SKPKC Fransiskan Papua: Bangkitkan Jiwa Menulis pada Orang Muda Papua

Peserta mengikuti dengan serius penyampaian materi pada pelatihan menulis yang diselenggarakan SKPKC Fransiskan Papua.

JAYAPURA – Sekretariat Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua, menyelenggarakan pelatihan menulis untuk orang muda Papua bertema “Tentang Situasi Kita di Tanah Papua” di Kantor SKPKC Fransiskan Papua, Sentani, Jayapura, pada 23-26 Agustus 2022.
Direktur SKPKC Fransiskan Papua, Yuliana Langowuyo menjelaskan bahwa program pelatihan ini diselenggarakan setiap tahun dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan menulis kepada orang-orang muda Papua. “Training-training ini menjadi bagian SKPKC untuk meningkatkan kapasitas bagi komunitas akar rumput, seperti para aktivis kemanusiaan, mahasiswa, dan orang muda Papua,” kata Yuliana.
“Kegiatan pelatihan menulis kali ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan informasi tentang situasi di Papua, khususnya masalah pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini penting demi mewujudkan misi SKPKC: kedamaian, kebebasan dan keutuhan seluruh ciptaan di segala aspek kehidupan”, kata Yuliana, saat diwawancarai pada Kamis, 25 Agustus 2022.

Peserta, pemateri dan penyelenggara pelatihan menulis foto bersama.

Bagi SKPKC FP, lembaga yang bekerja untuk hak asasi manusia di Tanah Papua ini, memberikan kepedulian kepada generasi muda Papua, melalui kerja-kerja nyata yang dilakukan bersama melalui aktivitas dokumentasi dan publikasi. Dalam berbagai kejadian, SKPKC FP, sering menerima informasi yang kurang akurat dan jauh dari fakta sebebenarnya, sehingga, pelatihan menulis ini untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan yang baik di bidang jurnalisme dan penulisan.
“SKPKC menemukan tantangan-tantangan dalam mendapatkan informasi yang kurang akurat dari berbagai peristiwa yang terjadi di Tanah Papua, seperti pengungsian yang terjadi di Nduga, Pegunungan Bintang, Maybrat; demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan para aktivis, kejadian pembunuhan serta peristiwa ketidakadilan lainnya. Padahal, informasi tersebut sangat penting dan harus mendapat perhatian khusus,” tutur Yuliana lagi.
Yuliana menegaskan kemampuan menyuarakan masalah Papua tidak cukup secara lisan, namun juga secara tertulis agar bisa dipertanggungjawabkan informasinya. Data dan fakta yang disampaikan bukan hanya mencapai kebenaran informasi, melainkan juga untuk membangun kepercayaan kepada masyarakat. “Ini merupakan bentuk perhatian dan kontribusi terhadap kaum muda Papua dalam meningkatkan literasi dan pencegahan penyebaran berita hoax, sehingga informasi yang dapat disampaikan sesuai fakta yang terjadi,” kata Yuliana.
Pada pelatihan menulis angkatan ke-5 ini dilakukan secara tatap muka, yang menghadirkan dua pemateri dari kalangan profesional di bidang jurnalisme, Basilius Triharyanto – penulis dan editor yang juga banyak terlibat dalam publikasi Memoria Passionis, laporan tahunan SKPKC FP tentang situasi hak asasi manusia di Papua, dan Lucky Ireeuw, seorang jurnalis, pemimpin redaksi harian Cenderawasih Pos dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jayapura.
Para pemateri secara bergantian dalam 10 sesi memberikan materi jurnalisme tingkat dasar, seperti elemen-elemen jurnalisme dan penulisan berita. Kedua pemateri tersebut menekankan pentingnya akurasi dalam penulisan dan memperhatikan tanggungjawab berita dengan memperhatikan nilai-nilai jurnalisme dan etika dalam proses jurnalistik.
Basilius Triharyanto, dalam wawancara usai memberikan materi, mengatakan bahwa setiap peserta diharapkan belajar menulis terus-menerus dan membiasakan dengan membaca dan menulis. “Belajarlah terus dari kesalahan dan pasti suatu saat dari antara kalian akan ada penulis-penulis hebat yang akan menulis berita, bahkan menulis buku tentang kemanusiaan di Papua”, kata Basilius.


Sementara Lucky, ketika memaparkan materi, menekankan pentingnya semangat dan kemauan orang-orang muda Papua, khususnya peserta pelatihan, untuk belajar dan bekerja keras agar bisa menyuarakan situasi-situasi ataupun informasi yang terjadi di Papua secara akurat dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Kitong orang Papua ini harus bisa menulis, orang luar bisa menulis tentang kita baru kenapa kita tra bisa tulis kitong pu persoalan sendiri”, tegas Lucky.
Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 15 orang muda Papua, sebagian besar sedang studi di Jayapura. Model pelatihan ini banyak melakukan praktik menulis. Meski, sebagian besar baru pertama kali menjadi peserta, mereka merespons kegiatan dengan antusias.
“Ini merupakan pengalaman pertama saya, setelah teori, langsung disuruh buat artikel maksimal 500 kata. Rasanya sulit karena saat berpikir lalu apa yang mau dituliskan, ini mulainya dari mana, lanjutannya bagaimana, dan berakhir seperti apa”, kata Selvi, salah satu peserta, usai pelatihan.
Sementara itu Yanuarius merasa senang bisa memanfaatkan pelatihan ini. Sebagai mahasiswa, ia bisa menyuarakan masalah kemanusiaan, kedamaian, dan kebebasan. “Saya pikir ada hal-hal yang kurang, mesti saya menambah, dalam hal ini tentang bagaimana menggunakan sistematika penulisan yang benar dan tepat,” katanya.
Peserta lain, Sisilia Elopere, menyampaikan hal senada. Ia merasa tertantang dengan kelas menulis, karena baginya ini pengalaman baru. Ia optimis sesudah pelatihan ini, ia bersama kawan-kawan peserta bisa aktif dalam kegiatan menulis. “Ilmu yang kami dapat dalam pelatihan menulis ini dapat dipergunakan sesuai dengan kebutuhan, paling kurang memberikan informasi secara akurat,” tutur Sisilia. (Yanuarius Elopere/Selviyane Brumen/luc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *