Sentuh Anak Usia Dini Bijak dengan Plastik Sekali Pakai

Suasana penyampaian materi soal lingkungan terkait penggunaan sampah sekali pakai yang dilakukan Rumah Bakau Jayapura dan EcoDefender di SMP 14 Koya Koso, Kamis (14/7). (Ikbal For Cepos)

JAYAPURA-Upaya kelompok peduli lingkungan di Jayapura untuk edukasi soal isu lingkungan terus dilakukan. Satu yang terakhir adalah dengan memberikan sosialisasi dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP 14 Koya Koso. Di sini kelompok yang terdiri dari Rumah Bakau Jayapura dan EcoDefender Jayapura mengenalkan kepada puluhan peserta didik soal dampak dari penggunaan plastic sekali pakai.

  Materi yang disampaikan mulai dari asal muasal plastik kemudian tujuan hadirnya plastik dan akhirnya dampak buruk bagi manusia. Selain itu para peserta didik juga dijelaskan soal masa urai sampah serta solusi yang bisa digunakan.

  “Awalnya untuk mengurangi penggunaan kertas kantong belanja yang diambil dari serat pohon. Ketika itu tahun 1862  plastik mulai diciptakan lewat selulosa, namun seiring waktu penggunaannya tidak bisa terkontrol, apa – apa semua plastik dan akhirnya berbalik menjadi ancaman,” jelas Jamina dari EcoDefender  saat memberikan materi Kamis (14/7).

   Ketergantungan manusia untuk barang yang mengandung plastik juga semakin meningkat sehingga tidak lagi mengenal batas. Padahal jika ini terus terbiar maka dikhawatirkan tahun 2050 jumlah plastik akan lebih banyak dibanding jumlah ikan.

  “Jadi kami coba menjelaskan dengan cara sedernana soal apa yang bisa dilakukan dengan kondisi yang ada saat ini, salah satunya adalah dengan tidak mengunakan botol sekali pakai yang diganti dengan tumbler atau kantong kresek diganti dengan tote bag atau noken,” jelas Jamina.

   Pihak sekolah juga nampaknya merespon positif kegiatan ini dan menganggap bahwa penyadartahuan seperti ini penting untuk dilakukan agar ke depan anak –anak peserta didik bisa memulai dari diri sendiri. “Kami sengaja mengundang teman – teman dari komunitas untuk menjelaskan isu kekinian dan kami melihat ada komitmen bersama yang tumbuh,” jelas Adjie, salah satu guru pendamping.

   Muhammad Ikbal dari Rumah Bakau juga menyampaikan terkait bagaimana  bersikap terkait ancaman sampah plastic. Memulai dari hal kecil semisal menggunakan tumbler itu sudah baik. “Kami juga menjelaskan soal perusahaan penghasil sampah terbesar di dunia yang diantaranya adalah The Coca Cola Company, Pepsico, Unilever, Nestle dan Danone. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *