CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Pemerintah Kabupaten Dogiyai mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kopi Papua Tengah yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Festival ini dinilai menjadi ruang promosi kopi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani dan generasi muda orang asli Papua (OAP) untuk terlibat dalam pengembangan industri kopi, mulai dari budidaya hingga menjadi barista profesional.
Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai, Natan Tebai, yang juga menjadi pendamping peserta Festival Kopi asal Dogiyai, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah positif untuk mendorong perkembangan kopi lokal sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda Papua.
Natan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Fritz Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley yang telah menyelenggarakan Festival Kopi Papua Tengah untuk pertama kalinya.
“Kami memberikan apresiasi karena melalui kegiatan ini, petani kopi dan barista, terutama anak-anak asli Papua dari suku Mee, Moni, dan suku lainnya di Papua Tengah, bisa menemukan peluang kerja baru. Ke depan, kopi ini jangan hanya dilirik oleh orang dari luar, tetapi juga harus menjadi milik dan kebanggaan anak-anak asli daerah,” ujar Natan saat ditemui di Kedai Pernah Singgah Kopi P5 Moanemani, di Aula Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, pengembangan industri kopi dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pengangguran sekaligus mendorong generasi muda agar lebih produktif.
“Potensi kopi yang dimiliki Papua Tengah perlu dikembangkan sebagai peluang usaha yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” lugasnya.
Ia berharap generasi muda Papua tidak hanya melihat kopi sebagai minuman atau produk yang dijual di kedai, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun masa depan melalui pertanian, pengolahan, hingga pelayanan kopi secara profesional.
“Anak-anak muda harus mulai melihat kopi sebagai peluang masa depan. Kalau ada energi dan semangat, lebih baik diarahkan untuk mengembangkan kebun kopi dan membangun usaha dari potensi yang kita miliki sendiri,” katanya.
Natan mencontohkan perkembangan anak-anak muda di Dogiyai yang mulai menekuni dunia barista. Menurutnya, perubahan tersebut menunjukkan bahwa kopi tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas pertanian, tetapi juga memiliki peluang pengembangan usaha melalui kreativitas dan keterampilan generasi muda.
Ia menjelaskan, jika sebelumnya kopi lebih banyak dikenal melalui proses penanaman dan pengolahan menjadi bubuk, kini anak-anak muda mulai mempelajari cara menyajikan kopi secara profesional. Bahkan, sejumlah anak muda dari Dogiyai telah berani mengikuti perlombaan barista dalam Festival Kopi Papua Tengah meskipun sebagian dari mereka belajar secara otodidak.
“Dulu kopi lebih banyak ditanam, kemudian diolah menjadi bubuk. Sekarang sudah mulai ada perubahan. Anak-anak muda mulai menggeluti dunia barista. Mereka belajar secara otodidak, tanpa harus melalui pelatihan atau sertifikasi terlebih dahulu, tetapi sudah berani terlibat dalam perlombaan kopi tingkat Papua Tengah,” jelasnya.
Bagi Natan, keberanian generasi muda untuk mengambil bagian dalam kompetisi tersebut merupakan modal awal yang perlu terus dikembangkan.
“Saya berharap pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan dinas terkait dapat menyediakan pembinaan, pelatihan, serta kesempatan bagi anak-anak muda untuk meningkatkan kemampuan mereka,” ungkap Tebai.
Dengan dukungan yang berkelanjutan, ia optimistis generasi muda Papua Tengah dapat mengembangkan keterampilan di bidang kopi dan memiliki kesempatan untuk bersaing pada tingkat yang lebih tinggi, termasuk tingkat nasional.
“Kalau anak-anak muda ini terus didorong dan dibina, mereka bisa berkembang lebih jauh, bahkan sampai ke tingkat nasional. Pemerintah dan dinas terkait perlu membuat kegiatan yang lebih kreatif agar kemampuan mereka terus berkembang,” ujarnya.
Meski demikian, Natan mengingatkan bahwa pengembangan industri kopi tidak boleh hanya berfokus pada barista, kedai kopi, dan kegiatan festival. Petani sebagai pihak yang menghasilkan bahan baku utama harus menjadi perhatian penting dalam setiap kebijakan pengembangan kopi di Papua Tengah.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi petani kopi, mulai dari belum tersedianya data yang akurat mengenai jumlah petani, keterbatasan akses untuk membuka lahan baru, hingga belum optimalnya pengembangan merek dan perlindungan hak kekayaan intelektual atas produk kopi lokal.
“Persoalan pertama adalah kita belum memiliki data yang benar-benar jelas tentang berapa banyak petani kopi di Papua Tengah. Petani yang dimaksud adalah mereka yang memiliki lahan, mengelola kebun kopi, dan melakukan pembibitan secara mandiri. Selain itu, ada persoalan pembukaan lahan baru, merek produk, dan hak kekayaan intelektual yang juga perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan pendataan dan verifikasi petani kopi secara menyeluruh agar program bantuan dan pendampingan dapat diberikan secara tepat sasaran.
“Pemerintah juga diharapkan dapat menentukan petani binaan berdasarkan data yang jelas sehingga pengembangan usaha kopi dapat dilakukan secara terarah dan berkelanjutan,” harapnya.
Selain pendataan, Natan mengusulkan pembangunan tempat penampungan hasil produksi kopi dari petani binaan. Keberadaan tempat penampungan dinilai dapat memudahkan pengumpulan hasil panen, pengelolaan stok, dan pemenuhan pesanan dalam jumlah tertentu.
Dengan sistem tersebut, hasil produksi petani diharapkan dapat dipasarkan secara lebih terorganisasi dan membuka peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar di luar Papua Tengah, sesuai dengan kualitas, volume produksi, dan kebutuhan pembeli.
“Kalau pemerintah ingin membantu petani, perlu ada petani binaan yang sudah terverifikasi. Setelah itu, hasil kopi mereka bisa dikumpulkan di satu tempat penampungan. Jadi, ketika ada pesanan dalam jumlah tertentu, petani sudah memiliki sistem untuk memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menyusun strategi atau regulasi yang memperkuat posisi petani dalam rantai perdagangan kopi, mulai dari proses penanaman, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memahami proses bisnis dan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik dari hasil produksinya.
“Petani harus mengetahui perjalanan kopi sejak ditanam sampai dijual. Mereka perlu tahu berapa biaya yang dikeluarkan, berapa hasil yang diperoleh, dan berapa keuntungan yang bisa didapatkan. Jangan sampai petani hanya bekerja di kebun, tetapi tidak mengetahui dengan jelas nilai ekonomi dari hasil produksinya,” tegasnya.
Ia menambahkan, Festival Kopi Papua Tengah akan memberikan dampak yang lebih besar apabila diikuti dengan program pendampingan yang berkelanjutan. Festival harus menjadi ruang pertemuan antara petani, pelaku usaha, barista, pemerintah, dan pembeli untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan.
Menurutnya, masyarakat dan pembeli kopi juga perlu didorong untuk mengenal petani secara langsung, termasuk mengetahui asal kopi, proses budidaya, jenis kopi, serta cara pengolahannya. Dengan begitu, hubungan antara produsen dan konsumen tidak hanya berhenti pada transaksi jual beli, tetapi juga membangun kepercayaan terhadap kualitas dan identitas kopi lokal.
“Harapan kami, ke depan petani-petani yang sudah terdata dan menjadi binaan pemerintah juga harus dihadirkan dalam kegiatan festival seperti ini. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menikmati kopi, tetapi juga bisa mengenal petaninya, mengetahui asal kopi, proses penanaman, pengolahan, hingga kualitasnya,” tutup Natan. (*)
Editor : Elfira Halifa