Sempat Vakum, Distrik Musatfak Kembali Panen Padi

Asisten II Sekda Jayawijaya,  Lekius Yikwa, SPd, MM, didampingi Kepala Dinas Pertanian, Hendri Tetelepta saat melakukan panen padi di Distrik Musatfak, Kabupaten Jayawijaya, Kamis, (2/6), kemarin.  (Denny/ Cepos)

WAMENA—Perkembangan tanam padi di Kabupaten Jayawijaya telah berlangsung 39 tahun, tersebar di beberapa distrik seperti Musatfak, Asolokobal, Hubikiak.

Asisten II Sekda Jayawijaya, Lakius Yikwa, SPd, MM, mewakili bupati  melakukan panen raya padi milik kelompok tani Pumasili, Distrik Musatfak, Kamis, (2/6), kemarin.

“Saya memberikan apresiasi karena Musatfak merupakan daerah perdana persawahan di Kabupaten Jayawijaya sejak Tahun 1984, menjadi pioneer bagi penyebaran padi sawah di seluruh Kabupaten Jayawijaya, sempat vakum dan sudah dihidupkan kembali saat ini,”ungkapnya.

Ia menyatakan, proposal yang sudah disampaikan akan diteruskan kepada pimpinan.  “Untuk usulan lapangan kerja dari masyarakat, juga akan kami laporkan kepada pimpinan agar bisa diketahui,”katanya.

Ia juga berpesan kepada kepala distrik agar terus mendorong bidang pertanian dan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam panen tersebut, Asisten II juga menyerahkan bantuan dari pemerintah berupa sekop 20, parang 10, linggis 10, sabit 25, karung 50.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian, Hendri Tetelepta menyatakan, dari 40 distrik, baru ada 14 Badan Penyuluh Pertanian (BPP), salah satunya di Musatfak, penyuluh ASN hanya 35 orang yang harus bekerja di 328 kampung.  Sementara penyuluh dari kementerian menjadi persoalan karena tidak mau diatur oleh dinas.

“Ke depan saya mau distrik mengusulkan nama penyuluh untuk penetapan SK, pengganti almarhum Ruben Wilil, sebagai kepala dan penjaga BPP,” jelasnya.

Ia juga mengaku, pembangunan irigasi bukan kewenangan Dinas Pertanian, tapi usulan tersebut menjadi bahan masukan untuk nanti dikordinasikan ke Dinas PU.

​Sementara itu, Kketua Kelompok Tani Pumasili, Yohanis Wuka menyatakan, pihaknya merupakan perintis pembukaan lahan sawah yang masih hidup, dan hanya sisa berapa orang, juga masih ada anak-anak perintis yang menganggur dan hanya kerja di sawah, ini menjadi masukan kepada bupati untuk dibuatkan SK honorer kepada anak yang belum bekerja.

“Kendala yang kami hadapi adalah banjir. Hujan 1 malam saja mengakibatkan banjir, sampai ke sawah yang menimbulkan kerugian anggota kelompok, kami minta pembinaan kepada kelompok tani untuk pengolahan tanah, selain itu perlu pembuatan irigasi baru.” tutupnya. (jo/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *