Rehabilitasi Pasien, RSJ Abepura Butuh Dukungan 

JAYAPURA – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Abepura, merupakan RSJ satu-satunya di Papua tetapi hingga kini keberadaannya, kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Papua dan dukungan instansi terkait lainnya.

  Plt. Dirut RSJ Daerah Abepura, dr. Guy Yana Emmc Com. MPH menjelaskan, sampai dengan saat ini RSJ sudah memiliki 4 dokter spesialis yang lengkap, sementara kebutuhan dokter spesialis kejiwaan di Indonesia 1: 100.000.

  “Artinya kesiapan RSJ Daerah Abepura sudah lengkap, tetapi tidak mendapat perhatian dalam hal ini dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua maupun pihak-pihak terkait,” ungkap dr Guy kepada Cenderawasih Pos, Selasa (31/5).

Sebab, lanjut dr Guy Yana,  bicara soal kesehatan mental harus  melibatkan semua sektor didalamnya, baik itu Dinas Sosial, Gereja terlibat, lembaga-lembaga kemasyarakatan sampai dengan orang tua atau keluarga  harus terlibat.

   Diakuinya, yang menjadi persoalan di RSJ adalah tidak adanya pusat rehabilitasi, dimana para pasien yang mengalami gangguan kejiwaan sekaligus memiliki penyakit lain seperti HIV, bahkan yang pecandu narkoba, setelah diobati sembuh harusnya mereka ditampung di pusat rehabilitasi.

  “Karena mereka-mereka ini memerlukan penyesuaian, perlu diberikan keterampilan dan sebagainya, bahkan mental dari keluarga juga harus diperhatikan, agar ketika mereka keluar mereka bisa berbaur dengan lingkungan masyarakat untuk masa depan mereka, bukan dikucilkan dan akhirnya penyakit mereka kembali lagi,” tambahnya.

  Diakuinya, Pemerintah Provinsi Papua memang sudah ada rencana kedepannya untuk membangun RSJ yang lebih lengkap dengan pusat rehabilitasi di Koya Tengah, akan tetapi sampai dengan saat ini masih menunggu kemampuan keuangan daerah.

  “Kami ada rencana pemekaran ke Koya Tengah, untuk master plan, uji kelayakan sudah dilakukan oleh direktur RSJ sebelumnya, hanya untuk pembayaran tanah yang belum dilakukan,” terangnya.

   Dengan demikian, pihaknya tetap berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua untuk dapat membuat satu RSJ yang representatif, lengkap dengan pusat rehabilitasi. “Tentunya tidak bisa RSJ sendiri kalau sudah bicara tentang rehabilitasi, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, dan dinas-dinas terkait juga harus ikut terlibat didalamnya, agar pelayanan kita lebih profesional,” jepasnya lagi.

  Ia juga menjelaskan, bahwa dalam penanganan pasien yang terkena gangguan kejiwaan, bukan hanya berasal dari kabupaten/kota di Papua saja, tetapi juga dari Papua Barat, bahkan ada beberapa dari negara tetangga.

   Ditambahkan bahwa, Pemprov Papua Barat juga sudah menyiapkan satu bangsal untuk merawat pasien gangguan kejiwaan, tetapi sampai saat ini belum ada dokter, dokter masih sekolah. (ana/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *