Pola Kebakaran Berulang di Biak Jadi Sorotan, Satgas Temukan Api Muncul di Titik dan Waktu Serupa

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:27 WIB

Ketua Satgas Karhutla, Lot Yensenem
(Istimewa)

Ketua Satgas Karhutla, Lot Yensenem (Istimewa)

CEPOSONLINE.COM, BIAK – Rangkaian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Biak Numfor dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan pola yang menjadi perhatian Satuan Tugas Penanganan Karhutla. Kemunculan titik api yang berulang pada lokasi tertentu serta waktu kejadian yang hampir serupa membuat dugaan adanya faktor kesengajaan menjadi salah satu hal yang tengah didalami.

Memasuki hari kedelapan penanganan karhutla, Sabtu (29/8), Satgas Karhutla kembali mencatat dua kejadian kebakaran yang terjadi dalam rentang waktu hanya beberapa menit.

Kebakaran pertama terjadi di wilayah Yendidori pada pukul 12.37 WIT. Tidak berselang lama, pada pukul 12.46 WIT, laporan kebakaran kembali diterima dari Kampung Kadaun Darfuar.

Kedua lokasi tersebut langsung mendapat penanganan dari tim gabungan untuk mencegah api meluas, terutama mendekati kawasan permukiman masyarakat.

Ketua Satgas Karhutla Biak Numfor, Lot Yensenem yang juga Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Biak Numfor, didampingi, Asisten II Setda Samofa, Adam Umar,  Kepala DLH Biak Iwan Ismulayanto, Perwakilan Dinas Kesehatan, unsur TNI/Polri, dalam keterangannya menyampaikan bahwa pola waktu kejadian tersebut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.

Menurutnya, kejadian kebakaran sebelumnya juga menunjukkan kecenderungan serupa, yakni muncul pada waktu dan Lokasi yang relative sama, kembali terjadi di wilayah yang sama.

"Memang terbukti, tapi ini masih dalam asas praduga tak bersalah. Dari struktur waktu, kejadian yang kemarin juga hampir sama, terjadi pada jam-jam tertentu di titik yang berbeda," ujarnya.

Titik Lama Kembali Terbakar
Selain pola waktu, Satgas juga mencermati bahwa lokasi munculnya api cenderung berulang pada kawasan yang sama.

Beberapa wilayah yang disebut menjadi titik berulang antara lain Yendidori, Kadaun Darfuar, Kelapa Satu, Sumberker, hingga Adainasnosen.

"Kalau bukan di Yendidori, pasti Kadaun. Kalau bukan Kadaun, pasti Kelapa Satu atau Sumberker. Kemudian kembali lagi ke Adain Nosen," ungkap Lot Yensenem.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai penyebab kebakaran yang terus berulang pada kawasan yang sama.

Apakah seluruh kejadian tersebut murni akibat faktor alam dan kondisi musim kering, atau terdapat faktor manusia yang secara sengaja memicu munculnya titik api, menjadi hal yang kini perlu dibuktikan melalui proses penyelidikan.

Polisi Telusuri Dugaan Keterlibatan Oknum
Satgas menyampaikan bahwa aparat kepolisian telah menerima sejumlah informasi terkait dugaan pihak-pihak yang mengetahui maupun terlibat dalam kejadian tersebut.

Namun, hingga saat ini proses hukum masih berjalan dan seluruh pihak tetap harus mengedepankan asas praduga tak bersalah.

"Ada oknum yang sudah dikantongi oleh pihak kepolisian. Tetapi untuk membuktikan keterlibatan seseorang tentu menjadi kewenangan aparat melalui proses penyidikan," jelasnya.

Menurutnya, salah satu tantangan dalam pengungkapan kasus karhutla adalah masih adanya masyarakat yang mengetahui informasi terkait kejadian, namun enggan memberikan keterangan karena alasan hubungan keluarga maupun kekerabatan.

"Kadang ada yang melihat, tetapi ketika ditanya, apalagi oleh polisi, tidak mau memberikan informasi karena faktor persaudaraan," kata Lot Yensenem.


Masyarakat Diminta Tidak Diam
Melihat pola kebakaran yang terus berulang, Ketua Satgas Lot Yensenem meminta masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut berperan dalam memberikan informasi apabila menemukan aktivitas mencurigakan.
Sebab, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mulai berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan Biak Numfor mencatat adanya peningkatan kasus gangguan kesehatan selama periode kabut asap, dengan 362 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat melalui sejumlah fasilitas kesehatan.
Selain itu, Dinas Lingkungan Hidup juga menemukan adanya peningkatan parameter kualitas udara di salah satu lokasi pemantauan.
Menunggu Pembuktian Hukum
Rangkaian kejadian karhutla di Biak Numfor kini menjadi perhatian berbagai pihak. Pola munculnya api di lokasi yang sama dan waktu yang hampir bersamaan menjadi catatan penting bagi aparat untuk melakukan penelusuran lebih mendalam.

Publik kini menunggu langkah lanjutan dari aparat penegak hukum untuk mengungkap apakah rangkaian kebakaran tersebut merupakan peristiwa yang terjadi secara alami akibat kondisi cuaca, atau terdapat tindakan manusia yang menyebabkan kebakaran terjadi berulang.

Yang jelas, apabila terbukti ada unsur kesengajaan, tindakan tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat dan keselamatan banyak pihak. (*).

Editor : Lucky Ireeuw
BIAK karhutla