Merasa Tidak Aman, 308 OAP Mengungsi dari Tambang Emas Tradisional Kawe

Yulius Sulo • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 18:09 WIB
Ratusan Orang Asli Papua saat tiba di Pelabuhan Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel-Papua Selatan. Mereka mengungsi meninggalkan Tambang Emas Tradisional Kawe di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan karena mulai merasa tidak aman. 
(CEPOSONLINE.COM/HUMAS POLRES BOVEN DIGOEL)   
Ratusan Orang Asli Papua saat tiba di Pelabuhan Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel-Papua Selatan. Mereka mengungsi meninggalkan Tambang Emas Tradisional Kawe di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan karena mulai merasa tidak aman.  (CEPOSONLINE.COM/HUMAS POLRES BOVEN DIGOEL)   

CEPOSONLINE.COM, BOVEN DIGOEL— Sebanyak 308 orang asli Papua (OAP) yang sebelumnya berada di kawasan Tambang Emas Tradisional Kawe, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan memilih  mengungsi ke Kabupaten Boven Digoel. Mereka memilih meninggalkan kawasan tambang karena mulai merasa tidak aman.

Ratusan pengungsi tersebut tiba di Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel, dalam dua gelombang. Berdasarkan pendataan Polres Boven Digoel, gelombang pertama sebanyak 274 orang, sedangkan gelombang kedua sebanyak 34 orang.

Kapolres Boven Digoel Kompol Dian Novita Pitersz melalui Kasi Humas Polres Boven Digoel Aiptu Ihsan saat dihubungi media ini melalui telepon seluler, Sabtu (8/8/2026), membenarkan kedatangan ratusan warga dari kawasan tambang tersebut.

“Total pengungsi dari Tambang Emas Tradisional Kawe yang tiba di Tanah Merah sebanyak 308 orang. Informasinya ada sekitar 500 orang, tetapi yang sudah sampai di Tanah Merah sampai hari ini sebanyak 308 orang. Seluruhnya orang asli Papua,” kata Ihsan.

Ia menjelaskan, dari 308 pengungsi tersebut, sebanyak 55 orang telah dipulangkan dari Boven Digoel menuju Jayapura melalui Merauke.

Proses pemulangan 55 pengungsi tersebut sepenuhnya dibiayai Pemerintah Kabupaten Boven Digoel dan mendapat pengawalan dari Polres Boven Digoel.

Sementara itu, 253 pengungsi lainnya masih berada di Boven Digoel. Sebagian besar merupakan warga Kabupaten Boven Digoel. Namun, terdapat pula pengungsi yang berasal dari Kabupaten Merauke dan kabupaten lainnya yang memiliki keluarga di Boven Digoel.

Menurut Ihsan, sebagian pengungsi masih ditampung di Gedung Soska, Tanah Merah. Kebutuhan makan dan minum para pengungsi selama berada di tempat penampungan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Boven Digoel.

Di sisi lain, Polres Boven Digoel melakukan pendataan terhadap para pengungsi, termasuk pemeriksaan kesehatan serta barang-barang yang mereka bawa dari lokasi tambang.

“Mereka yang mengeluh sakit langsung mendapat pelayanan dari petugas yang sudah kita siapkan,” jelasnya.

Ihsan menambahkan, ratusan warga tersebut memilih meninggalkan kawasan Tambang Emas Tradisional Kawe karena mulai merasa tidak aman. Mereka kemudian mengungsi ke Boven Digoel untuk mencari tempat yang dinilai lebih aman.

Pemerintah Kabupaten Boven Digoel bersama Polres Boven Digoel hingga kini masih melakukan pendataan terhadap pengungsi yang telah tiba, sekaligus memastikan kebutuhan dasar dan kondisi kesehatan mereka tetap terlayani.

Informasi yang diterima aparat menyebutkan jumlah warga yang meninggalkan kawasan Tambang Emas Tradisional Kawe masih berpotensi bertambah. Pasalnya, diperkirakan terdapat sekitar 500 orang yang berada di kawasan tersebut.(*)

Editor : Agung Trihandono
tambang emas boven digoel PAPUA SELATAN