Sekolah Anak Hebat Ajari Peserta Didik Lebih Peka Lingkungan

Para peserta didik dari Sekolah Anak Hebat Papua bersama para guru mencari bibit mangrove di kawasan ekosistem mangrove di Hanyaan Entrop, Jumat (3/6) kemarin. (Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Sebanyak 120 peserta didik dari Paud dan SD Anak Hebat Papua di Entrop menggelar program Outdoor Education dengan menggandeng Rumah Bakau Jayapura. Disini seluruh anak didik diajari untuk mengenal tentang hutan bakau termasuk memungut sampah di sepanjang jalan menuju lokasi hutan bakau. Jayapura memiliki kawasan ekosistem mangrove yang patut dijaga dan dilestarikan dan pemahaman pentingnya fungsi mangrove ini perlu ditanamkan sejak dini.

   “Ini bagian dari pendidikan di luar ruangan dan kami mengajak anak – anak untuk bersentuhan langsung dengan dunia luar agar menumbuhkan kepekaan terhadap isu – isu lingkungan,” ujar Kepala SD Anak Hebat Papua, Amelia Clarence Ohee S.Pd., B.Ed usai kegiatan, Jumat (3/6).    

   Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Sekolah PAUD Anak Hebat, Yolanny Worang S.Pd dan para orang tua murid. Yang dilakukan  para peserta didik dimulai dengan  berjalan kaki sambil memungut sampah kemudian mencari bibit mangrove lalu  melakukan penyemaian.

   “Kami coba mengajari bagaimana melakukan sebuah kegiatan nyata di lapangan yaitu penanaman. Harapan kami anak – anak bisa mencintai lingkungan,  bertanggungjawab atas sampah mereka termasuk tidak membuang sampah ke laut agar habitat yang ada di pesisir terlebih kawasan hutan mangrove bisa terjaga dan tumbuh secara normal,”ujar Amelia.

   Selain itu dikatakan para peserta didik bisa belajar langsung soal tumbuhan mangrove dan bagaimana cara menanamnya. “Kami senang bisa mendengarkan cerita soal  apa dan bagaimana fungsi mangrove dan ini menjadi pengalaman bagi murid – murid kami,” beber Amel.

   Sementara Ronie Stanley dari Rumah Bakau menyebut bahwa mangrove menjadi benteng terbaik yang terbentuk secara alami untuk menahan abrasi. Hanya saja saat ini keberadaan mangrove juga terancam seriring tingginya tekanan pembangunan.

   “Banyak kawasan yang ditimbun. Kami khawatir jika terus terjadi maka ada kondisi pesisir yang tak biasa yang akan terjadi,” bebernya.

  Terkait 120 peserta didik yang belajar soal mengrove, kata Ronie  antusias anak – anak paud dan SD sangat tinggi. Sampai-sampai ada yang ingin berenang untuk mencari  bibit. “Tadi banyak yang basah, bukan karena jatuh tapi sengaja karena ingin berenang sambil mencari bibit. Kami senang dengan usia yang masih sangat belia mereka punya kepedulian seperti ini dan tadi  adik-adik ini berhasil mengumpulkan 140 bibit mangrove,” imbuhnya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *