Jayapura Bergerak Ajak Pemuda Berani Bicara Lingkungan

Para kelompok muda peduli lingkungan di Jayapura melakukan street campaign memperingati hari lingkungan hidup yang diperingati setiap 5 Juni. Aksi yang dilakukan di Jembatan Youtefa ini menyuarakan soal  iklim dan menjadikan bumi layak huni. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA – Hari Lingkungan Hidup pada 5 Juni 2022  menjadi moment bagi para kelompok muda untuk ikut bersuara  menyampaikan isu-isu terkini terkait kondisi lingkungan di sekitarnya. Ini ditunjukkan beberapa pemuda di Jayapura yang mengekspresikan pendapat mereka di Jembatan Yotefa dengan melakukan street campaign Minggu (5/6). Isu yang disuarakan oleh beberapa anak muda dari Eco Defender dan Rumah Bakau Jayapura ini menyinggung soal perubahan iklim yang berdampak pada kehidupan mahluk hidup saat ini.

   “Ada banyak kebijakan yang perlu dikritisi oleh kaum millennial mulai usia 24 hingga 39 tahun yang kini mendominasi 270 juta penduduk Indonesia. Kita tidak bisa diam melihat kondisi iklim yang terus berubah ke arah yang lebih buruk,” kata Bertho dari Eco Defender.

   Ia menyatakan bahwa anak muda juga perlu lebih peka dengan terjadinya perubahan – perubahan di lingkungan sekitar maupun di daerahnya. “Jangan diam, sebab perubahan itu terus terjadi. Jangan semuanya menjadi lebih parah baru satu persatu muncul. Itu terlambat,”singgungnya.

  Selain itu pihaknya juga menagih janji pemerintah pada COP26 di Glaslow lalu yang menyatakan siap berpartisipasi untuk menekan terjadinya perubahan iklim. Persoalan penurunan emisi gas rumah kaca juga seharusnya tidak dipandang sebagai beban   melainkan sebuah keharusan dan kesempatan untuk ikut dalam penyelamatan isu iklim. Ini disampaikan Muhammad Ikbal dari Rumah Bakau Jayapura.

   “Kita harus akui bahwa suhu bumi di tahun 2015 hingga 2021 kemarin menjadi suhu terpanas dalam sejarah. Lalu suhu rata-rata global tahun 2021 telah mengalami kenaikan sekitar 1,09 derajat celcius di atas rata – rata tahun 1850 hingga tahun 1900,” beber Ikbal.

   Banjir, rob dan kenaikan suhu lebih panas menjadi kondisi menjadi hal yang sudah mulai sering terjadi belakangan ini. “Pemuda perlu berbicara, jangan biarkan pemerintah menjalankan kebijakannya atau  lupa dengan komitmennya. Konsentrasi pemerintah terkait penanganan covid juga jangan sampai melemahkan upaya untuk  menangani isu iklim. Kedua isu ini menjadi prioritas negara – negara maju namun ancaman perubahan iklim juga sudah memberi dampak  massive yang terjadi diseluruh belahan dunia. Papua merupakan benteng terakhir keanekaragaman hayati dan menjadi pendingin bagi bumi yang semakin panas. Kita jangan melupakan ini,” tutup Ikbal. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *