Sagas Organik Raider 600/Modang Diingatkan Miliki Keberanian 

Satgas Organik Raider 600/Modang asal Kalimantan Timur saat tiba dan turun di Merauke dengan menggunakan KRI Tanjung Kambani 971 di Dermaga Pelabuhan Merauke, Sabtu, (28/5).    (Sulo/Cepos)

MERAUKE  Sebanyak 450 prajurit Satuan Tugas Organik Raider 600/Modang asal Kalimantan Timur, tiba di Dermaga Pelabuhan Umum Merauke dengan menggunakan KRI Tanjung Kambani 971, Sabtu (28/5).

Setelah tiba di Pelabuhan Umum Merauke, langsung dilakukan upacara penerimaan oleh  Danrem 174/Anim Ti Waninggap, Brigjen TNI E. Reza Pahlevi, SE. Danrem menjelaskan, Satgas Organik Raider 600/Modang yang didatangkan untuk membantu Kodam XVII/Cenderawasih dalam pengamanan di Papua ini dan akan ditempatkan di 4 kabupaten dengan 9 pos yang merupakan wilayah kerja dari Korem 174/ATW yakni Kabupaten Merauke, Mappi, Asmat dan Kabupaten Mimika.  Untuk Kabupaten Mimika, jelas dia, akan menempati 2 pos pengamanan. Karena itu, sebanyak 125 prajurit telah diturunkan di  Timika sebelum KRI Tanjung Kambani 971 itu menuju Merauke.  Sementara 325 prajurit lainnya akan menempati 7 pos di 3 kabupaten yakni Merauke, Mappi dan Asmat. Danrem menjelaskan, wilayah penugasan dari Satgas Organik Raider 600/Modang ini berada di daerah yang relatif aman. Meski begitu, ia mengingatkan seluruh prajurit untuk selalu disiplin dan tetap waspada, karena pada prinsipnya, kata dia,  dalam tugas operasi, tidak ada daerah aman tapi tetap kewaspadaan.  Tugas pokok yang dilakukan oleh Satgas Organik ini, lanjut Danrem adalah  melaksanakan kegiatan teritorial yakni dengan menonjolkan kegiatan teritorial dalam penugasan untuk membantu masyarakat yang tinggal cukup jauh di pedalaman atau perbatasan yang mungkin  pemerintah juga belum sentuh.

‘’Kita yang terdepan memberikan pemahaman  kepada masyarakat, membantu pendidikan, pertanian semuanya kita bantu,”katanya.  Danrem menjelaskan, satu kunci keberhasilan dalam mengemban tugas negara ini yaitu keberanian. Keberanian mencintai, melindungi dan menjunjung tinggi harkat dan martabat masyarakat Papua. (ulo/tho)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *