Cesilius Tekege, Mengabdi di Omakapau Diyoudimi Saat Krisis Guru, Menangis Melihat Muridnya Berhasil

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 12:20 WIB
Bapak Guru Cesilius Tekege. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Bapak Guru Cesilius Tekege. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Ada perjalanan panjang di balik hadirnya SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia di Kampung Omakapau Diyoudimi, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai.

Sebelum sekolah itu menerima siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027, masyarakat Diyoudimi telah lebih dahulu berjuang menjaga pendidikan anak-anak mereka selama puluhan tahun.

Di tengah perjalanan panjang itu, Bapa Guru Cesilius Tekege juga adalah salah satu Guru dari pendahulunya yang pernah berdiri di depan kelas ketika tenaga guru sangat terbatas. Ia bukan hanya mengajar, tetapi juga ikut melayani kehidupan gereja dan masyarakat.

Kini, puluhan tahun setelah meninggalkan Diyoudimi, Cesilius kembali menyaksikan buah dari perjuangan tersebut.

Ia melihat anak-anak yang dahulu duduk di hadapannya telah tumbuh dewasa dan berhasil menempuh berbagai profesi. Bahkan, salah satu mantan anak didiknya kini dipercaya menjadi kepala sekolah di SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Puncaknya terjadi pada Senin (7/9/2026). Cesilius melihat langsung Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa datang ke Kampung Omakapau Diyoudimi untuk meletakkan batu pertama pembangunan asrama SMP.

Momen itu membuat matanya berkaca-kaca.“Saya sangat terharu dan bangga. Dulu kami berjuang dengan keadaan yang terbatas. Sekarang sudah ada SMP, dan Gubernur datang langsung untuk meletakkan batu pertama pembangunan asrama,” ungkap Cesilius kepada media ini, Selasa (8/9/2026).

 Bagi Cesilius, kehadiran SMP di Diyoudimi bukan sesuatu yang tiba-tiba. Sekolah itu merupakan hasil dari perjalanan panjang masyarakat yang sejak dahulu menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari masa depan anak-anak mereka.

Pendidikan yang Diperjuangkan Sejak 1956

Cerita pendidikan di Diyoudimi bahkan jauh lebih tua daripada masa pengabdian Cesilius.

Sekolah rakyat atau Doorps School di Omakapau Diyoudimi telah beroperasi sejak 1956. Guru Katakis Nataniel Waiku dari Mimikawee menjadi salah satu guru yang mengawali pendidikan di wilayah tersebut.

Pada 1962, SD Missi Omakapau mulai mendapat subsidi pemerintah. Guru Eria dari Bintuni kemudian datang dan menjadi kepala sekolah pertama.

Setelah itu, sejumlah guru datang silih berganti memperkuat pendidikan di kampung tersebut. Di antaranya Piet Kambia dari Babo, Fakfak, Lukas Dogomo dari Abaimaida, Zakarias Petege lulusan SGA Biak, Willem Magai, Matius Magai hingga Modestus Wakei.

Dari generasi ke generasi, sekolah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, pendidikan di Diyoudimi tidak hanya bertumpu pada sekolah dan guru.

Masyarakat sejak dahulu memiliki kesadaran kuat bahwa pendidikan merupakan jalan bagi anak-anak mereka untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Ketika ada anak yang harus melanjutkan pendidikan kelas lima dan enam ke Timeepa atau Bomomani, masyarakat bergotong royong membantu biaya pendidikannya.

Begitu pula ketika anak-anak melanjutkan sekolah ke SMP, SMA hingga perguruan tinggi. “Kalau ada anak pergi sekolah, masyarakat sama-sama bantu. Kami buat ebamukai untuk biaya anak itu,” cerita Cesilius.

Menurutnya, dahulu satu anak yang pergi melanjutkan sekolah bukan hanya menjadi kebanggaan orang tua, tetapi kebanggaan seluruh masyarakat. “Satu anak pergi sekolah itu jadi kebanggaan kami. Dari dulu masyarakat Diyoudimi memang bersatu dan fokus bagaimana menghasilkan SDM anak-anak mereka,” tuturnya.

Semangat itu pula yang kemudian dirasakan Cesilius ketika datang mengabdikan diri di SD YPPK Santo Yoseph Omakapau Diyoudimi pada 1989.

Ia bertahan hingga 2002, sekitar 12 tahun, di tengah kondisi sekolah yang mengalami kekurangan tenaga guru. “Waktu itu kami tiga guru. Dua guru kelas, saya guru agama,” kenangnya.

Tidak lama kemudian, dua guru lainnya dipindahkan. Tinggallah Cesilius bersama Petrus Magai untuk menangani pendidikan anak-anak.

Sekolah memiliki empat kelas, sementara tenaga guru sangat terbatas. Keduanya harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Bahkan, sekolah sempat tidak memiliki kepala sekolah.

Pihak sekolah kemudian meminta Cesilius menjadi kepala sekolah. Namun, ia memilih tetap menjadi guru. “Saya tidak mau jadi kepala sekolah. Saya mau mengajar saja,” katanya.

Kekurangan guru membuat Cesilius harus mengajar berbagai kelas dan mata pelajaran agar proses pendidikan tetap berjalan.

Sebagai guru agama, pengabdiannya juga tidak berhenti ketika jam sekolah selesai.

Ia ikut menjalankan pelayanan gereja dan masyarakat. Ia membantu mempersiapkan anak-anak menerima Komuni Pertama, mendampingi pelayanan perkawinan, memimpin doa hingga terlibat dalam pelayanan pemakaman. “Selain mengajar, saya juga ikut pelayanan. Hari Minggu kami bergantian,” tuturnya.

Kedekatan itu membuat hubungan Cesilius dengan anak-anak semakin kuat. “Mereka anggap kami para guru adalah bapak mereka,” ujar Cesilius.

Di sekolah, Cesilius dikenal tegas. Namun, ia mengatakan tidak pernah memukul murid. “Saya memang keras di sekolah, tetapi saya tidak pukul anak-anak. Paling saya cubit telinga walau ada yang berdarah,” katanya.

Di balik ketegasannya, ia berusaha melihat dan mengembangkan bakat anak-anak.

Kemampuan menggambar dan mengukir yang dimilikinya ia gunakan dalam berbagai kegiatan sekolah maupun gereja. Ia juga mendorong anak-anak mengikuti berbagai perlombaan.

Salah satu anak didiknya yang masih ia ingat adalah Mathias Butu.

Mathias pernah mengikuti lomba menggambar hingga meraih juara tingkat distrik dan membawa pulang piala. “Saya bangga sekali. Anak didik Mathias yang kecil pulang bawa piala juara I waktu itu,” ceritanya mengenang masa pengabdiannya di Omakapau Diyoudimi.

Bagi Cesilius, piala tersebut bukan sekadar penghargaan dari sebuah perlombaan. Piala itu menjadi salah satu kenangan tentang bagaimana anak-anak yang ia didik mulai berani menunjukkan kemampuan mereka.

Kehidupan bersama anak-anak juga tidak hanya berlangsung di dalam kelas.

Cesilius bersama anak-anak muda pernah membentuk kelompok sepak bola seperti Tunas Kacang dan Teu Banjir. “Selain belajar di dalam kelas, saya juga poles bakat dan minat mereka lewat olahraga sepak bola. Kami bentuk tim Tunas Kacang dan Teu Banjir waktu itu,” ceritanya.

Semua dijalani dengan fasilitas yang jauh dari kondisi pendidikan sekarang.

Tempat tinggal guru pun sangat terbatas. Cesilius pernah tinggal bersama Modestus Wakei dan Raimund Wakei dalam satu rumah guru.

Ketika Matias Magay datang membantu mengajar, persoalan tempat tinggal belum juga teratasi. Matias harus datang dari Kampung Megaikebo setiap pagi untuk mengajar dan kembali setelah kegiatan sekolah selesai. “Rumah guru hanya satu. Jadi Matias datang pagi mengajar, selesai sekolah dia kembali ke Kampung Megaikebo,” tutur Cesilius.

Namun, keterbatasan itu tidak membuat pendidikan berhenti. Masyarakat justru menjadi penopang utama para guru dan sekolah. “Guru-guru itu masyarakat sangat hormati. Kebutuhan guru, dari bahan makanan kebun sampai urusan dapur, masyarakat perhatikan,” katanya.

Bagi Cesilius, dukungan tersebut membuat guru merasa dihargai dan mampu bertahan menjalankan tugasnya. “Kalau ada yang sekolah, kami biayai ramai-ramai. Tidak seperti di kampung lain,” ujarnya.

Pergi dalam Tangis, Kembali Melihat Murid Berhasil Setelah bertahun-tahun mengabdi, Cesilius akhirnya meninggalkan Diyoudimi. Namun, ia tidak sempat memberitahukan kepergiannya kepada masyarakat.

Ketika warga datang ke rumah guru dan mendapati rumah tersebut sudah kosong, suasana berubah menjadi haru. “Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua semua menangis. Mereka datang, tetapi rumah guru sudah kosong,” kenangnya.

Waktu berlalu. Anak-anak yang dahulu duduk di depan kelasnya tumbuh dewasa dan menempuh jalan hidup masing-masing.

Sebagian menjadi guru, pegawai pemerintahan hingga anggota DPR. Namun, mereka tidak melupakan orang yang pernah mendidik mereka.

Pada 2021, ketika Cesilius sedang sakit di Nabire, sejumlah mantan muridnya datang menjenguk. “Mereka datang membawa buah, makanan, minuman, pakaian dan bantuan sekitar Rp70 juta,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.

Namun, yang paling membuat Cesilius tersentuh bukanlah bantuan tersebut. Melainkan ucapan para mantan muridnya. “Bapak, kalau dulu bapak tidak ajar kami baik-baik, mungkin kami tidak seperti ini,” tuturnya, menirukan ucapan mantan muridnya.

Mereka bahkan menunjukkan seragam pekerjaan yang dikenakan sebagai tanda perjalanan hidup yang telah mereka lalui.

Momen itu membuat Cesilius menangis. “Mereka bilang kalau dulu tidak sekolah baik-baik, mungkin masih berkebun kacang di Diyoudimi,” katanya.

Air mata itu menjadi gambaran kebahagiaan seorang guru yang akhirnya melihat hasil dari pendidikan yang dahulu diperjuangkannya bersama masyarakat.

Tanah Diberikan Gratis, Bukti Pendidikan adalah Milik Bersama

Perjuangan masyarakat Diyoudimi untuk pendidikan juga terlihat dari dukungan mereka terhadap pembangunan SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Masyarakat dengan sukarela melepaskan tanah untuk pembangunan sekolah dan asrama tanpa meminta pembayaran.

Bagi Cesilius, sikap tersebut merupakan bentuk nyata bahwa masyarakat Diyoudimi sejak dahulu menempatkan pendidikan sebagai kepentingan bersama.

Tanah yang dilepaskan secara gratis itu, menurutnya, merupakan bagian dari semangat gotong royong yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Tanah ini masyarakat kasih untuk pendidikan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat memang dari dulu punya komitmen untuk sekolah anak-anak. Mereka tidak hitung soal tanah, yang mereka pikirkan bagaimana anak-anak bisa sekolah,” ungkapnya.

Bagi masyarakat, kata Cesilius, guru juga memiliki tempat khusus dalam kehidupan kampung.

Guru tidak hanya dipandang sebagai orang yang datang mengajar, tetapi sebagai bagian dari keluarga yang ikut membentuk masa depan anak-anak.

“Guru-guru itu masyarakat sangat hormati. Karena guru datang untuk mendidik anak-anak mereka. Jadi masyarakat juga merasa punya tanggung jawab membantu guru dan sekolah,” tuturnya.

Semangat itu yang membuat perjuangan pendidikan di Diyoudimi dapat bertahan meski dalam berbagai keterbatasan.

Kini, tanah yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mulai menjadi ruang baru bagi pendidikan generasi berikutnya.

Dari Ebamukai hingga Asrama SMP

Kebanggaan Cesilius kini semakin lengkap. Salah satu mantan anak didiknya dipercaya menjadi kepala sekolah di SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Anak yang dahulu duduk sebagai murid, kini berdiri sebagai pemimpin sekolah dan meneruskan tugas mendidik generasi berikutnya.

Setelah puluhan tahun masyarakat memperjuangkan pendidikan, kini jenjang pendidikan baru hadir di kampung mereka.

Pada tahun ajaran 2026/2027, SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia untuk pertama kalinya menerima siswa baru.

Bagi masyarakat Diyoudimi, kehadiran SMP bukan sekadar berdirinya sebuah sekolah baru.

SMP menjadi kelanjutan dari perjalanan panjang pendidikan yang telah mereka bangun sejak 1956.

Anak-anak yang dahulu harus pergi ke Timeepa atau Bomomani untuk melanjutkan pendidikan, kini memiliki kesempatan belajar di jenjang SMP di wilayah sendiri.

Harapan itu semakin nyata ketika Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa hadir di Kampung Omakapau Diyoudimi pada Senin (7/9/2026).

Gubernur melakukan peletakan batu pertama pembangunan asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Bagi Cesilius, melihat seorang gubernur datang langsung ke kampung tempat ia pernah mengabdi merupakan pengalaman yang sangat emosional.

Ia teringat masa ketika dirinya bersama guru-guru lain berjuang dengan fasilitas seadanya.
Kini, kampung itu memiliki SMP. Murid-murid baru mulai belajar. Mantan muridnya menjadi kepala sekolah. Masyarakat memberikan tanah untuk pendidikan. Dan pembangunan asrama mulai dikerjakan.

“Saya sangat terharu. Dulu kami berjuang dengan keadaan yang terbatas. Sekarang sudah ada SMP, dan Gubernur datang langsung untuk meletakkan batu pertama pembangunan asrama,” ungkapnya.

Menurut Cesilius, semua itu tidak lahir secara tiba-tiba. “Kehadiran SMP dan Gubernur ini adalah buah dari persatuan masyarakat Omakapau Diyoudimi. Dari dulu masyarakat bersatu untuk pendidikan anak-anak,” katanya.

Ia berharap hadirnya SMP dan pembangunan asrama tidak berhenti sebagai sebuah bangunan, tetapi menjadi awal dari semakin baiknya kualitas pendidikan di Mapia.

“Harapan saya, pendidikan di Mapia harus terus maju. Jangan sampai anak-anak kita berhenti hanya karena tidak ada sekolah atau tempat tinggal. Kalau fasilitas pendidikan sudah ada, guru juga harus diperhatikan dan anak-anak harus didorong untuk terus sekolah sampai perguruan tinggi,” harapnya.

Ia juga berharap pemerintah, gereja, guru, orang tua dan masyarakat terus berjalan bersama untuk memastikan anak-anak Mapia mendapatkan pendidikan yang layak. “Kalau semua bersatu, saya yakin anak-anak Mapia bisa bersaing dan menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat, daerah dan bangsa,” ujarnya.

Kini, perjalanan itu seperti menemukan babak baru.

Dulu masyarakat mengumpulkan dukungan melalui ebamukai agar anak-anak bisa pergi sekolah. Dulu guru-guru bertahan mengajar meski kekurangan tenaga dan fasilitas. Dulu anak-anak harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan.

Kini, SMP hadir di kampung mereka. Tanah diberikan masyarakat untuk kepentingan pendidikan. Asrama mulai dibangun. Dan anak-anak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus jauh meninggalkan kampung sejak usia dini.

“Dari generasi ke generasi, perjuangan itu terus berpindah tangan. Dari guru kepada murid. Dari orang tua kepada anak. Dari masyarakat kepada generasi berikutnya. Semua proses ini saya bangga, terharu dan apresiasi,” tuturnya.

Bagi Cesilius, melihat perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian seorang guru tidak pernah benar-benar berakhir.

Ia pernah datang ketika sekolah kekurangan guru. Ia pernah mengajar berbagai kelas. Ia pernah melayani masyarakat dan gereja. Ia pernah meninggalkan Diyoudimi dalam suasana tangis.

Namun, puluhan tahun kemudian, ia kembali dan melihat murid-muridnya berhasil.

Salah satunya bahkan kini menjadi kepala sekolah.

Ia melihat masyarakat tetap menjaga semangat pendidikan dengan memberikan tanah secara cuma-cuma untuk pembangunan sekolah dan asrama.

  Ia juga melihat SMP yang dahulu mungkin hanya menjadi harapan kini benar-benar hadir.

Dan pada hari itu, seorang gubernur datang langsung untuk ikut membangun masa depan anak-anak Diyoudimi.

Bagi seorang guru, mungkin tidak ada hadiah yang lebih besar daripada melihat muridnya berhasil dan perjuangan pendidikan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Cesilius tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Lalu ia mengucapkan kalimat sederhana yang merangkum seluruh perjalanan panjang itu.“Saya bangga.” (*)

Editor : Lucky Ireeuw
Ceposonline.com guru Dogiyai