Jangan Ada Lagi Kekerasan Terhadap Nakes

dr.Andreas Pekey, Sp.PD. (Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Kekerasan terhadap Tenaga Kesehatan (Nakes) di rumah sakit ataupun tempat fasilitas kesehatan di Papua, masih sering terjadi, termasuk di Kota Jayapura. Untuk itu, diharapkan masyarakat tidak membiasakan budaya kekerasan terhadap Nakes.

  Wadir Yanmed RSUD Jayapura dr.Andreas Pekey, Sp.PD mengakui bahwa di RSUD Jayapura sebagai rumah sakit rujukan di Papua, juga masih ada sering ditemui kasus berulang kaliterjadi kekerasan terhadap Nakes.

  “Saya berharap kepada masyarakat untuk tidak membiasakan atau membudayakan kekerasan terhadap Nakes, karena masyarakat ada yang  tidak tahu atau tidak memahami dunia kerja yang dilakukan oleh para Nakes,” ungkap dr.Andreas Pekey, Sp.PD, saat dikonfirmasi  Cenderawasih Pos, Minggu(12/6) kemarin.

  Menurutnya, di saat orang lain sedang tidur atau istirahat,  para Nakes itu  tetap berjaga  1×24 jam.”Yang lain kantornya dikunci dan berlibur, Nakes 1×24 melakukan pelayanan di UGD tempat perawatan. Yang lain merayakan hari besar keagamaan Nakes tetap kerja,” bebernya.

  Karena itu, kalau memang ada Nakes salah, ada kekurangan dalam melayani silahkan disampaikan kepada pimpinannya, supaya menjadi bahan evaluasi terhadap Nakes itu dan evaluasi terhadap pelayanan itu.

   dr. Andreas Pekey mencontohkan kerja sebagai Nakes  itu lain dari pada yang lain, Nakes bekerja pada subuh melakukan operasi dan pulang kerja pagi, kemudian ada pasien yang harus dioperasi maka ditelepon lagi untuk operasi, Nakes tetap datang untuk melakukan operasi.Jadi dunia hidup Nakes beda dengan kantor lain.

   “Kantor lain datang pagi lalu sore pulang bisa tidur malam, pagi kembali kerja lagi, tapi di dunia Nakes tidak bisa, Nakes sudah enak di rumah tiba-tiba ada operasi tetap datang lagi hanya untuk membantu orang untuk operasi dan soal pasien meninggal atau tidak Tuhan punya haknya bukan manusia,”tegasnya.

   Kata dr Andreas Pekey, tugas Nakes memberikan pelayanan kesehatan manusia secara optimal tidak hanya fisik, tapi juga psikis. Sebab, di RS ada kesedihan, kegembiraan, kedukaan. Seperti orang sakit dirawat di rumah sakit, ia sembuhkan bisa pulang dan sehat pasien dan keluarga pasti senang, ada pasien melahirkan dengan selamat, keluarga senang dan gembira, ada pasien meninggal  di rumah sakit, pasti keluarga banyak yang sedih termasuk Nakes di rumah sakit.

  “Nakes menghadapi semua itu, kita tidak berhadapan dengan buku, kertas pelayanan bisa ditunda, tapi kalau pasien sudah datang ke RS saat itu juga langsung ditolong,”ungkapnya.

   “Saya harap publik bisa paham Nakes bekerja 1×24 jam, bahkan di saat pandemi Covid-19 mereka harus maju melawan semua risiko, sehingga saya berharap publik untuk tidak membiasakan diri melakukan kekerasan terhadap Nakes. Karena kita sekarang akan mulai mencatat keluarga mana yang suka membikin kekerasan terhadap Nakes, kita bisa tidak layani silahkan minta pelayanan di Rumah Sakit lain,”tegasnya.(dil/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *