Kurikulum Merdeka Belajar, Guru Tidak Boleh Apatis

Kegiatan pelatihan guru Pendidikan Agama Kristen di Hotel Horex Sentani, Selasa (21/6). (Robert Mboik Cepos)

SENTANI– Sebagai upaya persiapan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan Kurikulum Merdeka belajar yang berlaku di seluruh Republik Indonesia, seluruh guru pendidikan Agama Kristen dari jenjang SD sampai SMA di Kabupaten Jayapura mengikuti kegiatan pembinaan peningkatan kompetensi guru Agama Kristen di tingkat Kabupaten Jayapura, tempatnya di Hotel Horex Sentani, Selasa (21/6).
Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jayapura, Edi Abdul Kholik mengatakan, dengan kurikulum merdeka belajar yang baru mulai diterapkan di seluruh lembaga pendidikan yang ada di Indonesia termasuk Kabupaten Jayapura, maka seluruh guru dituntut siap dan tidak boleh apatis atau santai.
”Kita tidak boleh masa bodoh, tidak boleh santai. Ini bukan seperti kurikulum yang lalu-lalu. Guru dituntut untuk mempersiapkan kompetensinya,”ujar Edi Abdul Kholik kepada wartawan di sela-sela kegiatannya, Selasa (21/6).
Salah satu upaya yang harus dilakukan guru dalam mendidik anak adalah bagaimana memberikan pendidikan ke anak, terutama dalam merubah karakter anak dengan pendekatan agama, karena anak-anak harus dipersiapkan tidak saja akademik, tetapi secara karakter juga harus dibentuk sejak di bangku sekolah. “Disitulah bapak ibu guru dituntut untuk bisa merubah karakter anak,”ujarnya.
Menurutnya, merubah karakter anak tidak semudah membalikkan telapak tangan. Merubah karakter ini perlu pendekatan guru dari hati ke hati dengan siswa atau peserta didik yang bersangkutan. Di situlah peran pendidikan agama itu.
Lanjutnya, pendidikan karakter anak itu harus dimulai dari awal, supaya mereka benar-benar berubah. Percaya atau tidak apa yang dilakukan oleh guru itu akan ditiru oleh anak didik. Karena itu, setiap guru harus mampu menempatkan diri. Misalnya bagaimana guru saat ada di depan siswa, mengajar dan bagaimana guru saat berada di tengah keluarga. Di sini yang paling penting adalah bagaimana guru mampu menempatkan diri. Paling tidak, anak-anak didik bisa memberikan contoh keteladanan bagi orang lain.
“Disinilah perlu adanya peningkatan kompetensi, termasuk para guru bisa memanfaatkan teknologi yang ada seperti HP dan lain sebagainya misalnya dengan membuat konten-konten yang membangun,”tandasnya.(roy/ary)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *