20 Ribu Pengunjung, Rp11,2 Miliar Berputar di Festival Budaya Biak Melanesia

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:22 WIB
Karamaian di Kota Biak saat penyelenggaraan Drumband Marching Band pada penutupan Festival Budaya Biak Melanesia, Rabu (21/10/2026).(CEPOSONLINE.COM/ISMAIL).
Karamaian di Kota Biak saat penyelenggaraan Drumband Marching Band pada penutupan Festival Budaya Biak Melanesia, Rabu (21/10/2026).(CEPOSONLINE.COM/ISMAIL).

CEPOSONLINE.COM, BIAK-Festival Budaya Biak Melanesia (FBBM) 2026 berakhir setelah berlangsung selama lima hari sejak 17 Oktober. Festival budaya yang dipusatkan di Kabupaten Biak Numfor itu mencatat 20.069 pengunjung dengan perputaran ekonomi mencapai Rp11,254 miliar.

Capaian tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Onny T. Dangeubun, dalam laporan penutupan FBBM 2026, Selasa (21/10/2026) malam.

Onny menyatakan, berakhirnya rangkaian FBBM bukan berarti upaya pelestarian kebudayaan Biak ikut selesai. Festival tersebut justru menjadi bagian dari upaya membangun fondasi pemajuan kebudayaan secara berkelanjutan.

“Budaya adalah identitas dan identitas harus menjadi kebanggaan. Dia bersifat inklusif dan berkelanjutan. Untuk itu narasi, literasi, ritual, serta atraksi tentang budaya harus di orkestrasi menjadi pusaka bersama yang menghidupkan,” kata Onny.

Menurutnya, pemajuan kebudayaan melalui FBBM 2026 diarahkan pada empat aspek utama, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.

Perlindungan dilakukan melalui inventarisasi, penyelamatan dan publikasi kekayaan budaya. Pengembangan diarahkan untuk menghidupkan aktivitas kebudayaan melalui kreasi, inovasi serta pertukaran budaya. Sementara pemanfaatan ditujukan untuk memperkuat jati diri, ketahanan budaya sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Adapun pembinaan dilakukan dengan memperkuat keterlibatan sumber daya manusia, lembaga serta pranata budaya agar pelestarian kebudayaan tidak berhenti pada penyelenggaraan festival.

Sepanjang lima hari pelaksanaan, FBBM 2026 menghadirkan tujuh dari 10 objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.

Ketujuh objek tersebut meliputi tradisi lisan, adat istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa dan permainan tradisional.

“Hanya tiga yang belum kita lakukan pada perhelatan tahun ini, salah satunya terkait dengan manuskrip,” ujarnya.

Data panitia mencatat sebanyak 20.069 orang menghadiri rangkaian FBBM 2026. Dari jumlah tersebut, pengunjung perempuan mencapai 53 persen dan laki-laki 47 persen, dengan kelompok usia sekolah dan usia produktif menjadi kelompok dominan.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Biak Numfor. Sebanyak 1.726 wisatawan nusantara tercatat datang dari berbagai daerah, sementara wisatawan lokal mencapai 18.311 orang.

Festival ini juga menarik 32 warga negara asing yang berasal dari Selandia Baru, Swiss, Amerika Serikat, Belanda, Australia dan Jepang.

Tingginya kunjungan tersebut turut memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Selama lima hari penyelenggaraan, perputaran ekonomi FBBM 2026 diperkirakan mencapai Rp11,2 miliar.

Perputaran uang itu tersebar pada berbagai sektor. Belanja untuk talent dan seniman tercatat Rp690,5 juta, produksi event Rp723 juta, makanan dan minuman Rp1,505 miliar, penjualan suvenir Rp128,725 juta, serta persewaan pakaian dan aksesori adat mencapai Rp1,030 miliar.

Aktivitas ekonomi juga terlihat pada penyelenggaraan kuliner tradisional Munara Fananggi, dengan sedikitnya 14.200 porsi makanan disajikan selama rangkaian festival. Nilai ekonomi lainnya berasal dari DPA kegiatan serta penjualan para pelaku UMKM yang berlangsung sepanjang festival.

Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berharap fondasi yang telah dibangun melalui FBBM terus memperkuat pelestarian warisan budaya, pendidikan kebudayaan bagi generasi muda, aktivitas ekonomi lokal serta identitas Biak sebagai salah satu pusat kebudayaan Melanesia di Tanah Papua.

Meski seremoni FBBM 2026 telah berakhir, pemerintah daerah menegaskan agenda pemajuan kebudayaan Biak akan terus berjalan melalui pelibatan masyarakat, lembaga adat, sekolah, seniman, budayawan dan berbagai pemangku kepentingan. (*).

Editor : Elfira Halifa
festival Biak Numfor