CEPOSONLINE.COM, BIAK-Aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah di Kabupaten Biak Numfor masih belum berjalan normal menyusul dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kualitas udara mengalami penurunan di beberapa wilayah.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Dinas Pendidikan sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan penghentian sementara aktivitas sekolah sejak Senin (24/8/2026).
Kebijakan tersebut kemudian diperpanjang hingga Sabtu (29/8/2026) berdasarkan surat edaran Bupati Biak Numfor sebagai langkah antisipasi terhadap risiko kesehatan peserta didik akibat paparan asap.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Biak Numfor, Iwan Ismulyanto, menyampaikan bahwa keputusan terkait aktivitas sekolah masih mempertimbangkan hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Menurutnya, kondisi udara menjadi salah satu indikator utama sebelum pemerintah mengambil kebijakan lanjutan terkait pembukaan kembali sekolah.
"Untuk aktivitas sekolah, kita masih menunggu hasil pemantauan kualitas udara bersama Dinas Kesehatan. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah selanjutnya," ujar Iwan saat memberikan keterangan dalam konferensi pers Satgas Karhutla Kabupaten Biak Numfor, Sabtu (29/8/2026).
Iwan menjelaskan, Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan pengukuran kualitas udara menggunakan alat pemantau PM10 yang ditempatkan di salah satu titik pemantauan.
Dari hasil pengukuran sebelumnya di wilayah Adain Nosen, ditemukan adanya peningkatan kadar partikel debu di udara.
"Alat yang kami punya dari Dinas Lingkungan Hidup adalah PM10. Sudah kita operasikan satu kali di titik Kepala Desa Adain Nosen. Hasilnya, standar debu adalah 75, sementara hasil pengukuran mencapai 78," jelasnya.
Selain itu, pengukuran juga mencatat adanya peningkatan kadar karbon dioksida (CO₂).
"Untuk CO₂ standar bakunya sekitar 400 sampai 420, sementara hasil yang kami dapatkan mencapai 548," katanya.
Namun, proses pemantauan lanjutan mengalami kendala teknis setelah alat tersebut dipindahkan ke lokasi lain. Pemerintah daerah kini masih menunggu kedatangan teknisi dari Jayapura untuk memperbaiki peralatan tersebut.
Pemkab Biak Numfor memastikan kebijakan terkait pembelajaran akan mempertimbangkan aspek keselamatan dan kesehatan siswa maupun tenaga pendidik.
Sebelumnya, penghentian sementara aktivitas sekolah dilakukan sebagai langkah preventif karena asap Karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak.
Dinas Kesehatan Biak Numfor sebelumnya juga melaporkan adanya peningkatan kasus ISPA selama periode Karhutla, sehingga pemerintah mengambil langkah kehati-hatian.
Sementara itu, Satgas Karhutla terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api dan kondisi udara di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Yendidori, Kadaun Darfuar, dan beberapa kawasan lainnya.
Pemerintah mengimbau masyarakat, khususnya orang tua dan peserta didik, untuk tetap mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kebijakan sekolah dari pemerintah daerah.
Keputusan pembukaan kembali aktivitas pendidikan akan dilakukan setelah adanya evaluasi kondisi udara dan rekomendasi dari instansi teknis terkait. (*)
Editor : Elfira Halifa