Penerima dosis penguat capai 41 juta jiwa penduduk Indonesia

Petugas memeriksa kesehatan warga sebelum mendapatkan suntikan dosis vaksin COVID-19 penguat (booster) jenis AstraZeneca di Gerai Vaksin Booster Pos Satlantas Polrestabes Semarang, Kawasan Simpang Lima Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/4/2022). ANTARA FOTO/Aji Styawan

Jakarta, 08/5 (ANTARA) – Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 melaporkan jumlah warga Indonesia yang telah menerima dosis ketiga atau penguat hingga Minggu mencapai 41 juta jiwa atau 19,69 persen dari total sasaran sebanyak 208.265.720 jiwa.

Data Satgas COVID-19 yang diterima di Jakarta Minggu, penduduk yang mendapatkan dua dosis vaksin COVID-19 bertambah 9.823 menjadi 165.641.991 orang.

Sedangkan penerima dosis pertama tidak ada penambahan, sehingga jumlah keseluruhan mencapai 199.346.528 orang.

Dengan demikian maka tercatat, suntikan dosis pertama vaksin COVID-19 sudah diberikan pada 95,71 persen dari total 208.265.720 warga yang menjadi sasaran vaksinasi COVID-19.

Sementara warga yang sudah menjalani dua dosis vaksin COVID-19 meliputi 79,53 persen dari total sasaran.

Sebelumnya, para pakar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (4/5) menekankan vaksin masih sangat efektif untuk melawan COVID-19, bahkan saat varian-varian baru dari penyakit tersebut muncul di Afrika Selatan dan Amerika Serikat.

Data WHO menunjukkan bahwa kasus COVID-19 di seluruh dunia secara bertahap menurun, dengan laporan kematian mingguan tercatat di level terendahnya sejak Maret 2020.

Namun demikian, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan dalam sebuah konferensi pers pada Rabu bahwa tren itu tidak menunjukkan cerita lengkapnya.

“Didorong oleh subvarian Omicron, kami melihat adanya kenaikan jumlah kasus yang dilaporkan di benua Amerika dan Afrika. Para ilmuwan Afrika Selatan yang mengidentifikasi Omicron pada akhir tahun lalu kini melaporkan dua subvarian Omicron lainnya, yakni BA.4 dan BA.5, sebagai penyebab dari lonjakan kasus di Afrika Selatan,” ujar dia.

“Masih terlalu dini untuk mengetahui apakah kedua subvarian tersebut dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada subvarian Omicron lainnya, tetapi data awal menunjukkan bahwa vaksinasi masih memberikan perlindungan dari penyakit parah dan kematian,” katanya.

Oleh : Zubi Mahrofi
Editor : Heru Dwi Suryatmojo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *