Di Papua Dipastikan masih Aman dari PMK

Tampak pemotongan sapi hewan kurban di Masjid Al Askar Bucend II Entrop, Minggu (10/7) kemarin, dengan menggunakan alat perebah sapi, dan butuh kerja keras karena baru kali pertama menggunakan alat ini. (Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Papua I Nyoman Polos mengatakan, untuk hewan sapi di Papua hingga saat ini masih aman atau terbebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), karena sapi tidak didatangkan dari luar Papua sehingga sangat minim sekali terdampak penyebaran PMK.

    Nyoman menjelaskan penyakit mulut dan kuku di Indonesia yang terkena baru 21 provinsi, sedangkan data terakhir Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI untuk Papua statusnya masih hijau, bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK).

  Walaupun demikian, dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban pihaknya tetap melakukan pengawasan, pemeriksaan di 11 kabupaten kota di papua, mulai dari tempat tempat pemeliharaan ternak.

  Sehari sebelum dilakukan pemotongan, telah dilakukan pemeriksaan juga untuk kesehatan hewan kurban. Dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, petugas juga sudah diturunkan untuk memeriksa post mortem atau setelah penyembelihan diperiksa kepala, kaki dan organ dalam.

   “Kami dari Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Papua bekerjasama dengan perhimpunan dokter hewan Indonesia Papua dapat bantuan Sekretaris Daerah Provinsi Papua untuk melaksanakan pemeriksaan hewan kurban, nanti hewan kurban ini betul- betul sehat untuk dipotong kemudian dagingnya aman dan layak untuk dikonsumsi,”ucapnya.

   Diakui, pihaknya belum menerima laporan adanya masalah terhadap sapi yang telah disembelih khususnya untuk organ dalam, jika memang ada organ dalam yang ada cacingnya (cacing hati, cacing lambung) tentu saja tidak boleh dikonsumsi palingan hanya dimusnahkan sebagian. Di Papua sampai saat ini belum ada penyakit hewan, khususnya yang  menular ke manusia baik itu antraks dan lainnya, sehingga hewan kurban rata-rata yang dipotong sehat dari penyakit yang muncul dari daging.

   Diakui, untuk sapi hewan kurban sendiri didatangkan dari Papua yang berasal dari Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan paling kurang sapi kurban ada di imika lalu timika ambilkan dari Merauke.

   Menurutnya, secara stok populasi sapi yang dipotong selama ini tidak ada masalah karena stok aman sudah bisa memenuhi kebutuhan daging sapi masyarakat. Untuk SDM yang turun di 11 kabupaten dalam penanganan pelaksanaan hewan kurban sebanyak 76 dokter hewan, untuk Kota Jayapura  30 dokter hewan, Kabupaten Jayapura 5 dokter hewan, Keerom 5 dokter hewan kemudian Mimika, Merauke, Biak, Nabire masing-masing 7 dokter hewan, Sarmi 1 dokter hewan, Yapen 1 dokter hewan, Boven Digoel 2 dokter hewan dan Jayawijaya 2 dokter hewan. (dil/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *