menyampaikan pesan bahwa ada kebanggaan sebagai pemuda bangsa yang enggan menyerah di tengah keterbatasan. 

Dan jika mendekat ke bengkelnya maka terdengar alunan merdu lafaz Quran. Yang diputar ketika itu adalah Surah Yasin.   Bagi umat Islam mendengar ini secara otomatis akan menenangkan hati. Sesulit apapun situasi jika diresapi arti dari surah ini maka perasaan tenang akan menyatu. 

Ya, mungkin dengan cara itu pria bernama Nawir ini bisa merasa tenang usai diterpa musibah. Bagaimana tidak, Minggu malam (20/9) malam bengkel mungilnya yang berada di pinggir jalan dibobol maling. Bengkel yang menjadi tempat penghidupan dia dan keluarganya. Lokasi bengkelnya ini juga tak sulit karena berada di pinggir jalan poros utama. Jika melintas di Hamadi menuju Jayapura maka dipastikan akan melewati bengkelnya. 

erkait kejadian pembobolan bengkelnya Nawir sendiri baru mengetahui kejadian ini pada Senin (21/9) pagi saat akan membuka bengkel.   "Saya datang Senin pagi dan waktu mau buka pintu saya lihat sudah ada bekas congkelan. Saya mulai cemas dan ternyata betul, semua barang diangkut," ujar Nawir kepada dengan nada lemas kepada Cenderawasih Pos Selasa (22/9/2026). Ia mengaku sedih karena dengan status penyandang disabilitas ia mencoba bekerja semampunya dan tidak menyerah pada keadaan. Meski hanya memiliki satu kaki, ia tak ingin dianggap lemah apalagi hanya menunggu bantuan. 

"Jujur saya buka usaha ini tidak punya modal seperti orang di luar sana, saya modal nekat dan berjualan untuk keluarga kecil saya," ungkapnya. Nawir sendiri sebelunya tinggal di Biak, ia memutuskan hijrah ke Jayapura tahun 2019 lalu kemudian menikah dan kini memiliki2 anak. Meski sebagai orang baru ia mengaku tak ingin merepotkan keluarga di Jayapura. Ia awalnya bekerja membantu di bengkel mertuanya selama 1 tahun lebih dan kemudian memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Berangkat pagi dan harus pulang malam agar tetap bisa bertahan dan menghidupi keluarganya. Nawir menceritakan bahwa dirinya memilih membuka usaha bengkel kecilnya di Hamadi karena cukup memahami soal perbengkelan. Dari keuntungan yang belum seberapa iapun pelan-pelan membeli peralatan yang dibutuhkan. 

Namun sayangnya selama membuka bengkel tambal ban ini, ia sering diterpa musibah. "Ada empat kali bengkel saya kebobolan, bahkan satu kali sempat dibakar. Untungnya ada warga yang melihat dan mencoba memadamkan sehingga api hanya membakar bagian luar saja. Nawir menggunakan konsep kontainer sebagai bengkelnya. Kontainer ini sejatinya hanya  terbuat dari seng dengan rangka besi kemudian dicat hitam.

Ukurannya juga tak lebih dari 2 meter. Di bagian samping kiri kanan diletakkan kompresos dan tumpukan ban bekas. Sedangkan di bagian belakang digantung kipas dan bagian atas diletakkan speaker kecil yang selalu diputar. Ketika tak ada kostumer, ia mendengarkan ayat suci Al Quran sambil merebahkan tubuhnya. Ia tak bisa berdiri lama karena hanya ditopang satu kaki. Jadi pada Minggu malam itu, bengkelnya kembali dibobol dan seluruh peralatan bengkelnya dicuri kecuali kompresor. 

Stok ban dalam dan ban luar yang menyimpan keuntungan lebih juga dibawa serta oleh pelaku. "Kalau untuk ban dalam saya pikir tidak apa-apa, tapi ini alat-alat semua dibawa. Saya seperti tidak bisa bekerja lagi akhirnya sementara cari pinjaman atau menggunakan alat seadanya agar bengkel tetap buka," ceritanya. Nawir mengaku sedih karena ia memulai dari nol dan berjuang untuk keluarganya. 

"Saya bekerja bukan untuk cari uang lalu beli minuman, saya harus membeli susu untuk anak dan makan keluarga, tanggungan saya besar," sambungnya. Nawir juga memiliki seorang bayi yang setiap hari harus diberi susu.  Ia menyinggung jika pelaku masih diberi kelengkapan anggota tubuh seharusnya malu. Harusnya bisa bekerja lebih ekstra dan gigih, bukannya mencuri dan merugikan orang lain. 

"Ini usaha saya satu-satunya yang saya coba rintis tapi sudah beberapa kali dibuat begini," tutupnya. Menariknya, meski berstatus disabilitas, Nawir ternyata masih tergabung dalam tim Peparnas Papua. Ia memiliki kelebihan di bidang atletik. "Ia ini kemarin sempat ditanya untuk ikut latihan," sambungnya. Pemuda kelahiran 1988 ini lantas menceritakan awal dirinya kehilangan kaki kanannya.Ia juga pernah menjadi tenaga pendamping namun tak lama.

"Itu tahun 2016 saat itu lagi di pelabuhan Biak dan belajar forklip sama teman. Saat jalan ternyata ada lubang dan ban depan sudah lewat lubangnya karena ukuran ban depan cukup besar tapi ban belakang ini yang terperosok kemudian miring," kenangnya. Saat miring itulah ia yang berdiri disamping rekannya ini memilih melompat namun tidak tahu harus ke arah mana. 

Dan sialnya disaat itu juga alat yang biasa digunakan untuk mengangkat dan memindahkan boks kontainer ini roboh dan menimpa tubuhnya. "Saya sudah tidak tahu harus melompat kemana dan tiba-tiba alat itu menimpa paha saya dan disitulah patah sehingga harus diamputasi," ceritanya. Meski harus kehilangan kaki, Nawir mengaku insiden itu tak merebut dunia dan motivasinya. Nawir tak ingin patah semangat karena menurutnya hidup ditentukan dari kerja keras, ketekunan, pantang menyerah  serta keyakinan. . "Yah mau bagaimana lagi. Hidup harus dijalani dan saya tidak mau melihat ke belakang," tutupnya.  (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
bengkel disabilitas Ceposonline.com