9 Menit Dua Kebakaran Terjadi di Biak, Polisi Kantongi Dugaan Oknum

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:29 WIB
Aparat gabungan dan Tim SAR melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Biak Numfor.(CEPOSONLINE.COM/SATGAS KARHUTLA BIAK)
Aparat gabungan dan Tim SAR melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Biak Numfor.(CEPOSONLINE.COM/SATGAS KARHUTLA BIAK)

CEPOSONLINE.COM, BIAK-Rangkaian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Biak Numfor mulai menunjukkan pola yang tidak biasa.

Titik api kembali muncul di sejumlah lokasi yang sebelumnya terbakar, bahkan dua kebakaran pada Sabtu (29/8/2026) terjadi hanya berselang sembilan menit.

Memasuki hari kedelapan penanganan karhutla, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Biak Numfor mencatat kebakaran pertama terjadi di wilayah Yendidori pada pukul 12:37 WIT. 

Sembilan menit kemudian, laporan kebakaran kembali diterima dari Kampung Kadaun Darfuar pada pukul 12:46 WIT.

Kedua lokasi tersebut langsung mendapat penanganan dari tim gabungan untuk mencegah api meluas, terutama mendekati kawasan permukiman masyarakat.

Ketua Satgas Karhutla Biak Numfor, Lot Yensenem yang juga Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Biak Numfor menyampaikan, pola waktu kejadian tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, kejadian kebakaran sebelumnya juga menunjukkan kecenderungan serupa, yakni muncul pada waktu dan Lokasi yang relative sama, kembali terjadi di wilayah yang sama.

"Memang terbukti, tapi ini masih dalam asas praduga tak bersalah. Dari struktur waktu, kejadian yang kemarin juga hampir sama, terjadi pada jam-jam tertentu di titik yang berbeda," ujarnya.

Selain pola waktu, Satgas juga mencermati bahwa lokasi munculnya api cenderung berulang pada kawasan yang sama.

Beberapa wilayah yang disebut menjadi titik berulang antara lain Yendidori, Kadaun Darfuar, Kelapa Satu, Sumberker, hingga Adainasnosen.

"Kalau bukan di Yendidori, pasti Kadaun. Kalau bukan Kadaun, pasti Kelapa Satu atau Sumberker. Kemudian kembali lagi ke Adain Nosen," ungkap Lot Yensenem.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai penyebab kebakaran yang terus berulang pada kawasan yang sama.

Apakah seluruh kejadian tersebut murni akibat faktor alam dan kondisi musim kering, atau terdapat faktor manusia yang secara sengaja memicu munculnya titik api, menjadi hal yang kini perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan.

Satgas menyampaikan bahwa aparat kepolisian telah menerima sejumlah informasi terkait dugaan pihak-pihak yang mengetahui maupun terlibat dalam kejadian tersebut.

Namun, hingga saat ini proses hukum masih berjalan dan seluruh pihak tetap harus mengedepankan asas praduga tak bersalah.

"Ada oknum yang sudah dikantongi oleh pihak kepolisian. Tetapi untuk membuktikan keterlibatan seseorang tentu menjadi kewenangan aparat melalui proses penyidikan," pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
BIAK karhutla