Ketakutan, Warga Nusantara dan Pesisir Tinggalkan Kobakma

Warga nusantara dan pesisir di Distrik Kobakma Kabupaten Mamberamo Tengah yang keluar dari Kobakma menggunakan mobil pada Jumat (8/7) pekan kemarin. (Helda For Cepos)

Lima ratusan warga yang tergabung dalam Forum Peduli RHP saat menggelar aksi demo di Mapolres Mamberamo Tengah, Sabtu (9/7). (Istimewa)

Sejumlah warga yang tergabung dalam Forum Peduli RHP saat memasang kayu palang di salah satu ruas jalan di Kobakma, Sabtu (9/7). (Istimewa)

JAYAPURA-Informasi yang beredar di tengah masyarakat yang tinggal di Kobakma, ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah soal adanya rencana aksi massa yang diduga terkait status pemeriksaan Bupati Mamberamo Tengah, Ricky Ham Pagawak, membuat warga nusantara maupun warga pesisir Papua di Kobakma mengungsi meninggalkan kota tersebut.

Warga mengaku ketakutan dan memilih mencari aman. Apalagi menurut informasi ada sejumlah kantor telah dipalang termasuk Mapolres Mamberamo Tengah. Warga memilih menggunakan jalur darat menuju, Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya.

“Iyaa kami dari Dinas Kesehatan sejak kemarin (9/7) sudah meninggalkan Kobakma. Ini semata-mata untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Mamberamo Tengah, Helda Wally melalui ponselnya, Minggu (10/7).

Helda Wally dan pegawai Dinkes Mamberamo Tengah termasuk tenaga kesehatan lainnya kini berada di Wamena.

Dikatakan beberapa hari terakhir muncul informasi termasuk pesan singkat soal akan adanya aksi massa dan warga diminta berhati-hati.  Pesan ini rupanya sampai kepada keluarga pegawai yang tinggal di Jayapura dan sekitarnya kemudian meminta keluarga yang di Kobakma untuk mengungsi. “Banyak keluarga yang sarankan untuk sementara keluar dulu sampai situasi kembali normal,” tambah Helda.

Selain itu jika bercermin dari pengalaman yang sudah-sudah dimana menurut Helda jika terjadi kerusuhan terkadang para pelaku tidak bisa membedakan mana pihak yang bertikai dan mana petugas kesehatan. “Kita tahu pernah beberapa kali petugas kesehatan menjadi korban kalau sudah terjadi keributan. Jadi kami pikir lebih baik keluar dulu,” tambah Helda.

Wanita yang hampir lima tahun menjabat di Kobakma ini menyampaikan bahwa saat keluar dari Kobakma, dirinya  dan rekan-rekannya sempat dicegat kelompok massa namun setelah dijelaskan akhirnya rombongan ini dibiarkan melanjutkan perjalanan. “Saya sempat melihat di belakang kami banyak mobil yang beriringan, jadi tidak hanya kami saja,” tambahnya.

Selain itu, Helda menyampaikan bahwa Polres Mamberamo Tengah juga sempat dipalang sehingga masyarakat terlihat semakin kebingungan. “Kalau Polres saja dipalang lalu kami minta perlindungan ke siapa. Kalau siang mungkin kami masih bisa mengamankan diri tapi kalau malam siapa yang tahu jika pelaku menganiaya atau melukai kami. Itu yang kami takutkan,” imbuhnya.

Seorang warga Kobakma bernama Yuli juga membenarkan soal banyaknya warga mengungsi. “Iyaa Kobakma mulai sepi,” singkatnya.

Dari informasi yang diperoleh Cenmderawasih Pos, warga nusantara dan pesisir Papua mengaku merasa berat meninggalkan Kobakma, namun karena situasi keamanan yang kurang kondusif sehingga mereka memilih untuk mengungsi.

Terkait hal ini Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal  menyampaikan bahwa situasi Kamtibmas di Kabupaten Mamberamo Tengah relatif aman dan kondusif pasca aksi penyampaian aspirasi oleh masyarakat Peduli RHP pada Sabtu (9/7) pekan kemarin.

Kamal menjelaskan bahwa aksi demo dilakukan oleh masyarakat Peduli RHP di halaman Mapolres Mamberamo Tengah dalam rangka menuntut jawaban penyampaian aspirasi menyikapi keputusan KPK-RI atas Penetapan Ricky Ham Pagawak sebagai tersangka atas kasus suap dan gratifikasi. “Penyampaian aspirasi dilakukan secara bergantian yang intinya menolak keputusan KPK RI atas penetapan RHP sebagai tersangka dalam kasus suap dan gratifikasi,” jelas Kamal.

Atas adanya seruan dari massa tersebut mengakibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar Kobakma Kabupaten Mamberamo Tengah memilih untuk mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya yang dianggap lebih aman.

“Tapi sampai saat ini Mamberamo Tengah aman dan kondusif meski perdagangan pasar dan pertokoan  serta semua perkantoran sementara dalam keadaan tutup,” tuturnya.

Ditambahkan AM Kamal bahwa saat ini personel gabungan TNI-Polri terus meningkatkan patroli di wilayah Kobakma. “Personel gabungan terus meningkatkan patroli dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap bersama-sama menjaga situasi Kamtibmas di Kabupaten Mamberamo tengah tetap aman dan kondusif serta tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tutup Kamal.

Sementara itu, sejumlah massa yang menamakan dirinya Forum Peduli RHP melakukan aksi pemalangan di seluruh perkantoran dan perdagangan di Kobakma, Sabtu (9/7).

Aksi pemalangan yang dilakukan ini karena massa yang berjumlah lima ratusan orang itu merasa kesal lantaran aspirasi mereka yang berupa 12 poin pernyataan sikap yang sudah diberikan di Mapolres Mamberamo Tengah pada tanggal 13 Juni lalu belum mendapat jawaban.

Dari informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos, massa melakukan pemalangan di perkantoran, ruas jalan dan juga Pasar

Kobakma. Sejumlah kios yang saat itu masih terbuka diperintahkan untuk segera menutup usaha mereka.

Setelah dari Mapolres Mamteng, massa kemudian bergerak menuju Kantor Bupati Mamberamo Tengah dan memalang jalan masuk ke kantor mega itu. Selanjutnya mereka bergerak menuju Pasar Kobakma yang selama ini menjadi roda pergerakan ekonomi di Kobakma dan massa kembali melakukan aksi yang sama, dengan menutup jalan masuk ke dalam areal pasar dengan menggunakan balok kayu dan kursi.

“Kami minta kepada seluruh pemilik kios untuk tidak boleh berjualan di sini dan pasar yang buka hanya mereka yang orang asli saja. Kaum nusantara tidak boleh masuk dan berjualan lagi di sini. Silakan keluar dari Kota Kobakma,”teriak massa.

Sementara itu Koordinator Lapangan Forum Peduli RHP, Hengky D Jikwa kepada wartawan menjelaskan bahwa aksi pemalangan yang mereka lakukan ini setelah menggelar aksi di Polres Mamteng. Dikarenakan pada saat aksi pertama tanggal 13 Juni sampai mereka kembali menggelar demo tidak mendapatkan respon yang sudah satu bulan. “Akhirnya massa yang ada ini melakukan aksi palang di sejumlah obyek penting yang ada di ibukota kabupaten ini karena pernyataan kami belum dijawab. Seluruh ASN nusantara di Mamberamo Tengah kami pulangkan. Tidak boleh ada aktivitas dulu,”tegas Hengky yang didampingi Marmin Jikwa.

Selain itu massa juga menegaskan akan menunggu Kapolres Mamteng, Kapolda Papua dan juga Penyidik KPK untuk datang ke Mamberamo Tengah dan membuka palang di sejumlah obyek yang dipalang. “Kami tetap akan melakukan aksi ini dan tetap menutup palang sampai ada pemulihan nama baik Bupati Ricky Ham Pagawak,”tegasnya.

Massa melihat ada yang janggal dengan kasus Bupati RHP ini. “Hukum sudah jelas. Tetapi kami tahu penetapan kasus tersangka oleh Pak RHP ini adalah politik dan ini sudah sangat jelas. Untuk itu kami meminta segera datang ke Mamberamo Tengah untuk memberikan jawaban,”tutupnya.(ade/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *