Aksi Demo Jika Tidak Terhormat, Bagaimana Mau Dihormati?

JAYAPURA-Penjabat Wali Kota Jayapura, Dr Frans Pekey, M.Si., mengakui bahwa aksi demo yang terjadi Selasa (20/9), memang membuat aktivitas masyarakat di Kota Jayapura cukup sepi dan terganggu. Karena biasanya jalan ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, sejak pagi hari jalan terlihat lengang.

Selain itu, tidak sedikit pelaku usaha mulai dari batas kota di Waena, Abepura hingga Entrop, lebih memilih menutup tempat usahanya.
Terkait aksi demo ini, Frans Pekey berharap kondisi Kota Jayapura tetap aman, nyaman dan damai. Dirinya berharap aksi demo harus tetap terkendali dengan baik sesuai jalurnya dan tetap saling menghormati antara pendemo dan aparat keamanan yang bertugas di lapangan.

Untuk itu, Frans Pekey, berharap masyarakat yang ikut aksi demo bisa mengontrol diri dengan tidak meakukan long march serta tetap ikuti aturan yang ada sesuai dengan yang telah disepakati dalam menyampaikan aspirasi.

“Sampaikan aspirasi dengan bijak dan terhormat maka pasti kamu akan dihormati, tapi jika dalam menyampaikan sudah tidak terhormat tidak sesuai jalur maka siapa mau menghargai kalian,”tegasnya.

Kata Frans Pekey, Kota Jayapura sebagai ibu kota Provinsi Papua diharapkan Kamtibmas tetap terjaga dengan baik. Bagi para pendemo yang dari luar Kota Jayapura sebaiknya tidak perlu ke Kota Jayapura karena akan semakin menambah potensi hal -hal yang tidak diinginkan.

Terkait aksi demo ini, sebagai Penjabat Wali Kota Jayapura, Frans Pekey telah mengeluarkan aksi sikap Pemerintah Kota Jayapura. Ada delapan poin penting yang disampaikan yaitu pertama tidak melakukan aksi demo sesuai himbauan Kapolresta Jayapura Kota.

Kedua, seluruh warga Kota Jayapura turut serta bertanggung jawab menciptakan kota yang aman, damai dan kondusif sebagai rumah kita, istana kita dan honai kita bersama;
Ketiga, tidak mudah terprovokasi dengam beredarnya 2 selebaran yaitu ajakan demo dan ajakan siaga perlawanan jika aksi anarkhis karena akan merugikan kita semua;
Keempat tidak melakukan aksi long march atau pergerakan massa berjalan kaki di jalan raya karena akan mengganggu aktivitas pendidikan, ekonomi, pemerintahan, sosial masyarakat dan bahkan bisa provokatif yang berujung anarkis.

Kelima, tidak melakukan pergerakan massa dari luar Kota Jayapura, karena masyarakat Kota Jayapura cinta damai, penuh toleran dan hidup berdampingan dengan semangat satu hati membangun kota demi kemulian nama Tuhan.

Keenam, sampaikan aspirasi melalui jalur dan tempat yang tepat secara beradab dan humanis tanpa mengganggu orang lain.
Tujuh, jika aspirasi masyarakat yang berhubungan dengan tindakan hukum, maka serahkan melalui jalur hukum untuk membuktikan dan menegakkan keadilan dan kebenaran.
Drlpan, aparat keamanan menjamin keamanan dan kenyamanan bagi seluruh Warga masya Kota Jayapura , maka lakukan aktivitas seperti biasa.(dil/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *