Oknum TNI Pelaku Mutilasi Harus Dihukum Mati

Aliansi Pimpinan Dewan Cabang (PDC) Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Nduga (IPMN) Jayapura Saat Melakukan Aksi Demonstrasi di Lingkaran Abepura, jumat, (16/9).(Foto: Karel/Cepos

Tuntutan Pendemo, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga di Jayapura

Pendemo: “Kasus Mutilasi Di Timika Sama Persis Dengan Kasus Pembunuhan Brigadir Josua,”

JAYAPURA-Aliansi Pimpinan Dewan Cabang (PDC) Ikatan Pelajar dan Mahasiswa/Mahasiswi Nduga (IPMN) Jayapura, kembali melakukan aksi demontrasi di lingkaran Abepura, Jumat, (16/9). Rencana aksi yang rencananya dimulai jam 08.00 WIT ternyata diundur hingga siang hari sekira jam 11.25 WIT.

Peserta aksi mulai turun ke jalan tepatnya di lingkaran Abepura. Masing masing peserta aksi membawa Pamflet yang diantaranya bertulis “Anggota TNI adalah watak predator yang melakukan pembunuhan dengan cara mutilasi di Timika dan Nduga, Kami minta kepada Kapolda Papua segera tindak oknum TNI yang melakukan pembunuhan terhadap warga sipil di Nduga dan Timika. Panglima TNI segera mengaku diri sebagai pelaku pembunuhan 4 (empat) warga sipil di Timika dan beberapa pamflet lainnya.

Adapun tuntutan yang mereka layangkan secara tertulis, yang ditandatangani oleh, Agus Kosai selaku ketua umum peserta aksi menyatakan bahwa Aliansi IPMN meminta kepada Panglima TNI dan penegak hukum, agar penyelesaian kasus mutilasi yang dilakukan oleh oknum TNI di Timika harus dihukum mati. Hal ini agar rasa keadilan dari pihak keluarga korban maupun rakyat Papua terpenuhi.

Aliansi IPMN juga mengungkapkan persoalan keji dan tidak berprikemanusiaan yang dilakukan oleh oknum TNI di Timika merupakan pintu masuk membuka tabir kejahatan di tanah Papua yang selama ini di biarkan tanpa proses hukum.

“Kami bersama rakyat Papua menyatakan bahwa pembunuhan dengan cara mutilasi oleh oknum TNI berkonsiprasi dengan warga sipil yang dilakukan pada agustus lalu merupakan bentuk penghinaan terhadap nilai dan martabat kemanusiaan bagi orang asli Papua,” ujar Agus Kosai dalam surat tuntannya.

Selain tuntutan secara tertulis mereka juga meminta melalui orasinya agar Persiden selaku Panglima tertinggi negara republik Indonesia segera membentuk tim khusus untuk menutas kasus pembunuhan mutilasi di Timika.

“Negara tidak bisa tinggal diam atas persoalan yang terjadi di Papua, Kami harap presiden harus membentuk tim untuk mengusut tuntas kasu mutilasi Timika, karena apa yang mereka lakukan sangat tidak manusiawi,” ujar orator aksi.

Orator aksi menambahkan kasus mutilasi di Timika sama persis seperti kasus pembunuhan terhadap Brigadir Josua oleh Ferdi Sambo, maka untuk itu mereka minta negara harus membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas kasus mutilasi di Timika.

“Kami minta agar (Presiden) Jokowi segera membentuk tim khusus untuk mengusut tuntas kasua mutilasi di Timika, karena kasus ini sama seperti kasus pembunuhan terhadap Brigadir Josua. Kalau negara tidak bisa selesaikan kasus Timika maka, kasih peluru kepada kami biar kami merdeka,” tegas Orator Aksi.

Diapun mengungkapkan selama puluhan tahun orang Papua dibungkam atas sikap predator oknum TNI, namun menyikapi persoalan ini, negara seakan menutup mata dan telinga.

“Jika tidak ada pengadilan yang menelesaikan perosalan pembunuhan di Papua, maka langkah terakhir yang harus diselesaikan adalah Papua harus merdeka,” katanya. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *